Pemilihan Rektor Untirta sudah selesai.

Pemimpin terpilih akan segera bekerja dan diawali dengan menuntaskan agenda-agenda politik tersisa.

Saya mengamati dari jauh, ribuan kilometer jauhnya dan tak bisa berperan serta dalam hiruk-pikuk pemilihan. Namun beragam informasi memang hadir melalui akun facebook teman-teman saya yang kadang bikin tersenyum atau dahi berkerut (Baca: rungsing). Yang bisa saya lakukan hanya menitipkan gagasan melalui tulisan di Radar Banten, sempat dipublish juga di blog ini.

Saya sendiri sedang fokus menghadapi ujian (duh kalau denger kata ini tiba-tiba mules)

Yups, akhir bulan ini saya akan menjalani sidang disertasi. Kalau di Indonesia acaranya heboh seperti hajatan, he he. Kalau di sini ya tegang juga itunya (maksudnya perasaannya), namun biasanya yang hadir tak terlalu banyak. Juga tak perlu menyiapkan konsumsi atau souvenir cukup penguasaan materi saja.

Doakan saya lulus ya biar pulang sudah membawa gelar bersama ilmunya.

***

Namun apapaun hasilnya semester besok saya akan kembali mengajar (Yuuu huu). Kangen dengan suasana kampus yang ramai (dalam arti sebenarnya), guyub dan penuh diskusi lepas dengan kolega dosen dan mahasiswia.

Entah apapun peran yang akan dijalani, tugas utama saya jelas: mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian pada masyarakat.

Untuk mengajar sedang ada beberapa bahan dimatangkan. Saya beruntung ada beberapa sumber buku berbahasa asing yang bisa saya dapatkan memperkaya materi belajar. Sedang diupayakan dirangkum menjadi buku.

Untuk penelitian, setidaknya ada dua tema besar riset dengan beberapa peneliti asing dan juga Indonesia yang sedang dibicarakan. Mungkin akhir tahun atau tahun depan akan terbit dalam buku, baik berbahasa Inggris maupun Indonesia. Saya juga sedang merancang penelitian sendiri dan juga bersama kolega dari Untirta. Moga-moga hasilnya bisa terbit di jurnal internasional dan nasional.

Pengabdian pada masyarakat ngapain ya? He he, dulu sih jadi ketua RT. Tapi nampaknya saya akan membiarkan diri saya kembali ke ruang publik mengisi berbagai diskusi, terutama dengan mahasiswa. Ini seperti dulu, bayarannya cukup selembar sertifikat, he he. Atau kembali bertemu dan kerja bareng berbagai komunitas seperti foto di bawah, Lab ANE dan Tapak Bumi Village.

Hmm sebetulnya ada tema-tema lain yang menarik bagi pengabdian. Nanti lah idenya dimatangkan dulu sebelum dilempar dan didiskusikan (lha kenapa mesti dilempar, emang bola?)

***

Jadi nampaknya akan sibuk. Tapi tenang saja, masih ada waktu cukup sampai semester baru dimulai. Oh ya begitu semester baru dimulai, saya juga akan pamit sekitar dua minggu untuk kelulusan dan mengurus administrasi (Jika lulus amiiiiiiin).

Perlu gak yah nambah kesibukan?

Hmm yang jelas sebagai Orok Menes yang besar di Pandeglang, rasanya pengeeen gitu kampus negeri di tanah Banten ini bisa lebih maju. Idenya sederhana, menyalakan lilin dan bukan memaki kegelapan.

Saya sebetulnya tertantang menghadirkan atau memimpikan (masak tertantang bermimpi? hadeuh) lahirnya suasana akademik yang lebih kuat di FISIP Untirta. Lha kok FISIP, iya lah, tempat bermain dan belajar saya kan FISIP, masak mengurusi Fakultas Teknik, he he.

Misalnya, saya membayangkan ada MoU antara FISIP Untirta dengan kampus-kampus dalam luar negeri. Tentu saja bukan MoU tidur, tapi MoU yang hidup. Katakanlah mahasiswa bisa ditukar, eh maksudnya bikin pertukaran mahasiswa dengan kampus di dalam atau luar negeri.

Hmm dulu saya pernah mengelola sebuah tim sebagai host field school bagi mahasiswa Graduate School Asian African Studies Kyoto University. Seru dan bermanfaat banget.

