Arsip Bulanan: November 2015

Dosen-dosen (Terjebak) Administratif

Saya sedang di kampus dan kawan di sebelah saya — Fuad (Bukan nama sebenarnya) sedang menelepon mertuanya. Tidak, ini bukan soal warisan, ia menanyakan tanggal lahir mertuanya. Bukan untuk mengirim kado ulang tahun, tapi untuk mengisi Daftar Riwayat Hidup (DRH) yang musti diisi berbarengan dengan program e-PUPNS.

Berjam-jam dan berhari-hari dihabiskan untuk mencari berkas (dari ijazah SD sampai surat kawin), memfotocopy, mengisi isian online, isian tidak online, dan sebagainya. Pokoknya rempong.

20151109_081945

Hmm sebenarnya ada beberapa hal yang membuat kita masih bertanya-tanya, terutama soal security. Bagaimana kalau data-data ini ada yang iseng membobol dan jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat, katakanlah penjahat perbankan? duh, soalnya kita diminta nama ibu kandung sampai tanggal lagir mertua.

Soal keamanan, saya punya cerita bagaimana hacker semacam sohialacosta membobol sistem keamanan beasiswa dikti. Baca deh ceritanya di sini.

Bagaimana menurut anda?

Iklan

Jurnal Internasional Bereputasi Dikti dari Indonesia

Ada seorang pembaca bertanya, jurnal internasional apa saja yang diakui bereputasi oleh Dikti berasal dari Indonesia?

Nah untuk kali ini saya menyajikan data jurnal dari Indonesia yang terindeks Scopus. Dari data di bawah ini, sebagian belum memiliki SJR yang menunjukkan jurnal tersebut dinilai maksimal sebagai jurnal internasional bereputasi (40 angka kredit)

Oh ya, data ini diambil dari laman Kopertis12 yang artikelnya ditulis oleh Pak Tole Sutikno. Soalnya kalau milihin sendiri dari data ini, capek juga.

Screenshot 2015-11-20 17.15.06

Selain daftar di atas, di tahun 2015 Jurnal Studia Islamika dari UIN Syarif Hidayatullah sejak mei 2015 juga terindeks Scopus.

Screenshot 2015-11-20 17.19.53

Dosen Blogger atau Blogger Dosen?

 

Sesuai judul, saya memang dua punya aktivitas yang saya geluti serius: ngeblog dan nge-dosen (baca: kerja di kampus untuk mengajar dan meneliti).

Sebagai dosen saya lakukan sepenuh hati. Senang saja misalnya mengajar anak-anak muda yang penuh semangat dan lutju-lutju. Meracuni pikiran mereka dengan ilmu yang semoga bermanfaat. Menumbuhkan kesadaran kritis melihat dunia sekeliling mereka, biar berwarna dan tidak hitam putih.

Sebagai dosen saya juga meneliti, menemukan hal baru dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Oh ya, sebagai dosen seriusan senang juga hasil penelitian saya yang terbit di jurnal internasional dihargai. Ceritanya kemarin pas upacara kesadaran nasional dipanggil ke depan menerima SK-nya oleh Rektor:) (Padahal saya jarang upacara dan pake baju korpri, he he)

reward jurnal

Sumber foto: Fesbuk Pak Kurnia

Sebagai blogger, rasanya saya juga cukup serius. Dulu gara-gara baca blognya Pak Budi Rahardjo, jadinya pernah punya ambisi satu tulisan satu hari. Ah jadinya keteteran.

Sekarang intensitas saya ngeblog makin berkurang. Selalu ada alasan, padahal semua gadget saya (ipad merek ipad dan smartphone samsul) memiliki aplikasi wordpress.

Dulu di Jepun rasanya lebih bisa mengalokasikan menulis, bahkan jika di atas kereta. Namun karena banyak di belakang kemudi, rasanya gak mungkin nyetir sambil ngeblog, bisi cilaka.

Tapi jika ada waktu luang saya pasti menulis. Jika ada hal menarik di dunia perdosenan dan pendidikan tinggi saya juga pasti luangkan waktu untuk ditulis. Sila dilihat tulisan-tulisan paling populer di bulan Oktober lalu.

