Rustono memintaku meraba telapak tangan istrinya, Tsuruko Kuzumoto. Kulirik sekilas, ah, sepertinya tak beda dengan kebanyakan jari-jemari wanita Jepang pada umumnya, putih kekuningan dan halus. Namun kusentuh jua telapak tangan dan jari Tsuruko, perlahan. Ketika telapakku akhirnya menggenggam seluruh telapaknya, air mataku menggenang. Tangan mungil itu pejal, seperti batu, seperti granit. Dapat kurasakan kerja keras mengukir tempe selama tiga belas tahun menjejak di telapak tanganTsuruko.

******

Rustono pertama kali bertemu Tsuruko Kuzumoto di Yogyakarta, pada tahun1995. Saat itu, pemuda kelahiran Grobogan, 3 Oktober 1968 ini, bekerja di Hotel Sahid, Yogyakarta. Tsuruko datang sebagai turis Jepang yang ingin menjelajah Indonesia. Perkenalan singkat di Yogyakarta ternyata membuat mereka berdua jatuh cinta.

Dan cinta begitu ajaib hingga membawa seseorang terlempar ke tempat yang tak terpikir sebelumnya.

Pada tahun 1997, Rustono memutuskan hijrah ke Jepang. Rustono dan Tsuruko pun menikah dan hingga kemudian dikaruniai dua putri bernama Noyami dan Remina.

Sebelum bersedia pindah ke negeri matahari terbit, Rustono punya satu permintaan. “Saya mau jadi pengusaha,” ujarnya pada Tsuruko. Rustono tidak mau bekerja pada orang lain lagi. Tapi demi mengumpulkan modal, masa awal Rustono di Jepang dilalui dengan bekerja di berbagai perusahaan, diantaranya perusahaan makanan. Nah, sembari bekerja, dia bereksperimen membuat tempe.

14151326446_26fa522e92_o

 
Lazada Indonesia
Tempe? Ya, Rustono ingin jadi pengusaha tempe di Jepang. Dia melihat di Jepang banyak sekali makanan berbahan dasar kedelai seperti tahu, tapi belum ada tempe. Salah satu makanan yang mirip “tempe” di Jepang adalah nattou. Jadi Rustono berpikir, kenapa tidak menjual tempe? “Karena saya orang Jawa, kepikiran ide tempe,” ungkapnya saat acara diskusi tempe di Kementerian Koperasi dan UKM, Minggu (22/9/12), seperti dikutip detik.com (http://finance.detik.com/read/2012/09/22/173548/2031138/68/1/ini-dia-si-raja-tempe-dari-jepang, diakses pada 24 Januari 2014 pukul 13.24).

Pada awalnya Rustono belajar membuat tempe dari internet. “Empat bulan uji coba saya membuat tempe gagal terus,” terangnya, seperti dikutip Batam Pos (http://batampos.co.id/2013/08/31/kegigihan-rustono-raja-tempe-asal-indonesia-di-jepang/, diakses pada 22 Januari 2014, 15.47). Tak puas, Rustono pulang ke tanah air selama tiga bulan untuk belajar ke beberapa perajin tempe di Pulau Jawa. “Sekitar 60 pengusaha tempe dari Semarang sampai Jogja saya datangi. Saya benar-benar ingin menyerap ilmu mereka. Saya tidak ingin gagal lagi,” ujarnya (Batam Pos).

Rustono resmi membangun pabrik tempe di Otsu, Shiga, pada tahun 2000. Pabrik itu dibangun sendiri oleh Rustono dan Tsuruko. Kisah Tsuruko yang menarik gerobak berisi kayu di musim dingin untuk membangun pabrik tempe menarik wartawan yang kebetulan lewat. “Waktu itu ada wartawan lewat rumah saya lihat saya sedang membangun rumah. Dia melarang saya karena nggak boleh bangun (rumah) musim dingin, saya bangun aja. Dan akhirnya dia setiap hari lewat rumah lihat kegigihan saya dan akhirnya mau wawancara saya dan diangkat ke koran,” katanya seperi dikutip portal berita detik.com http://finance.detik.com/read/2012/09/22/173548/2031138/68/2/ini-dia-si-raja-tempe-dari-jepang, diakses pada 23 Januari 2014, 13.19). Akhirnya wartawan tersebut menulis berita tentang Rustono dan Tsuruko yang gigih membangun pabrik tempe.

14171821472_2eac5db484_o

tempeh

Berita tersebut rupanya sukses membuat orang jadi ingin tahu tempe, dan akhirnya ingin membeli tempe. Bahkan salah satu tetangga Rustono menawarkan menjual murah pabriknya yang sudah tidak dipakai. Tawaran pinjaman modal dari bank pun berdatangan. Tapi Rustono menolaknya. “Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar?” tanggapnya. Untuk kelangsungan usaha tempenya, Rustono berujar, “Saya hanya minta bantuan dipromosikan.”

