Entah mungkin sudah pikun, smartphone dalam jaket hoodie ikut tercuci dalam mesin cuci. Sempurna sampai bersih, wangi dan kering karena dijemur, masih di dalam kantong.

Urusannya jadi panjang.

Smartphone di Jepun biasanya menggunakan sistem berlangganan. Nah kali ini saya memakai Samsul S4 dari docomo. Dulu hijrah dari softbank karena alasan pragmatis, dapet cashback 40.000 yen (empat puluh ribu yen). Dasar mahasiswa kismin mata duitan, langsung berpaling begitu saja (baca ceritanya di sini). Jadilah waktu itu menggunakan Samsul S4 menggantikan Ipin 4S. Oh ya, nomornya dengan sistem MNP bisa tetap sama, akhirannya sesuai tanggal lahir saya: 10481 😉

Begitu ketauan tercuci saya mencoba berbagai saran. Mulai dari dimasukkan ke dalam beras seperti buah alpukat, sampai dikeringkan di pemanas dan karpet hangat. Hasilnya, lampu berkedip dan batere membengkak. Layar tetap tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Akhirnya datanglah ke toko Docomo di Takano. Menunggu satu jam.

Untunglah ada mbak-mbak CS yang berbahasa Inggris. (Biasanya kalau tak bisa bahasa Inggris memaka penerjemah via telepon). Si Mbak membuka  handphone memeriksa bersama teknisi, dan menyatakan.

“Maaf Mas, ini ada tanda-tanda basah”

Dia menjelaskan bahwa ada stiker putih yang berubah menjadi ungu. Itu tanda handphonenya basah. Basah, mati total, batere menggelembung membuat Mbaknya mengatakan bahwa si Samsul tak bisa diselamatkan lagi.

Ia memeriksa asuransi, ternyata kami tak berlangganan asuransi.

Jadi pilihannya, menyudahi kontrak dengan membayar denda dan sisa cicilan handphone. Atau membeli handphone baru menggantikan handphone yang sudah almarhum.

Kalau berhenti dendanya 10.000 yen ditambah cicilan handphone sekitar 3.500 yen dikali lima bulan. Jadinya banyak. Ini ibarat sudah jatuh tertima tangga. Tapi apa boleh buat, itulah kontrak. Beli handphone baru di docomo juga mihil, bisa lebih murah kalau membuat kontrak baru dua tahun tapi teteup mesti menutup kontrak lama yang artinya bayar juga.

Si Mbak keukeuh walaupun kami menunjukkan wajah memelas “It’s promise”, katanya. Maksudnya “Ini adalah perjanjian”.

Mbulet banget pokoknya

Hmm akhirnya aku bertanya, bisa ndak kalau memakai handphone lain dan tetap melanjutkan sisa lima bulan tanpa kena denda? Ia menjawab : “Bisa, tapi mesti handphone docomo dan pastikan ndak punya tunggakan”.

Akhirnya kami mengakhiri pembicaraan tanpa keputusan.

Hmm sebenernya ada iphone bekas dulu softbank yang sudah diunlock dengan gevey card. Pake kartu telkomsel sih oke, tapi pake kartu docomo ini ndak mau jalan internetnya, hanya suara dan sms saja. Padahal biaya langganan terbesar ya internetnya, karena harga gadget samsulnya digratiskan. Kontraknya begitu, mbulet pokoknya.

Pulang kami kehujanan dan kemudian makan malam.

Setelah itu berbincang dan akhirnya memutuskan, beli handphone bekas secara online di sofmap. Harga handphone bekas di Jepun cukup murah karena dikunci oleh operator. Jadi tidak terlalu laku. Oh ya, untuk gadget sofmap rasanya lebih murah daripada ikut lelang di Yahoo Auction.

Waktu berlalu, tak sampai satu purnama.

Di suatu pagi bel berbunyi, ternyata mas-mas Kuro Neko datang membawa paket, isinya Samsul Note3 batangan dari sofmap.

Dicoba, semua berjalan lancar jaya, termasuk internet dan telepon.

Case closed, saatnya bayar tagihan kartu kreditnya 😉

Iklan

Satu tanggapan untuk “Setelah Handphone Masuk Mesin Cuci di Jepun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s