Screenshot 2015-11-18 08.25.30

Karena itulah blog ini konon kabarnya cukup populer di kalangan dosen. Senang juga sih bisa bermanfaat 🙂

Nah jadinya saya itu dosen blogger atau blogger dosen ya?

Mendapatkan Yen dengan Menjadi Affiliate Discovery Japan

Blog saya yang sederhana ini dikunjungi sekitar 1000 pengunjung perhari. Nah saya sudah memanfaatkan blog ini untuk mendapatkan pendapatan dari word ads. Namun nampaknya belum memuaskan.

Screen Shot 2015-11-13 at 10.48.31 AM

Beberapa waktu ini saya ditawari menjadi affiliate untuk discovery japan. Saya putuskan bergabung, lumayan. Nanti dari setiap mereka yang sign up dengan link dari blog ini, saya akan mendapatkan 100 yen yang dikirimkan setiap mencapai 5000 yen ke akun paypal saya.

Jika bermimpi kaya raya sih tentu saja tidak. Tapi lumayan untuk membayar domain tahunan. Ini yang selalu saya sebut sebagai hobby yang membiayai diri sendiri. Sisanya lumayan untuk membeli es krim 😉

Silahkan klik gambar di bawah ini dan mendaftar ya

Masih Tentang Indonesianis

Tulisan saya soal bagaimana Indonesianis Jepang meneliti memicu diskusi seru. Maka sebagai bonus saya membikin tulisan kedua ini. Khususnya ditulis untuk Mbak (atau Teh) Beta Paramita, sahabat di dunia maya yang nggak pernah ketemu di dunia nyata. Pertanyaannya soal kacamata peneliti lokal dan interlokal asing, kelebihan dan kekurangan, dan alur berpikir.

Screenshot 2015-11-03 09.24.02

Ini pertanyaan sulit yang memakan banyak ruang kalau ditulis di fesbuk, jadi saya buat tulisan ini berdasarkan pengalaman. Siapa tahu dapet doorprize kopi desa 😉

***

Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan anak muda seusia saya (lebih muda setahun) asal Perancis. Dia kebingungan mencari kawan diskusi, juga mencari-cari hasil riset soal Banten. Singkat kata, kami berteman, dan dia menempati rumah singgah saya di Serang. Ia sedang meneliti pencak silat dengan kacamata antropologi. Ternyata ia tidak se-awam yang saya bayangkan. Ia adalah pendekar pencak silat, berguru ke banyak pendekar nusantara bertahun-tahun dan dekat dengan komunitas pencak silat.Di sela-sela waktu, ia mengajari saya beberapa gerakan penca. Dunia terbalik, orang banten diajari pencak silat sama orang perancis.

Dunia tambah terbalik ketika beberapa waktu kemudian ia mengajak saya ke Pamarayan, menghadiri acara keceran dan bertemu Guru Besar TTKDH yang tinggal di sana. Orang Banten dikenalkan ke guru besar pencak silat oleh orang Perancis. Gila bukan?

Saya kenal beberapa orang peneliti yang menulis tentang silat dan mereka tidak bisa pencak silat. Bagaimana bisa?

Beberapa waktu kemudian saya berkesempatan ke Perancis, eh ternyata Pembimbingnya kawan saya ini adalah pendiri Merpati Putih di Perancis sekaligus guru besar di salah satu kampus di Marseille.

****

Salah satu buku yang saya pakai untuk mengajar mata kuliah Pemerintahan Politik Desa di UI adalah Buku Negara dalam Desa, karangan Hans Antlov. Buku ini bukan buku yang ditulis dalam waktu singkat untuk mengejar angka kredit 😉 Ini adalah tulisan hasil pengamatan bertahun-tahun, tinggal bersama masyarakat sebuah desa di Jawa Barat. Bukunya mengalir lembut dan dalam tentang kehidupan masyarakat desa, dan bagaimana negara di masa orde baru menguasai desa. Ini buku terbaik tentang (sosial-politik-pemerintahan) desa di Indonesia masa orde baru.

