Judul di atas memang bombastis. Saya terpaksa menggunakannya karena saya gelisah (bukan geli-geli basah ya).

Saya merasa ada yang sedang membajak peringatan sumpah pemuda untuk tampil sebagai pahlawan bertopeng dan muncul di berbagai media. Saya tak berani bilang itu iklan atau bukan, namun jika sekelompok anak muda tanpa prestasi mengesankan mendominasi media tertentu dalam bentuk berita bersama saudara dan kawan-kawannya, saya mesti membuat tulisan (jreng-jreng).

Kebetulan beberapa hari lalu, saya dihubungi seorang juruwarta, menanyakan tentang “Kepemimpinan anak muda di Banten”. jawaban saya waktu itu: “Tua, muda tak lagi relevan, yang penting kontribusinya bagi masyarakat”. Ada yang muda berprestasi, ada juga yang korupsi. Ada pemuda harapan bangsa, ada juga harapan bangsat. Ada pemuda yang tampil karena prestasi, ada yang tampil karena beriklan.

Jadi, menjadi muda saja bukan apa-apa.

Nah di edisi sumpah pemuda kali ini, saya mau menulis tentang satu saja sosok anak muda Banten yang LAYAK DICONTOH. Maaf huruf besar penegasan saja, bukan sedang berteriak. Maklum, banyak yang tak layak dicontoh lebih populer karena lebih berduit.

Tadi pagi sebetulnya saya sedang terkesan dengan wawancara riset saya dan beberapa teman dengan Bupati Tangerang yang masih muda. Menguasai masalah dan bahasa Inggrisnya jago, he he. Mungkin kurang lebih sama kerennya dengan Walikota Tangerang yang juga masih muda. Di Serang juga banyak anak muda keren, Firman Venayaksa misalnya, Dosen muda dan gondrong yang sudah Doktor dan menjadi Presiden Taman Bacaan Masyarakat. Sayang Gol A Gong tak lagi bisa disebut muda. Oh ya, kemarin saya juga berdiskusi dengan anak muda bernama Tb. Ace, orang labuan yang menjadi politisi cum akademisi, sarat pengalaman organisasi dan punya akses ke pusat kekuasaan. Jangan lupa, ada anak-anak muda sepertu Uday dan aktivis mata Banten pengerak gerakan anti korupsi di Banten yang bergerak tak kenal takut. Masih ada pula Eman dan kawan-kawan mengembangkan madu Hutan di Ujung Kulon yang bahkan sekarang bekerjasama dengan oriflame.

Hmm siapa yang musti ditulis ya? Saya mesti memilih satu.

eng ing eng

Saya memilih Arif Kirdiat.

Bukan karena saya berteman sejak 2004, tapi karena Arif memang layak.

Ya ketika Banten diguncang isu korupsi. Ketika infrastruktur berantakan. Ketika mereka yang mengelola duit rakyat menghabiskannya entah untuk apa. Ketika politisi muda banyak menghabiskan duitnya untuk tampil di spanduk, media dan berbagai kegiatan. Ketika ada kepala daerah yang malah sibuk offroad dan mancing.

Arif yang bukan siapa-siapa, berbakti dalam sunyi.

Saya ingat, di tahun 2004, waktu itu saya, Arief dan Pak irfan datang ke kawasan Panggarangan untuk sebuah urusan. Pulangnya, ia membawa pasien lumpuh layu untuk diobati di Rangkas. Hati kecil saya berbisik, “Ini orang keren banget”

Kedekatan Arief dengan masyarakat juga terbukti, di berbagai kegiatan di selatan, Arief berjasa besar menghubungkan kami dengan masyarakat seperti di Baduy, Ujung Kulon maupun Sawarna. Ia banyak berkegiatan sosial di sana, jauh sebelum populer seperti sekarang.

Tahun 2012, ketika buruknya infrastruktur hanya menjadi bahan mencaci maki dan komoditas politik, Arief bergerak tanpa banyak bicara. Padahal saat itu di Banten sedang ramai-ramainya gelontoran uang ratusan miliar dana hibah Provinsi Banten untuk berbagai organisasi kemasyarakatan, yayasan, termasuk banyak organisasi pemuda yang entah kemana uangnya menguap.

Masih ingat foto ini? Ya waktu itu media dan media sosial ramai dengan isu sulitnya anak-anak mencapai sekolahnya. Arief memilih langsung bertindak, memulainya dengan jembatan gantung di dukuh handap, Cimanggu- Banten.

arief2Jembatan berhasil dibangun dengan donasi berbagai pihak, dikelola dengan amanah dan anak-anak sekolah tak lagi berbasah ria.

arif1

Keberhasilan ini kemudian diikuti dengan dibangunnya jembatan-jembatan lain oleh Arief dan kawan-kawan seperti di Kampung Cegok dan Kampung Aer Jeruk Desa Rancapinang dan diikuti jembatan-jembatan yang lain. Donasi mulai bermunculan dari dalam dan luar negeri. Pembangunan jembatan kemudian berlangsung tak hanya di Banten, tapi juga di tempat-tempat lain di Indonesia.

Selebihnya pembaca pasti sudah mengetahui. Biarlah beberapa video di bawah ini bercerita.

Juga yang ini


Nah, tak salah jika di Hari Sumpah Pemuda ini saya menulis soal Arief Kirdiat kan? Kontribusinya jelas dan nyata bagi masyarakat, berani berinisiatif tak mengandalkan uang milik negara, populer karena karya nyata bukan karena beriklan.

Pesannya jelas, pemuda seperti Arief ini yang mesti jadi contoh. Bukan yang memaksakan diri tampil, membajak makna sumpah pemuda.  Jika anda setuju, sebarkan tulisan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s