(Tulisan ini dimuat di Radar Banten Edisi 29 April 2015)

Proses pemilihan Rektor Untirta sudah dimulai. Ritual empat tahunan yang tak hanya menentukan bagaimana wajah Untirta empat tahun ke depan, tapi juga Banten dan Indonesia.

Tantangan

Secara garis besar ada dua tantangan besar yang mesti dihadapi Rektor Untirta empat tahun ke depan, internal dan eksternal.

Tantangan internal utama adalah mewujudkan Untirta sebagai kampus yang ideal bagi proses pelaksanaan tridharma pendidikan tinggi: pendidikan, pengajaran dan pengabdian bagi masyarakat. Persoalan carut marutnya infrastruktur sudah harus menjadi persoalan yang diselesaikan oleh Rektor terpilih nanti, bukan lagi menjadi wacana empat tahunan yang terus diulang-ulang. Infrastruktur dasar seperti tempat belajar-mengajar yang nyaman, akses internet berkualitas, ruang kerja dosen dan staf yang memadai, perpustakaan yang berbobot, ruang kreasi mahasiswa yang lapang atau kantin yang representatif adalah hal yang mesti dipenuhi sesegera mungkin.

Kampus utama Untirta yang telah menjelma menjadi tempat parkir raksasa harus dibenahi dengan serius. Kampus harus menjadi oase yang menenangkan dan nyaman bagi para pencari ilmu. Ini juga menjadi tantangan bagi pengembangan kampus Cilegon dan dua kampus Untirta yang lain.

Pembenahan infrastruktur membutuhkan kreativitas, jaringan dan tentu saja integritas. Kreativitas di sini artinya kemampuan mencari sumber-sumber dana di luar APBN dan PNBP. Karena itulah Rektor kelak mesti memiliki jejaring mumpuni, di dalam dan di luar negeri. Namun lagi-lagi, kreativitas dan jaringan mesti dibatasi oleh integritas untuk memastikan bahwa masuknya berbagai kontribusi ke Untirta memang untuk pengembangan kampus, bukan hal lain.

Tantangan internal lain adalah pengembangan keilmuan dan pengelolaan sumber daya manusia. Bertambahnya jumlah dosen bergelar doktor harus membuat Untirta mampu menyerap mereka untuk kemajuan institusi itu sendiri. Jika tidak yang terjadi adalah brain drain. Harus ada roadmap yang jelas tentang pengembangan kelembagaan dan target-target yang realistis namun optimis. Pembukaan program doktor misalnya harus segera direncanakan dengan matang. Jika membutuhkan Guru Besar, maka mesti ada program percepatan menjadi Guru Besar terhadap para Doktor yang bergelar Lektor Kepala. Jika persoalannya adalah publikasi karya ilmiah internasional bereputasi, mesti ada program pendampingan dan pembiayaan untuk itu.

Sementara tantangan eksternal yang penting adalah bagaimana membangun marwah Untirta. Rebranding Untirta sebagai Universitas yang tak hanya dikenal dengan baik di tingkat Banten tapi juga nasional dan internasional mesti dilakukan, simultan dengan pembenahan internal. Sebagai contoh, mesti ada dorongan nyata (baca: pembiayaan) bagi para ilmuwan Untirta untuk berperan di berbagai pertemuan ilmiah nasional dan internasional untuk mengibarkan bendera Untirta setinggi-tingginya.

Tantangan eksternal terbesar adalah juga beradaptasi dengan perubahan global. ASEAN Community yang direalisasikan tahun ini membuat Untirta harus mampu bersaing di dalamnya. Memetakan kekuatan sendiri di dunia akademik menjadi salah satu tugas besar Rektor Untirta. Berkiprah di kancah global tentu saja tak harus mengabaikan lokalitas. Lokalitas justru menjadi modal besar untuk bersaing sekaligus berjejaring di tingkat global. Rektor Untirta harus mampu duduk sejajar dengan para pemimpin kampus dari berbagai belahan dunia, membuat kerjasama dan merealisasikannya.

Dalam beberapa tahun belakangan kajian tentang Banten dibahas di berbagai tempat dunia, mulai dari Kyoto sampai Marseille dan dimuat di berbagai jurnal mulai dari Prisma di Jakarta sampai Jurnal Indonesia di Cornell. Dalam bayangan saya, Untirta harus menjadi tempat persinggahan wajib bagi siapapun yang akan meneliti berbagai aspek tentang Banten.

Pada akhirnya tantangan eksternal terbesar adalah menjadikan Untirta memiliki manfaat bagi masyarakat. Berbagai persoalan yang membelit Banten seperti ketertinggalan infrastruktur, kemiskinan, persoalan lingkungan atau korupsi harus menjadi kajian serius dan ditemukan akar masalahnya secara ilmiah. Untirta harus mampu menyajikan solusi kepada pemerintah dengan integritas. Ilmu dan Integritas inilah yang membuat Untirta memiliki marwah yang tinggi di mata pemerintah dan masyarakat, bukan yang lain.

Pertarungan Gagasan

Berbagai tantangan di atas hanyalah secuplik dari berbagai persoalan besar lain yang lebih kompleks. Jangan sampai memetakan kekuatan pesaing dalam pemilihan Rektor melupakan pemetaan masalah kampus dan menjadikan gagasan hanya sebagai basa-basi. Memetakan persoalan kampus dan mempertarungkan gagasan harus menjadi agenda terpenting dalam pemilihan Rektor kali ini. Siapapun yang terpilih kelak, mesti merangkum gagasan cemerlang dari semua kandidat dan mengejawantahkannya dalam program yang kemudian direalisasikan.

Pada akhirnya membenahi berbagai persoalan di atas dan mewujudkan berbagai gagasan tak hanya berada di tangan Rektor. Rektor harus menjadi dirigen yang memastikan bahwa semua stakeholder memainkan nada yang sesuai agar menghasilkan irama yang merdu.

Jadi apa gagasan para calon Rektor Untirta?

****

Penulis Abdul Hamid alias Abah Hamid

Dosen FISIP Untirta, Sedang Mencari Ilmu Kesaktian diΒ Jepang πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s