Sumber: facebooknya Kang Ari

Atau kita bisa mengundang (hmm kalau mengundang berkonotasi keluar duit ya menghadirkan) Professor dari kampus di luar negeri  dan juga mengirim Dosen FISIP Untirta untuk mengajar di sana, mungkin selama beberapa minggu atau bulan. Saya bisa lobby Sensei saya untuk hal ini.

Untuk kampus dalam negeri, rasanya bikin program Sister Campus (Atau Brother Campus) ide yang lutju juga dan bisa diimplementasikan. Yups sebagai yang lebih muda gak ada salahnya benchmarking ke kampus yang lebih tua. Saya pikir FISIP UI (Kebeneran Dekannya kenal baik) atau FISIP Unhas menarik juga.

Atau kita juga bisa bikin Seminar Internasional beneran. Ini bukan perkara ikut trend dan biar keminggris, tapi agar terjadi dialog dan terbuka berbagai jaringan keilmuan antara dosen FISIP Untirta dengan dosen dari berbagai belahan dunia. Kegiatan semacam ini juga berpotensi membuka kerjasama riset, MoU antar lembaga dan bahkan kerjasama antar individu dosen. Jejaring internasionalyang saya miliki dan juga oleh dosen-dosen FISIP Untirta saatnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan institusi.

Abdul Hamid Dosen Fisip Untirta, dalam sebuah Riset di Surabaya

Ya, mendorong adanya sistem yang pro pengembangan akademik juga harus dibuat. Katakanlah alokasi SPPD untuk mengikuti kegiatan ilmiah seperti presentasi di seminar. Atau membangun suasana nyaman dimana Dosen aktif bisa punya meja kerja sendiri untuk bekerja dengan akses internet memadai. Atau juga membangun semacam “business centre” (yang pernah ke hotel pasti paham) dimana ada pojok untuk fotocopy, print dan fax untuk aktivitas akademik. Hmm soal infrastruktur ini ngeri-ngeri sedap,  seperti Roro Jonggrang membangun jembatan Suramadu, he he. Tapi saya yakin bisa.

Tentu saja dibarengi dengan pembenahan di aspek pengelolaan SDM (baca:kepegawaian). Prestasi FISIP Untirta dalam penerapan E Service bisa ditingkatkan dengan pembuatan Sistem Informasi Kepegawaian bagi Dosen dan Staf. Gambarannya, dosen dan staf punya akun di mana mereka bisa masuk dan melihat data-data kepegawaian secara online. Secara berkala mendapat notifikasi untuk urusan administrasi seperti kenaikan jabatan fungsional atau golongan. Hmm rasanya ini bukanlah hal yang baru, tinggal dieksekusi lebih cantik saja. Apalagi di FISIP Untirta tempat para jagoan E Gov berada 😉

Saya berfoto bersama jagoan E Gov. (berbatik cokelat) 😉

Saya juga memimpikan FISIP Untirta bisa menjadi surga bagi kajian tentang banten dan juga ilmu sosial. Yups, seperti pernah saya sampaikan, ada banyak sekali peneliti yang sudah atau akan meneliti soal Banten. Banten dari berbagai aspek dikaji dan didiskusikan di berbagai belahan dunia seperti Marseille, Kyoto, Macau, Jakarta dan juga terbit di berbagai jurnal bergengsi seperti Jurnal Indonesia, Mousson atau Jurnal Asian Politics and Policy.

Oh ya balik soal surga, saya membayangkan jika secara institusi, FISIP Untirta memang menyediakan beragam pustaka tentang Banten, semacam Banten special collection (kayak butik aja) baik klasik maupun kontemporer. Jadi peneliti tentang Banten dari negara manapun memang merasa perlu mampir untuk datang membaca plus berdiskusi tentang Banten dengan para dosen. Percayalah, hal-hal seperti ini akan membuka jaringan dan peluang kerjasama.

Ini yang disebut sebagai Going Glokal, kemampuan mengelola lokalitas untuk tampil secara global.

Nah sistem yang dibangun juga menyertakan pengembangan SDM (Dosen dan Staf) agar bahagia dan sejahtera. Katakanlah perlu ada pengembangan diri yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan bagi staf dan dosen.

