Mengontak Profesor di Luar Negeri

Salah satu syarat utama sekolah S3 di luar negeri adalah mendapatkan pembimbing atau Profesor.

Ini jadi syarat utama, karena porsi riset dan belajar di luar kelas biasanya lebih dominan daripada belajar di kelas.

Nah biasanya kalau sudah mendapatkan Profesor, hal-hal lain bisa dibantu oleh beliau sehingga menjadi lebih mudah.

Source: http://www.uni.international.mext.go.jp/

Namun sayang, banyak yang mengabaikan etika berkomunikasi sehingga gagal atau kurang mendapatkan respon atau bahkan mendapatkan respon yang negatif.

Berikut beberapa tips berkomunikasi dengan Professor yang sebelumnya belum dikenal.

1. Cari Profesor sesuai bidang ilmu kita, biasanya di website Universitas/Grad. School ada halaman Faculty atau Professor yang berisi halaman profil masing-masing Professor. Mesti ditilik satu persatu, mana yang cocok dengan riset kita. Jangan males, no pain no gain !

2. Jika menemukan yang cocok, segera diemail secara langsung dengan memperkenalkan diri (termasuk rencana pembiayaan studi) dan lampirkan CV. Jika respon baik boleh juga kirimkan rencana riset ringkas 2 atau 3 halaman saja untuk menunjukkan minat kita. Rencana riset tersebut bisa juga dikirimkan di email pertama.

3. Jangan mengirimkan email ke beberapa Professor yang berada dalam satu Grad. Scool atau lab. secara bersamaan. Ini bisa menyinggung harga diri mereka dan membuat email kita direspon negatif. Jika ditolak boleh kirim ke Professor lain yang satu Grad. School atau lab dengan Professor sebelumya. Tapi mengirim email ke beberapa Professor yang berbeda kampus/negara saya pikir ndak masalah.

4. Jika ditolak oleh satu Professor karena ketidakcocokan tema riset, mintakan rekomendasi nama Professor yang lebih cocok, namun jangan berharap terlalu banyak karena Professor biasanya banyak kerjaan 😉

5. Jangan cepat putus asa. Mencari Professor seperti mencari jodoh. Ada yang langsung nemu, ada yang bertahun-tahun, ada juga yang bercerai ketika sudah dalam posisi pembimbing-mahasiswa.

6. Untuk Jepun, Professor (Sensei) – Mahasiswa hubungannya seperti Ayah dan Anak. Perlakukan dengan hormat seperti memperlakukan Ayah, ini beda banget dengan di tempat lain seperti Aussie atau US yang bisa langsung menyebut nama. Jadi walaupun Sensei saya bilang “Please call me Eiji”, saya selalu memanggilnya “Oyamada Sensei”. Nah, tapi ke beberapa Sensei yang kebetulan sudah lama menjadi sahabat, saya kadang memanggilnya Bos atau Pak, saja.

7. Pengalaman setiap orang tentu saja berbeda, ini general rules saja berdasarkan pengalaman pribadi. Cerita saya soal proses mendapatkan beasiswa ke luar negeri sejak tahun 2006 dan baru mendapatkannya di tahun 2011 (berangkat 2012) bisa dibaca di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s