Tiga tahun dalam satu posting blog

Kemarin kembali ada kabar gembira. Staf di Graduate School of Global Studies Doshisha University mengabarkan bahwa dalam pertemuan para Dekan Graduate School saya dinyatakan berhak mendapatkan gelar Doktor. Oyamada Sensei pembimbing saya di Jepang juga mengirim email menyatakan gembira dan lega sekali.

Ya, walaupun pertemuan para Dekan tersebut hanyalah formalitas karena kelulusan sudah diputuskan tanggal 21 Juli lalu dalam faculty meeting, tetap saja ini adalah “very final step” dari proses studi yang saya jalani di Doshisha University. Ya, tahapannya panjang.

Izinkan saya bercerita

****

Tahun terakhir kuliah S1 di UI tahun 2004 sambil jadi calon anggota DPD saya waktu itu menulis skripsi tentang politik lokal Banten.

dpd

Suatu hari, kakak saya, Abdul Malik mengundang saya ke Hotel Mahadria untuk bertemu dengan seorang peneliti dari Jepang, namanya Okamoto. Ia sedang menulis disertasi tentang politik lokal Banten juga. Pertemuan pertama tersebut ternyata amat berharga, kami terlibat diskusi seru dan berbagi data. Nah semenjak itulah kami sering bertemu dan berdiskusi. Bahkan Okamoto Sensei membuat sebuah “kelas membaca” buku local strongmennya Joel S Migdal  di kantor CSEAS. Saya ingat selain saya, El Nino dari Gorontalo juga beberapa kali datang.

Nah di lapangan penelitian itulah saya juga sempat turun lapangan bareng dengan Dr. Syarif Hidayat yang juga menulis topik politik lokal banten. Belakangan chapter Dr. Syarif soal Tuan Besar terbit dalam buku Politik Lokal di Indonesia yang diterbitkan KITLV. Waktu itu Dr. Syarif ditemani Fitron sebagai asisten peneliti. Oh ya saya dan Fitron pernah bareng demo dan dipukuli jawara bersama juga kawan-kawan mahasiswa Banten tahun 2001.

Ketika studi S1 selesai kerjasama saya dan Okamoto terus berlanjut. Saya sendiri mengajar di jurusan ilmu politik UI dan tinggal di Kalibata, jadi memiliki cukup banyak waktu bertemu. Okamoto sempat menjadi Bos di Kantor CSEAS Jakarta. Tahun 2006 kumpulan tulisan para peneliti “Bos Lokal” diterbitkan oleh IRE Yogya dan CSEAS Kyoto, “Kekerasan Politik dan Bos Lokal di Era Reformasi”. Saya menulis satu chapter tentang jawara banten.

kelompok kekerasan

Tahun 2006 saya menjadi dosen tetap di FISIP Untirta setelah melamar kedua kalinya dan mulai banyak beraktivitas di Banten. Beberapa riset tentang banten terus saya lakukan, terutama update perkembangan politik yang amat dinamis. Tak hanya saya sendiri, teman-teman di Banten Institute seperti Kang Anis Fuad juga banyak terlibat. Oh ya, salah satu publikasi berjudul “Politik Lokal Banten, regenerasi Sebuah Hegemoni” disusun oleh tim ini, bukan saya sendiri.

Saat itu juga sebetulnya saya sudah berancang-ancang ambil S2 di Jepang. Namun di UNDIP ada tawaran beasiswa double degree S2 ilmu politik, setahun di Semarang dan setahun di Wyoming. Saya ambil kesempatan tersebut. Saya ingat, Okamoto menelepon saya begitu tahu saya S2 di Semarang, ia nampak kaget, “Kenapa tidak ke Kyoto bareng saya?” katanya waktu itu.

Akhirnya ia menyarankan saya melakukan riset soal Kiai di Banten sebagai tesis, jika bisa saya diundang ke Jepang. Nah jadilah sejak semester kedua saya sudah turun lapangan. Hasilnya rampung dituliskan dalam sebuah paper dan kemudian saya presentasikan di Kyoto pada tahun 2008. Waktu itu saya diundang untuk presentasi dan juga menjadi visiting researcher untuk sekitar 2 minggu. Ini kesempatan pertama memberi presentasi dalam bahasa Inggris di forum internasional. Alhamdulillah lancar.

