Foto di fesbuk saya dengan pose orang ganteng memandang empat potong ayam digoreng memancing pertanyaan yang bagus. Kawan saya Ridvan (nama sebenarnya) bertanya, “yg nyembelih ayamnya siapa pak? bismillah ga pak? hehe”.
1623522_10153497749654015_8024144951877054675_n

Screenshot 2015-06-25 03.48.05

Ini pertanyaan yang sungguh oke, mencoba mengingatkan untuk berhati-hati, jangan sampai memakan barang yang haram. Maklum tinggal di negeri mayoritas non muslim, tentu saja mesti lebih berhati-hati. Untunglah sebetulnya di Kyoto ada banyak sumber makanan halal, tinggal datang ke Gyomu Supa atau Mesjid, ada daging halal yang bisa dibeli. Walaupun ada tulisan Gus Himmi yang menarik untuk dibaca bagi mereka yang bepergian ke luar negeri. Himmi di Kyoto disebut Gus karena kadar nyantrinya (baca: maqomnya) nampaknya cukup matang dan berilmu. Jauh di atas saya yang gak selesai ilmu nyangkulnya di pondok 😉

Kembali ke pertanyaan Ridvan, siapa yang menyembelih? Entahlah, sebelum saya goreng, saya lupa nanya sama ayamnya, siapa yang motong kamu?

Hmm

Ada dua hal yang mau saya diskusikan secara serius sebetulnya.

****

Pertama, apakah berhati-hati dalam makan makanan hanya urusan jika kita tinggal di luar negeri saja?

Bagaimana jika kita tinggal di negara mayoritas muslim seperti di Indonesia?

Apakah kita tidak perlu berhati-hati?

Apakah kita cukup mengandalkan husnudzhon ketika makan bakso dan yakin bahwa dagingnya adalah daging sapi yang ketika disembelih menyebut nama Allah? Atau apakah kita yakin dagingnya adalah daging sapi dan bukan daging yang lain?

Saya mau bercerita sedikit.

Sekitar dua tahun lalu saya ke Indonesia untuk penelitian. Saya mampir menemui Ibu saya di Pandeglang. Nah ketika di Pandeglang, saya mampir ke pasar Pandeglang membeli bakso yang besar-besar. Saya beli beberapa bungkus dan bawa ke rumah. DI rumah kami pesta bakso, kalau tidak salah saya posting juga di fesbuk. Rasanya enak sekali.

Beberapa hari kemudian saya kembali ke Jepun. Nah saat sudah kembali ke Jepun itulah Kakak saya mengirim pesan bahwa kedai bakso tempat saya membeli bakso tersebut diberi garis polisi dan ditutup. Ternyata pedagang bakso menggunakan daging celeng untuk membuat baksonya.

Astaghfirullah.

Anda bayangkan, saya mengedepankan husnudzhon membeli bakso dengan niat baik menyenangkan Ibu saya ternyata memakan bakso dari daging celeng. Tentu saja saya memohon ampun kepada Allah SWT.

Tapi ini mengerikan. Bagaimana bisa, di negeri mayoritas muslim daging celeng yang haram beredar luas dan dijual seakan-akan barang halal? Apakah penjual daging dan penjual baksonya bukan muslim?

Di Jepang tentu saja buanyak sekali makanan mengandung babi dan turunannya. Namun di bagian ingredients biasanya dicantumkan kode yang jelas setiap bahan makanan. Standar etika di sini tinggi, jadi produsen dan pedagang jujur. Pun di rumah makan anda bisa tanya bahan makanannya apa dan mereka akan menjawab (biasanya) dengan jujur.

Hmm coba anda makan di Warteg atau Kios Mie Ayam. Apakah ada label halal di sana? Apakah anda juga bertanya bahwa daging yang dipakai disembelih dengan menyebut nama Allah? Atau ayam yang dimakan adalah ayam beneran dan bukan jadi-jadian? Atau ayamnya benar-benar disembelih dan bukan ayam tiren yang dijual belikan dengan harga murah? Apakah mie ayam betul-betul menggunakan daging ayam?

Saya menaruh perhatian kepada persoalan-persoalan seperti ini juga gara-gara Ayu suka menonton Reportase Investigasi. Dia sampai hafal cara membuat bakso tikus.

Jadi apa kesimpulannya?

Kadar berhati-hati soal makanan, sama porsinya baik kita tinggal di negeri minoritas muslim ataupun mayoritas muslim. Di negeri mayoritas muslim tapi etika dan kejujuran diletakkan di tempat sampah, justru mesti lebih berhati-hati.

Ini baru soal makanan, di bagian kedua saya akan menulis bahwa halal-haram tak hanya soal zat dalam makanan, tapi juga bagaimana makanan tersebut didapatkan. (bersambung, mau tidur dulu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s