Kenapa Arif Kirdiat dan Kota Serang

Kemarin, sehabis kondangan di Cilegon saya dan keluarga main ke rumah dunia. Anak-anak memang suka main ke sana, terutama Ayal yang membenamkan diri berjam-jam di istana komik.

Saya sendiri terlibat obrolan ngalor ngidul bersama beberapa orang. Salah satu topik yang dibahas mendalam adalah tentang kepemimpinan politik di Banten, terutama di Kota Serang.

Saya sendiri memang memimpikan lahirnya pemimpin yang baik di Banten. Pemimpin yang tidak lahir dari kemampuan beriklan dan politik uang. Pemimpin yang popularitasnya lahir dari kontribusi nyata di masyarakat.

Muak saja rasanya jika di belahan lain Indonesia pemimpin memamerkan kinerjanya, berlomba memamerkan prestasi, tapi begitu keluar tol kota Serang, yang kita saksikan hanya pemimpin dan calon pemimpin yang memamerkan wajahnya belaka di baliho dan spanduk.

Membaca berita soal Banten, langka menemukan berita soal prestasi, tapi melulu soal korupsi. Lha apakah tak ada yang punya potensi jadi pemimpin yang baik, keren, santun, jujur dan sederhana?

Kelemahan mereka yang selama ini getol menyuarakan perubahan di Banten, pandangan anti korupsi atau anti dinasti adalah hanya pandai berkerumun dan menggerutu. Lihat saja hasil pilkada serentak tahun lalu. Calon dari berbagai dinasti memenangkan pilkada di empat kabupaten/kota. Dinasti dicaci dan dirindu. Dicaci para aktivis, namun dirindu oleh mereka yang terlibat langsung dalam dunia politik formal, seperti partai politik.

Nah, saatnya sebetulnya para penggerutu untuk terlibat langsung dalam dunia politik, bahasa kerennya: Terlibat dalam gerakan elektoral.

Jika berharap partai politik susah, maka kenapa tidak mencoba jalur independen? Jika bertarung di level Provinsi terlalu berat (biaya, energi, peluang, dll), kenapa tidak di level kabupaten/kota saja dahulu.

Karena itulah kemudian, muncul ide mendorong Arif Kirdiat sebagai calon independen Walikota di Kota Serang.

12112428_10207790399579290_225894522483691_n

Ada tiga hal yang mesti dijawab.

Pertama, kenapa Arief Kirdiat? Saya punya jawaban sederhana, karena kita tidak bisa memaksa Ridwan Kamil atau Bu Risma maju jadi pemimpin politik di Kota Serang. Tapi kita bisa mendorong orang yang punya potensi untuk menjadi pemimpin seperti Ridwan Kamil atau Bu Risma.

arif1

Arif sudah membuktikan kontribusinya bagi masyarakat luas, tanpa anggaran negara, maka tidak salah jika mempercayakan anggaran negara dipercaya oleh orang seperti Arif.

Jika ia bisa membangun puluhan jembatan di berbagai pelosok Banten bahkan Indonesia maka saya percaya ia bisa menyelesaikan bajir di Warung Pojok dan berbagai persoalan infrastruktur lain di Kota Serang.

warjok
Sumber: https://pasangmata.detik.com/contribution/72517

Jika beberapa waktu ini masyarakat kota serang resah dengan peredaran minuman keras, maka saya percaya Arif bisa menyelesaikannya karena ia bukan peminum miras bahkan cukup keras dalam isu ini.

Belakangan Arif bahkan sukses membela karyawati muslimah di Matahari Mall of Serang untuk bisa mengenakan jilbab ketika bekerja.

Arif punya nurani dan keberanian untuk bertindak. Bukankah orang seperti itu yang kita butuhkan?

Arif selalu berkelakar bahwa ia mendukung saya untuk jadi Walikota dan dia wakilnya. Tidak, ada perbedaan besar saya dan Arif. Sebagai akademisi, ketika ada sebuah persoalan, saya lebih tertarik menuliskannya dalam paper dan mengirimkannya ke jurnal. Nah sebagai seorang Aktivis sosial, ketika ada sebuah persoalan, Arif akan menyelesaikannya sekuat tenaga.

***

Kedua, kenapa Kota Serang?

Salah satu komentar di fesbuknya Mas Gol A Gong mengharapkan Arif untuk langsung saja maju jadi Gubernur Banten. Kalau saya mah, sekalian saja jadi Presiden Republik Indonesia.

Kota Serang memadai untuk mendorong keberhasilan upaya melahirkan pemimpin yang berkualitas. Luas wilayahnya tak terlalu besar, karakternya urban, jumlah penduduknya tak terlalu besar, masyarakat melek informasi. Karakternya tak berbeda jauh seperti Kota Bandung yang dipimpin oleh Ridwan Kamil atau Surabaya yang dipimpin oleh Risma. Energi dan biaya yang dikeluarkan tak terlalu besar, berbeda jika bertarung di tingkat Provinsi.

Tapi jika berhasil, dampaknya akan besar karena Kota Serang adalah Ibukota Provinsi Banten.

Lagipula kecenderungan mutakhir dalam perkembangan politik di Indonesia, pemimpin nasional lahir dari daerah. Ini merupakan perubahan dalam proses sirkulasi elit nasional belakangan ini.

Ketika bicara calon-calon pemimpin nasional sekarang semua bicara Walikota Bandung atau Walikota Surabaya. Bukankah Presiden kita hari ini adalah bekas Walikota Solo dan hanya sekitar dua tahun menjadi Gubernur Jakarta?

Ketiga, kenapa calon independen?

Dalam pilkada serentak terakhir di Banten, beberapa calon sukses memborong partai politik. Tak ada proses rekrutmen yang cukup fair dan transparan di partai politik. Belajar dari pengalaman inilah maka mendorong calon independen adalah jalan yang masuk akal.

Hal ini juga bisa jadi upaya untuk melihat seberapa kuat partisipasi masyarakat mendukung Arif Kirdiat dalam bentuk mengumpulkan KTPnya.

Bagaimana menurut anda?

Atau kita menjadi penggerutu saja?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s