***

Seorang kawan, Indonesianis-Jepang beberapa tahun lalu bercerita bahwa beberapa temannya terbunuh dalam sebuah bentrok antara tentara dengan teroris di Aceh. Ya, ia mengenal dekat beberapa orang yang tertembak. kawan saya ini juga setiap tahunnya menyempatkan diri untuk datang ke rumah Abu Bakar Baasyir, ia kenal dekat dengan anaknya. Tentu dalam hubungan peneliti dengan narasumber, tapi memiliki rapport yang amat baik.

Nah, kawan saya ini sedang sabbatical di Indonesia. Entah hal baru apa yang akan dia dapatkan.

***

Tahu kan sabbatical? Seorang dosen diberikan cuti panjang sekitar setahun, mendapatkan segala haknya dan dibebaskan dari tugas mengajar. Biasanya sabbatical dilakukan untuk melakukan penelitian atau menulis karya ilmiah.

Sistem sabbatical ini belum dipraktekkan di kampus-kampus di Indonesia (CMIIW) walaupun sejatinya dalam pasal 32 PP37 tentang Dosen sudah diatur.

Screenshot 2015-11-03 10.01.40

***
Seorang kawan berpendapat bahwa puncak prestasi akademik seorang dosen adalah ketika sedang studi doktor, terutama di luar negeri. Bukan apa-apa, tapi situasinya memang serba mendukung. Ada meja kerja, akses jurnal dan buku terbaru, waktu untuk membaca-menulis-meneliti, bahkan banyak kampus tempat studi membantu dana penelitian. Yang terpenting juga memiliki hubungan yang lebih stabil dengan dengan pembimbing (baca: pembimbing mudah ditemui karena punya ruangan dan jadwal yang jelas). Biasanya puncak produktivitas ya di masa ini, bisa publikasi beberapa jurnal internasional selama studi, juga menyelesaikan disertasi. Katanya, begitu pulang dan bersentuhan dengan persoalan-persoalan administrasi, politik kantor yang kejam tak punya hati, meja kerja ndak jelas, akses jurnal gak ada, ditambah sibuk ngamen disana-sini, perlahan-lahan secara drastis produktivitas menurun.

Yah tentu saja ada yang bertahan tetap produktif, tapi berapa banyak?

***

Balik ke persoalan kacamata, sudut pandang dan sebagainya, begini kira-kira jawabannya.

Peneliti asing biasanya berangkat dengan telinga dan mata terbuka. Ia memulai segala sesuatunya dengan keingintahuan dan ketidak tahuan. Jadi kalau ibarat garis start, ketika meneliti suatu hal, peneliti lokal jauh lebih dulu melampaui garis start.

Nah begitu waktu berjalan, si peneliti asing mulai membaca buku dan jurnal yang terkait, mewawancarai, mempelajari bahasa lokal, tinggal di lokasi berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dan sebagainya-dan sebagainya. Biasanya dukungan sistem dan finansial juga memadai.

Nah peneliti lokal yang berlari lebih dulu kemudian sibuk dengan urusan-urusan administratif, mengerjakan berbagai proyek, mengajar, dan sebagainya-dan sebagainya. Dalam beberapa kasus banyak yang kelelahan mengejar-ngejar pencairan dan mengumpulkan kuitansi.

Ketika garis finish, akhir cerita bisa ditebak. Mana yang kemudian memproduksi lebih dalam dan lebih serius serta kemudian memiliki otoritas di satu kajian tersebut, tentu di dunia akademik internasional.

***

Tulisan ini berdasarkan pengalaman saja, tidak bermaksud memberi stereotype baik kepada peneliti asing dan lokal. Lebih kepada menasihati diri sendiri juga. Syukur-syukur dapet doorprize 🙂

Pedoman PAK Terbaru

Ternyata, diam-diam Dikti melakukan beberapa perubahan dalam proses penilaian angka kredit. Misalnya, terdapat ketentuan baru tentang kriteria jurnal internasional bereputasi. Kemudian ada juga SOP pengusulan dan pemrosesan usulan PAK Lektor Kepala dan Guru Besar.

