Seminggu Setelah Sidang Disertasi

Saya punya kebiasaan buruk. Menulis sebuah refleksi ketika momentum sudah lewat.

Selain itu menulis di blog berbanding lurus dengan stress. Semakin stress semakin piawai dan rajin saya menulis. Jadi ketika seminggu ini tak menulis, sesungguhnya saya sudah agak tidak stress :).

***

Minggu lalu, 30 Juni merupakan salah satu tonggak terpenting dalam kehidupan (akademik) saya. Saya melaksanakan sidang disertasi. Ini seperti klimaks dalam proses belajar saya dalam 3 tahun terakhir ini di Jepun. Proses yang melelahkan, lahir dan batin. Lebih khusus dalam tiga bulan terakhir, dimana segala upaya dikerahkan menuju penyelesaian disertasi.

Apalagi keluarga sudah pulang duluan ke tanah air. Jadilah malam-malam sibuk dengan laptop sambil mendengarkan lagu yang liriknya “di dalam keramaian aku merasa sepi…“. Pas banget dah dengan suasana hati. Untunglah Ayu menghibur dan mendoakan “Semoga sidangnya lancar ya Bah, Abah nggak ditahan“. Dikiranya sidangnya sidang pengadilan dan saya jadi terdakwa, kebanyakan nonton tipi.

Selama tiga tahun ke belakang saya memang serius studi. Terlalu serius malah, termasuk memutuskan untuk tidak aktif berorganisasi selama jadi pelajar di Kyoto. Fokus ke riset sehingga nggak serius belajar bahasa Jepang (Ini mah ngeles kayaknya). Menahan diri untuk tidak terlalu muncul di publik karena memang belum saatnya, terutama ketika isu korupsi di Banten mengemuka. Mengeluarkan segala upaya agar syarat kelulusan seperti publikasi dua peer review jurnal bisa selekasnya dipenuhi. Menarik diri dari ikut cawe-cawe urusan politik, termasuk politik kampus. Termasuk mengurangi jalan-jalan yang sering bikin Ibun sebel. Saya sadar diri, sebagai orang yang nggak pinter-pinter banget saya mesti berusaha berkali-kali lipat daripada mereka yang pinter.

Selama tiga bulan terakhir, malam jadi siang, pagi jadi malam. Hidup saya seperti hidupnya Bruce Wayne, melek di malam hari, tak bisa tidur karena tertekan dan memang harus menyelesaikan menulis dan mengedit bagian demi bagian dari disertasi sambil diselingi main Marvel Contest of Champions. Melelahkan juga secara finansial, karena harus menempuh proofreading untuk manuskrip dalam waktu hanya sebulan dari waktu normal sekitar tiga sampai empat bulan. Proofreading harus diselesaikan karena manuskrip yang disubmit adalah final dan tak boleh direvisi lagi. Jadilah keluar biaya ekstra karena kampus hanya menanggung biaya normal proofreading. Tak apa-apa, jer besuki mawa beya.

Saya memang ngotot untuk selesai karena semester ini hanya punya satu skenario: lulus.

Sensei memang sempat mengajak bicara soal beberapa skenario: (1) lulus atau (2) menunda kelulusan satu semester.

Saya menolak skenario kedua, saya mesti selesai:  “I have something to do“.

Sensei mengira karena saya mau maju jadi Dekan selepas lulus, padahal saya tak tahan ingin mencium bau kecut rambut Ilham yang tak bisa dirasakan lewat skype 🙂

Jadilah Sensei sepakat mencoret plan (2) dan mendorong saya selesai dengan pertemuan intensif, membahas draft secara teliti dan cepat.

Hidup saya kemudian seperti apa yang saya tulis di awal, hidup seperti Batman yang celakanya terbawa sampai sekarang.

Alhamdulillah, naskah selesai beberapa hari sebelum jadwal submit 29 Mei. Begitu juga dengan berbagai dokumen dan aplikasi yang bolak-balik mesti diperbaiki. Tanggal 28 Mei, saya menyerahkan ke GS (Global Studies) office. Fiuh.

***

Sidang berjalan lancar. Saya tampil dengan keren, memakai jas dan dasi (Bener gak ya cara make kancing jasnya?). Rambut yang saya cukur sendiri sekitar dua minggu lalu juga sudah agak tumbuh walaupun malu-malu.

Sidang dimulai jam satu, selepas saya sholat zuhur di mushola kampus. Hadirin yang datang sekitar 10 orang saja. Saya, penguji 3 orang (termasuk Sensei pembimbing), dan penonton sekitar 6 orang, termasuk Okamoto Sensei dari CSEAS yang sibuk memotret :). Tak ada karangan bunga atau prosesi seremonial. Juga tak ada konsumsi, bukan karena menghormati kami yang berpuasa, tapi itulah sidang disertasi di Jepun.

Acaranya seperti seminar biasa. Sensei membuka sekaligus jadi moderator, mempersilahkan saya presentasi selama 40 menit. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tajam dari dua penguji yang menguliti isi disertasi. tanya jawab juga selama 40 menit saja, tanpa perpanjangan waktu.  Alhamdulillah, rasanya (jangan-jangan perasaan Dek Hamid saja) semua pertanyaan bisa diberikan jawabannya, dan semua masukan bisa diterima tanpa membongkar apa yang sudah saya tuliskan.

20150630_140153   share_tempory

Setelah selesai, saya dan semua hadirin diminta keluar. Sensei dan dua penguji rapat, memutuskan nasib saya.

Sekitar sepuluh menit, Sensei keluar dari ruangan dengan senyum terkembang “Good job“, katanya. “Mereka agree untuk merekomendasikan kamu lulus, tinggal nanti hasil resmi faculty meeting 21 Juli” (Sensei memang suka campur bahasa Indonesia dan Inggris karena lama dulu di Indonesia).

Wah saya senang sekali, membuncah. Namun harus tetap kelihatan cool bukan? Saya tersenyum tipis “Domo Arigatou Sensei”.

***

Sorenya, sahabat saya Pak Ishaq teman satu Sensei, satu Lab, satu Apato, sesama tukang ngopi dan begadang juga melaksanakan sidang Preliminary Examination dengan amat sukses, menuai pujian dari para pengujinya. Saya bergantian jadi fotografernya sidang beliau. Jadilah kebahagiaan kami waktu itu berlipat-lipat. Sensei juga nampak sumringah dan tersenyum terus, padahal pagi hari dan hari-hari sebelumnya, dahinya yang selalu berlipat.

***

Kebahagiaan kami dirayakan Doshisha. Lepas maghrib Doshisha melaksanakan Iftar Party. Tentu saja bukan khusus merayakan sidang kami, tapi memang kebetulan waktunya berurutan di hari yang sama. Jadilah tak perlu bikin pesta sendiri 🙂

20150630_185038

20150630_190125

Ketika iftar party berlangsung, seorang Sensei dari Turki menyampaikan selamat atas sidang, dan bertanya “Bagaimana perasaanmu?” Ia menjawab sendiri pertanyaannya “Ya, saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan, dulu ketika selesai sidang, rasanya lega bukan main“.

***

Alhamdulillah.

Satu proses terpenting sudah selesai. Semoga tanggal 21 Juli nanti faculty meeting memutuskan saya berhak memakai gelar Ph.D. Sebelum gelar didapat toh saya memang sudah Ph.D: Permanent Head Damage yang ditandai dengan insomnia sampai hari ini.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s