Masih Tentang Indonesianis

Tulisan saya soal bagaimana Indonesianis Jepang meneliti memicu diskusi seru. Maka sebagai bonus saya membikin tulisan kedua ini. Khususnya ditulis untuk Mbak (atau Teh) Beta Paramita, sahabat di dunia maya yang nggak pernah ketemu di dunia nyata. Pertanyaannya soal kacamata peneliti lokal dan interlokal asing, kelebihan dan kekurangan, dan alur berpikir.

Screenshot 2015-11-03 09.24.02

Ini pertanyaan sulit yang memakan banyak ruang kalau ditulis di fesbuk, jadi saya buat tulisan ini berdasarkan pengalaman. Siapa tahu dapet doorprize kopi desa 😉

***

Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan anak muda seusia saya (lebih muda setahun) asal Perancis. Dia kebingungan mencari kawan diskusi, juga mencari-cari hasil riset soal Banten. Singkat kata, kami berteman, dan dia menempati rumah singgah saya di Serang. Ia sedang meneliti pencak silat dengan kacamata antropologi. Ternyata ia tidak se-awam yang saya bayangkan. Ia adalah pendekar pencak silat, berguru ke banyak pendekar nusantara bertahun-tahun dan dekat dengan komunitas pencak silat.Di sela-sela waktu, ia mengajari saya beberapa gerakan penca. Dunia terbalik, orang banten diajari pencak silat sama orang perancis.

Dunia tambah terbalik ketika beberapa waktu kemudian ia mengajak saya ke Pamarayan, menghadiri acara keceran dan bertemu Guru Besar TTKDH yang tinggal di sana. Orang Banten dikenalkan ke guru besar pencak silat oleh orang Perancis. Gila bukan?

Saya kenal beberapa orang peneliti yang menulis tentang silat dan mereka tidak bisa pencak silat. Bagaimana bisa?

Beberapa waktu kemudian saya berkesempatan ke Perancis, eh ternyata Pembimbingnya kawan saya ini adalah pendiri Merpati Putih di Perancis sekaligus guru besar di salah satu kampus di Marseille.

****

Salah satu buku yang saya pakai untuk mengajar mata kuliah Pemerintahan Politik Desa di UI adalah Buku Negara dalam Desa, karangan Hans Antlov. Buku ini bukan buku yang ditulis dalam waktu singkat untuk mengejar angka kredit 😉 Ini adalah tulisan hasil pengamatan bertahun-tahun, tinggal bersama masyarakat sebuah desa di Jawa Barat. Bukunya mengalir lembut dan dalam tentang kehidupan masyarakat desa, dan bagaimana negara di masa orde baru menguasai desa. Ini buku terbaik tentang (sosial-politik-pemerintahan) desa di Indonesia masa orde baru.

***

Seorang kawan, Indonesianis-Jepang beberapa tahun lalu bercerita bahwa beberapa temannya terbunuh dalam sebuah bentrok antara tentara dengan teroris di Aceh. Ya, ia mengenal dekat beberapa orang yang tertembak. kawan saya ini juga setiap tahunnya menyempatkan diri untuk datang ke rumah Abu Bakar Baasyir, ia kenal dekat dengan anaknya. Tentu dalam hubungan peneliti dengan narasumber, tapi memiliki rapport yang amat baik.

Nah, kawan saya ini sedang sabbatical di Indonesia. Entah hal baru apa yang akan dia dapatkan.

***

Tahu kan sabbatical? Seorang dosen diberikan cuti panjang sekitar setahun, mendapatkan segala haknya dan dibebaskan dari tugas mengajar. Biasanya sabbatical dilakukan untuk melakukan penelitian atau menulis karya ilmiah.

Sistem sabbatical ini belum dipraktekkan di kampus-kampus di Indonesia (CMIIW) walaupun sejatinya dalam pasal 32 PP37 tentang Dosen sudah diatur.

Screenshot 2015-11-03 10.01.40

***
Seorang kawan berpendapat bahwa puncak prestasi akademik seorang dosen adalah ketika sedang studi doktor, terutama di luar negeri. Bukan apa-apa, tapi situasinya memang serba mendukung. Ada meja kerja, akses jurnal dan buku terbaru, waktu untuk membaca-menulis-meneliti, bahkan banyak kampus tempat studi membantu dana penelitian. Yang terpenting juga memiliki hubungan yang lebih stabil dengan dengan pembimbing (baca: pembimbing mudah ditemui karena punya ruangan dan jadwal yang jelas). Biasanya puncak produktivitas ya di masa ini, bisa publikasi beberapa jurnal internasional selama studi, juga menyelesaikan disertasi. Katanya, begitu pulang dan bersentuhan dengan persoalan-persoalan administrasi, politik kantor yang kejam tak punya hati, meja kerja ndak jelas, akses jurnal gak ada, ditambah sibuk ngamen disana-sini, perlahan-lahan secara drastis produktivitas menurun.

Yah tentu saja ada yang bertahan tetap produktif, tapi berapa banyak?

***

Balik ke persoalan kacamata, sudut pandang dan sebagainya, begini kira-kira jawabannya.

Peneliti asing biasanya berangkat dengan telinga dan mata terbuka. Ia memulai segala sesuatunya dengan keingintahuan dan ketidak tahuan. Jadi kalau ibarat garis start, ketika meneliti suatu hal, peneliti lokal jauh lebih dulu melampaui garis start.

Nah begitu waktu berjalan, si peneliti asing mulai membaca buku dan jurnal yang terkait, mewawancarai, mempelajari bahasa lokal, tinggal di lokasi berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan sebagainya-dan sebagainya. Biasanya dukungan sistem dan finansial juga memadai.

Nah peneliti lokal yang berlari lebih dulu kemudian sibuk dengan urusan-urusan administratif, mengerjakan berbagai proyek, mengajar, dan sebagainya-dan sebagainya. Dalam beberapa kasus banyak yang kelelahan mengejar-ngejar pencairan dan mengumpulkan kuitansi.

Ketika garis finish, akhir cerita bisa ditebak. Mana yang kemudian memproduksi lebih dalam dan lebih serius serta kemudian memiliki otoritas di satu kajian tersebut, tentu di dunia akademik internasional.

***

Tulisan ini berdasarkan pengalaman saja, tidak bermaksud memberi stereotype baik kepada peneliti asing dan lokal. Lebih kepada menasihati diri sendiri juga. Syukur-syukur dapet doorprize 🙂

Iklan

2 comments

  1. Menarik ya,,ah baru tahu ternyata dosen bisa cuti setahun untuk meneliti di luar negeri. Semoga bisa diberi ijin,,sebab peneliti lokal tidak akan bersinar tanpa kolaborasi dengan peneliti luar negeri. Minimnya fasilitas dan rendahnya akses ke jurnal ilmiah internasional berbobot membuat lengkap peneliti lokal hanya mampu mengulang penelitian luar yang sudah lama dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s