Nah, sila disimak Pedoman PAK edisi revisi, atau download di sini.

Bagaimana Indonesianis Jepang Meneliti

Seminggu ini saya berkeliling Jabotabek bersama lebih dari 10 peneliti dari Jepun. Mereka ahli Indonesia, bisa berbahasa Indonesia, sebagian adalah Professor dari berbagai Universitas dan sebagian mahasiswa doktor. Kami berkeliling mengadakan wawancara dengan banyak pihak untuk sebuah riset tentang Urban Politics di Asia Tenggara.

Ini adalah turun lapangan kami yang kedua. Lima tahun lalu kami melakukan hal yang sama (sebagian anggota timnya sama), di Jakarta dan Bangkok. Hasilnya terbit dalam sebuah edisi jurnal di Journal of Current Southeast Asia Affairs Vol. 33 (1) tahun 2014, bisa diintip di sini.

Ada beberapa catatan penting tentang riset yang kami lakukan. Bukan soal substansi, tapi bagaimana mereka bekerja sebagai peneliti, mungkin bisa jadi cermin bagi kita yang bergelut di dunia ilmu pengetahuan juga.

Pertama, sungguh menyenangkan melihat para Professor (Sensei) masih turun lapangan, mencari data sendiri berpeluh ria untuk mendapatkan data yang serius. Yups sebagaian mereka adalah Sensei yang karyanya cukup penting dalam studi politik di Indonesia kontemporer. Ada ahli politik lokal, politik islam, terorisme atau militer, bahkan properti. Menarik bahwa ketika mau memahami isu yang (bisa jadi) baru mereka geluti, mereka berusaha memahami, langsung dari lapangan. Seorang professor yang meneliti Waria bahkan mampir ke setiap alun-alun untuk mengobrol dengan Waria jika pergi ke kota apapun di Indonesia.

Kedua, mereka berangkat dengan kemampuan bahasa lokal. Untuk seorang ahli kawasan (area studies), pengetahuan bahasa lokal memang penting. Hal ini berangkat dari keyakinan bahwa ada potensi bias dan kegagalan memahami sebuah fenomena atau pesan jika sebuah data adalah hasil terjemahan atau melalui penerjemah. Maka ahli Indonesia ya musti bisa bahasa Indonesia. Kalau lebih dalam lagi, misalnya meneliti kawasan Jawa Barat, maka kedah tiasa nyarios nganggo bahasa sunda.

Ketiga, ini memang membuat iri. Dukungan dana untuk riset pasti besar. Biaya tiket, hotel, dan sebagainya tentu tak murah. Ya, persoalan klasik bagi peneliti Indonesia. Bahkan tak cuma soal dana yang seret, tapi aturan yang  konyol. Misalnya, mahasiswa S3 dengan beasiswa Dikti dilarang tinggal di Indonesia lebih dari 2 bulan berturut-turut walaupun studinya tentang Indonesia. Lha mau dapet apa kalau studinya sosial-politik atau antropologi? Ancamannya gak maen-maen, beasiswa luiar negerinya bisa diubah jadi beasiswa dalem negeri lho.

Keempat, para peneliti luar negeri diuntungkan dengan mental inferior sebagian narasumber. Mereka senang sekali menerima peneliti asing. Bagi saya peneliti lokal, membawa peneliti luar negeri diuntungkan karena bisa menembus sumber-sumber yang sulit diakses oleh peneliti lokal. Ya tentu saja peneliti luar juga bersungguh-sungguh dan bekerja keras juga menemukan narasumber, gak maen-maen.

Nah terakhir saya mau bagi video wawancara kami dengan Ahok yang ternyata dipublikasikan di kanal Youtube punya Pemda DKI. Selamat nonton, di video saya kelihatan agak gendut 😉

Oh ya, sebagai catatan kami gak cuma ketemu Ahok, tapi juga Zaki Iskandar, warga penghuni kuburan, korban gusuran, aktivis LSM dan sebaginya. Sayang waktu ketemu Waria saya mesti pulang cepet-cepet.