Kemampuan Dosen menulis di jurnal internasional misalnya, sekarang menentukan maju-mundurnya (hmm inget Syahrini) karier seorang dosen. Perlu dibikin sistem yang membantu memfasilitasi Dosen menerobos hal tersebut. Bukan sekedar pelatihan sekali-dua kali, ndak cukup !. Tapi sistem pendampingan dari sejak riset sampai publikasi. Jangan sampai publikasi di jurnal predator misalnya.

15307106724_1e79496bd3_o
Beberapa Jurnal bukan predator.

Jika ini berjalan, maka gerbong bergerak ke depan, para doktor (yang dalam beberapa tahun ke depan akan membanjiri FISIP Untirta) bisa lekas menjadi guru besar dengan cara yang berintegritas. Kalau di berbagai kampus tetangga, ini disebut program percepatan Profesor. Nah terobosan ini hasilnya memiliki multi manfaat, dosennya maju, institusinya juga maju. Institusi tak hanya duntungkan dari aspek akreditasi, tapi jadi lebih mudah membayangkan FISIP Untirta bisa membuka program Doktor Ilmu sosial beberap tahun ke depan.

Saya percaya FISIP Untirta memiliki segala potensi untuk maju. Yang diperlukan adalah leadership, sinergi dan pemahaman tentang situasi yang berubah dengan cepat.

Perubahan cepat salah satunya ya implementasi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) di akhir tahun ini. Kampus mesti berakselerasi kalau tak mau terlibas. Ini alasan kenapa isu internasionalisasi dituliskan di bagian awal tulisan ini, meminjam kata Mbah Darwin: “The Survival of the Fittest”.

Oh ya bagaimana dengan mahasiswa?

Jaman saya menjadi mahasiswa yang lugu dulu tentu berbeda dengan sekarang. Dulu menjadi aktivis adalah sesuatu yang keren, maka jadilah saya Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI (ciee). Tapi sekarang menjadi aktivis saja tidak cukup.

Dunia mahasiswa kekinian (duh akhirnya pake istilah ini) selalu berpadu diantara beberapa hal: akademik, organisasi, bisnis dan kegiatan sosial.

Keempat hal ini mesti difasilitasi pengembangannya secara simultan oleh Kampus. Saya berpikir jika kita bisa mengundang pebisnis, kreator, akademisi atau social activists ke kampus untuk melakukan diskusi atau bahkan coaching, sepertinya keren bingits. Ha ha, Raditya Dika atau Diajeng Lestari, mantan mahasiswa saya di kelas Poldes di UI mau kali ya diundang. Atau saya juga yakin Ka Mukhlis Yusuf mantan CEO Kantor Berita Antara bisa hadir memberi inspirasi. Kita mungkin bisa bikin semacam TedX di FISIP Untirta.

Tentu ditambah fasilitasi beasiswa untuk melanjutkan studi baik di dalam dan luar negeri yang sekarang berlimpah. Ada banyak dosen FISIP Untirta yang bisa berbagi cerita, kiat dan sekaligus rekomendasi. Mereka studi lanjut di kampus-kampus di Indonesia, Jepang, Amerika, Malaysia atau Australia.

Jika sekarang saja alumni FISIP Untirta sudah keren-keren, bagaimana kalau ide-ide ini diwujudkan ya?

Keren? Yups, sudah ada yang jadi dosen, eksekutif muda di berbagai perusahaan swasta, PNS di berbagai kementerian pusat dan pemda, ibu rumah tangga yang keren, pengusaha, jurnalis bahkan Ketua Sekolah Tinggi. Gimana gak keren?

Nanti alumni mesti difasilitasi untuk berbagi inspirasi bagaimana menghadapi dunia nyata paska kampus bagi adek-adeknya (Cieee). Siapa tahu ada yang berjodoh (ha ha).

Nah berbagai hal di atas bisa kok diwujudkan.

Tentu dengan sinergi, kerja bareng-bareng, bukan satu,dua atau tiga orang saja.

13986261349_0462ce3e09_o
Kru Lab ANE, pada satu waktu.

***

Sementara gagasan-gagasan di atas masih jadi mimpi.

Hmm ternyata beda ya pemimpi dan pemimpin 😉

Tapi pemimpin yang baik selalu memulainya dengan bermimpi yang baik.

Saya juga masih mikir apakah mimpi ini harus (lagi-lagi) dititipkan atau sekalian diwujudkan dengan tangan sendiri.

Ada usul?

***

Kyoto, 16 Juni 2015.

Nulis ini gara-gara telat ke dokter gigi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s