Saya, Apa dan Kekuasaan

Salah satu ajaran almarhum Apa (panggilan untuk Bapak saya) adalah soal bagaimana memaknai jabatan atau kekuasaan.

Sewaktu masih hidup, selepas subuh berjamaah kami sering berbincang. Saya dipanggil dan Apa biasanya mulai mengajak diskusi. Sebetulnya lebih ke arah monolog, beliau menyampaikan berbagai hal yang ada dalam pikirannya.  Saya sendiri lebih banyak mendengarkan sambil terkantuk-kantuk.

Saya tak banyak merekam apa yang disampaikan. Ya pembicaraan kami ngalor ngidul soal politik, pendidikan, kehidupan sosial dan sebagainya.

Namun saya memang lebih banyak belajar dari sikap-sikap Apa dalam kehidupan sehari-hari, terlepas ada beberapa hal yang saya tak setujui.

Sekilas Apa memang keras, mamah bercerita bahwa Apa mempertahankan tanah yang sekarang kami tempati dengan menenteng-nenteng golok. Kalau tidak mungkin dikerjai penjual tanah, dipindah ke kapling yang lain.

Nah, soal beragama Apa juga keras. Ia mewajibkan kami untuk sholat berjamaah lima waktu, baik di rumah maupun mushola. Ada masa-masa, Apa selalu sholat subuh bersama kami di mushola dekat rumah. Biasanya Apa dipersilahkan menjadi Imam dan mengimami tanpa doa qunut. Belakangan ada seorang makmum yang selalu melakukan sujud sahwi ketika diimami oleh Apa.

Apa mengalah dan tak mau berkonflik, semenjak menyadari itu Ia memilih menjadi Imam subuh bagi keluarganya di mushola kecil kami di rumah.

Nah, bagaimana dengan kekuasaan?

Apa orang yang cenderung menghindari kekuasaan. Mamah bercerita bahwa Apa sebetulnya ditugaskan ke Kantor Departemen Agama di Bogor. Namun ia tak tahan dengan budaya Depag yang tak sesuai idealismenya dan memilih kembali menjadi guru di PGAN Cihideung Pandeglang. Alasan lainnya karena dikejar-kejar janda cantik di Bogor. Sementara Mamah memang mengajar di SMEP Pandeglang.

Apa memang akhirnya menjauh dari urusan kekuasaan. Ia memilih menyibukkan diri (hanya) mengajar dan berkebun.

Ini banyak membentuk sikap saya belakangan ini. Entah kenapa kekuasaan tidak banyak menarik hati saya. Jika dulu sewaktu muda semangat mengejar kekuasaan atas nama perubahan, sekarang saya lebih dingin menyaksikan kucing-kucing lapar berebut tulang. Menyaksikan mereka cakar-cakaran tak lagi membuat marah, tapi sedih. Bahkan ketika saya yang kena cakar.

 

 

 

 

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s