Pada awalnya memang tak mudah untuk memasarkan tempe. Impian Rustono memasukkan tempe ke menu hotel dan restoran tidak langsung terwujud. Karena itulah dia beralih pada komunitas Indonesia. “Dulu banyak dibantu PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Kyoto,” kisahnya. Komunitas Indonesia di Kyoto tak hanya memesan puluhan, tapi ribuan bungkus tempe. Sejak itulah, perlahan produk tempe merambah ke seluruh Jepang, dari Hokkaido di ujung utara hingga Okinawa di selatan Jepang. Hingga kini Rusto’s Tempeh diproduksi kurang lebih 3000 bungkus per hari dan dikirim ke 490 tempat di Jepang (Richard Susilo, Tribun News, 21 September 2013). Tempe pun jadi berbagai macam olahan masakan seperti yang ditunjukkan Rustono di buku resep yang dibuat orang Jepang. Kini hotel dan restoran tak ragu memakai tempe untuk menunya. Tak hanya dipasok ke supermarket, Rusto’s Tempeh juga dikirim ke rumah sakit sebagai menu makanan sehat. Pun tempe yang dipasarkan dengan merek Rusto’s Tempeh ini digunakan sebagai menu utama pada ruter internasional maskapai nasional, Garuda Indonesia. Hingga kini, menurut Rustono, “Pelanggan sekarang, 80% orang Jepang.”

Rusto’s Tempeh dijual dalam kemasan 200 gram. Kemasan plastiknya bergambar suasana pedesaan di Jawa. Rustono sadar betul, dia bukan hanya menjual “produk” tempe. “Saya menjual story, cerita,” ungkapnya. Kalau hanya makanan sehat, Rustono tahu itu tak bakal laku di Jepang. Karena itu dia sengaja memajang gambar suasana pedesaan di Jawa pada kemasan tempenya. “50% story, 50% produk,” ujar Rustono, mengingat-ingat pengalamannya berbisnis tempe di Jepang.

Namun impian Rustono tak hanya berhenti di Jepang. “Saya ingin menduniakan tempe.” Caranya? “Nggak tahu,” jawabnya, terbahak. Faktanya, kini Rustono sudah melebarkan sayap bisnisnya ke Meksiko, Perancis, dan Hungaria. Dia mengajari sendiri para perajin tempe dari negara-negara tersebut, di pabriknya di Shiga. Selain itu, tempenya yang diproduksi di Jepang juga merambah Korea Selatan.

14151334286_346f4e67cf_o

Berjaya di negeri orang bukan berarti Rustono melupakan Indonesia. Rustono mengaku dia belajar dari Indonesia, karena itu dia merasa senang sekarang bisa member untuk Indonesia. Rustono rutin membantu komunitas di sekitar kampungnya di Grobogan berupa buku maupun alat tulis. Selain itu, Rustono sering diundang untuk memotivasi para perajin tempe di Indonesia. Merasa bukan kompetitor, Rustono mengajak, “Mari makmur dari tempe.” Rupanya para perajin tempe itu semakin bersemangat, kisah Rustono.

Sayangnya, hingga kini tak ada bantuan apa pun dari Pemerintah Indonesia untuk Rusto’s Tempeh. Namun Rustono tak patah arang mempromosikan tempe. Pun ketika Menteri UKM, Syarif Hasan, berkunjung ke pabrik tempe Rustono beberapa bulan lalu. Rustono hanya berpesan, “Tolong hargai produk sendiri.” Ya, Rustono agak kecewa dengan stigma tempe sebagai makanan murahan. Bahkan tempe kerap diasosiakan dengan “mental tempe”, mental yang lemah.   Baginya, tempe janganlah dilekatkan dengan sesuatu yang buruk dari bangsa Indonesia. Apalagi saat bangsa lain mulai menghargai tempe.

Saat ini Rustono sedang membangun pabrik baru seluas 4000 meter persegi untuk bisnis tempenya. Jika sudah jadi, dia ingin bilang, “Sekarang bukan jaman modal, tapi ide!” Bagi Rustono, bisnis bukan hanya tentang uang. Untuk menambah wawasan tentang bisnis, Rustono rajin membaca buku. Rustono bercerita bahwa dia punya tiga puluh impian, dan kini sudah sebagian besar impian yang dicapainya. Dia optimis semua mimpinya bisa dicapai.

14221437493_4fc777c0fa_o
Salah satu produk olahan tempe “Teriyaki Tempe Sandwich” di salah satu restoran vegetarian di Jepang. Tempe-nya berasal dari Pak Rustono.

Ya, bagi Rustono, dia tak hanya berjualan tempe atau membangun pabrik tempe. “Saya membangun impian,” tegasnya. Dia juga lebih suka disebut sebagai “profesional tempe”. Sukses dan rendah hati selalu, Pak Rusto!

Kyoto, 22 Januari 2014 ((Tulisan ini ditulis Aulia Chloridiany dan pertama kali dipublikasikan di http://www.tentangkyoto.com yang sudah mau almarhum. Sebagian besar dari hasil mengobrol dengan Pak Rustono pada hari Minggu, 20 Januari 2014, plus riset internet).

Lazada Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s