Abdul Hamid Dosen Fisip Untirta, foto bersama seminar Internasional Islam for Social Justice CSEAS Kyot University 2008

Paper ini kemudian menjadi tesis S2 saya yang ternyata saya selesaikan di dalam negeri. Program double degreenya kacau balau, tak ada pemberangkatan ke Amerika ternyata 😦

Namun saya terhibur karena paper tentang Kiai kemudian terbit sebagai salah satu chapter dalam buku slam in Contention: Rethinking Islam and State in Indonesia.

ISLAM-IN-CONTENTION_COVER

Nah, selesai S2 saya terlibat banyak kesibukan, jadi Kepala LAB Administasi Negara, Wasekjen ASIAN, Anggota DRD, dan lain-lain, ditambah kesibukan mengajar dan beberapa penelitian. Oh ya sempat juga presentasi hasil riset di beberapa konferensi di Malaysia, Kyoto dan Perancis.

img_0275

Namun semangat sekolah ke luar negeri terus menyala. Okamoto Sensei sendiri kemudian menerbitkan LoA  untuk studi di Kyoto University. Namun LoA sebagai research student tersebut ditolak beasiswa Dikti. Sementara untuk merubah LoA research student menjadi Ph.D student, saya mesti datang ke Jepang mengikuti test, tentu dengan biaya sendiri.

Saya sempat berkomunikasi dengan beberapa calon supervisor lain di berbagai kampus di berbagai belahan dunia.  Ada tiga yang menerima: David Bourchier (UWA) dan Ian Wilson (Murdoch Uni.) dari Australia dan Ibu Motoko dari Tsukuba University. Nah kalau untuk ke Australia LoA saya juga bersayarat karena IELTS waktu itu hanya 6.0, sementara untuk ke Tsukuba ternyata juga mesti mengikuti test wawancara di Jepang.

Diksusi panjang dengan Okamoto Sensei menghasilkan solusi, saya studi di Doshisha University yang seleksinya berbasis dokumen portofolio, tak harus ke Jepang. Mulailah komunikasi saya dengan Oyamada Sensei, Professor di Graduate School of Global Studies Doshisha University yang ternyata ahli governance dan lama di Indonesia. Oyamada Sensei menyambut saya dengan hangat sebagai murid bungsu di program doktor. Ya, saya murid ke-lima dari lima muridnya di program doktor.

Proses ke Doshisha memakan waktu setahun, persis di tengah kesibukan mengasuh Ayu dan Ilham yang ditinggal ibunya sekolah ke Belanda. Ndilalah, menjelang keberangkatan ke Jepang saya mengikuti test IELTS dan mendapatkan nilai 7.0, jadi sebetulnya bisa dipakai merubah LoA ke Aussie menjadi unconditional. Namun hati kecil saya mantap, berangkat ke Doshisa, salah satu Universitas tertua di Kyoto untuk belajar di bawah asuhan Professor Oyamada.

flash

doshisha

Selama di Kyoto saya memutuskan hanya memberi waktu untuk belajar dan keluarga. Oh ya, keluarga saya boyongan ke Kyoto. Saya misalnya tak berorganisasi sama sekali. Kursus bahasa Jepangpun saya tinggalkan karena fokus riset. Saya paham saya nggak pinter-pinter banget, jadi mesti fokus dan berusaha berlipat-lipat kalau mau berhasil. Apalagi beasiswa saya dari Dikti, di satu sisi beberapa kali telat, di sisi lain ini duit rakyat Indonesia yang harus dipertanggungjawabkan.

abahiham

meme abah

Tahun pertama dan kedua menjadi waktu yang berdarah-darah buat saya. Target saya jelas, memenuhi kualifikasi. Di Jepang ada syarat harus publikasi jurnal sejumlah tertentu untuk bisa lulus. Nah, di tempat saya, minimal dua peer reviewed jurnal dan dua international conference.  Alhamdulillah, di tahun kedua syarat ini saya libas. Saya konferensi di Jakarta, Macao dan Korea.

Abdul Hamid Dosen Fisip Untirta, Pembicara di ICAS 8 Macau

Paper saya terbit di Moussons, JCSAA GIGA Hamburg dan APP. Jadi di semester ke lima saya bisa mengikuti sidang Preliminary Examination (PE). Tentu ada banyak pihak terlibat dalam kerja keras ini: Oyamada Sensei, Okamoto Sensei, Jafar San, Pak Ishaq, Ono San, Nono, dan banyak lagi.  Istri saya sendiri andilnya besar, terutama memperbaiki naskah saya yang bahasa Inggrisnya beraksen sunda, he he

15307106724_1e79496bd3_o

Ada masa-masa yang genting antara PE dan submit disertasi, sekitar enam bulan. pertama saya memutuskan memulangkan keluarga karena anak-anak mesti mencari sekolah di Indonesia. Ini proses yang melelahkan lahir dan batin. Kemudian, selesai PE berarti saya mesti memperbaiki dan membaca ulang dan menambah berbagai referensi, ini juga melelahkan. Beberapa bulan membaca hanya menghasilkan beberapa halaman tambahan saja, glek.

Karena itulah sepulangnya memulangkan keluarga dan tinggal bersama Pak Ishaq, saya mulai fokus menyelesaikan. Targetnya selesai disertasi, bukan mendapatkan hadiah nobel !

Jadilah siang menjadi malam dan malam menjadi pagi.

Hiburan saya adalah sesekali (baca: seringkali) maen Marvell Contest Champions. Habis mau gimana lagi 😉 Kan stress

abaho

Begitu naskah hampir selesai dan waktu tersisa satu bulan persoalan lain muncul. Naskah yang disubmit bersifat final harus sudah melalui proses prooofreading oleh native speaker dengan background keilmuan sosial. Waktu tersisa hanya satu bulan. Proofreader yang biasa dipakai GS sedang dipakai salah satu student juga.

Jadilah kemudian saya memutuskan ambil resiko pake proofreader dari korporasi. Ferry menawarkan sebuah perusahaan internasional berbasis di Osaka yang cepat tapi muahal. Ternyata mereka menyanggupi menyelesaikan dalam satu bulan, jadi saya ambil dengan menguras tabungan. Jadilah bekerja a la Roro Jonggrang.

Sensei sempat kaget namun akhirnya sepakat dengan kengototan saya menyelesaikan. Sempat ada tawaran menunda kelulusan dari Sensei, namun akhirnya kami bersepakat dan bertekad harus selesai !

Jadilah kesibukan berlipat. Saya –> Sensei –> Proofreader –> Saya –> Sensei –> Proofreader dan begitu terus berulang-ulang setiap minggunya, bab-per-bab.

Proses pembimbingan di tahap akhir betul-betul melelahkan, membahas kalimat perkalimat. Jadi begitu yang lain makan-makan saat party di rumah Sensei, saya dan Sensei malah berduaan membahas draft di ruang kerjanya 😦

Nah, jadilah ketika 28 Mei naskahnya selesai dan siap diserahkan. Rasanya seperti habis melahirkan. Lega.

Sebulan kemudian, tanggal 30 Juni saya sidang disertasi di bulan puasa. Penguji sidang akhir dan sidang disertasi sama, selain Oyamada Sensei ada Agola Sensei dan Gonon Sensei. Keduanya sewaktu PE memberi pertanyaan yang tajam dan masukan yang terpaksa membuat saya memutar otak dan membongkar naskah.

Orang ganteng lagi disidang

Jalannya sidang disertasi bisa dibaca di sini. Singkatnya, alhamdulillah lancar.

Nah setelah sidang disertasi justru dimulailah diskusi intens dengan Sensei yang mesti mempresentasikan penelitian saya dalam faculty meeting. Faculty meeting inilah yang menentukan kelulusan. Setelah Sensei presentasi maka diadakan pemungutan suara secara anonim. Hasilnya menentukan apakah saya berhak jadi Doktor atau tidak.

Jika lulus, sayalah lulusan pertama program Contemporary Asian Cluster di Graduate School of Global Studies sejak program ini dimulai tahun 2010. Saya juga yang menjadi mahasiswa doktor pertama bimbingan Sensei yang lulus. Alhamdulillah.

Menunggu sidang, saya pulang dulu ke tanah air. Sebelum pulang Sensei mengajak makan tempura yang dimasak secara khusus oleh koki di depan kita. Enak sekali.

Nah, tanggal 21 Juli faculty meeting diadakan dan saya lolos, alhamdulillah.

Begitu kabar ini datang dan saya sampaikan ke kampus, teman2 di kampus Untirta menyampaikan selamat baik di spanduk maupun di web Untirta. Saya jadi malu 🙂

Screenshot 2015-09-18 10.06.53

20150831_155127
Spanduknya yang sebelah kanan 🙂

Nah sebagaimana tulisan pembuka, kemarin Graduate School Dean Meeting mengesahkan saya untuk menyandang gelar Ph.D. Draft ijazah juga sudah mampir ke email untuk memastikan tak ada kesalahan penulisan nama dan tanggal lahir.

diploma

Alhamdulillah. Minggu depan hari selasa akan ke Kyoto untuk wisuda, lha baru inget, mau tinggal di mana ya?

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s