Reuni

Semalam istriku bercerita tentang reuni teman-teman sekolahnya di sebuah mal di kawasan Tangerang.

Bagi saya reuni selalu menjadi hal yang menarik dibicarakan.

Mulai dengan pertanyaan dulu, jika teman SD, SMP, SMA atau kuliah mengajak reuni, anda bahagia atau tidak?

Ya, selalu ada yang senang dan sebaliknya, dengan beragam alasan.

Abdul Hamid waktu jadi Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI

Yang senang juga memiliki beberapa tipe. Pertama, bisa jadi memang karena tulus ingin bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang terpisah jarak. Bisa bertemu dan saling menanyakan kabar adalah hal yang menyenangkan bukan?

Tapi turunan dari tipe tulus ini bisa jadi kategori kedua, senang karena ingin reuni hati. Ups, masa-masa sekolah tentu saja masa yang penuh semangat dan gelora muda kan? Nah reuni tentu saja kesempatan terbaik untuk bertemu dengan lelaki atau perempuan dari masa lalu itu. Bisa berbahaya jika orangnya sama-sama atau salah satu sudah bersuami/beristri atau berbuntut.  Pertemuan di reuni bisa berlanjut dengan bertukar akun fesbuk, line, whatsupp, nomor telepon, pin bb dan sebagainya. Reuni hati ini bisa merusak stabilitas, memporak-porandakan keutuhan rumah tangga dan menghancurkan masa depan si buntut. Tapi kalau sama-sama single dan berjodoh ketika reuni ya alhamdulillah.

Tipe senang reuni ketiga adalah tipe pebisnis sejati. Reuni adalah kesempatan memperluas jejaring, menambah downline, klien atau customer. Ya siapa tahu teman reuni sudah jadi angel investor yang bisa mendanai startup yang sedang mencari dana segar. Kita sedang punya masalah hukum bisa bertemu kawan yang jadi pengacara, kapan lagi konsultasi gratis. Atau jika kita saudagar beras organik kan bisa juga mendapatkan customer baru sambil promosi hidup sehat. Nah ini sesuai dengan hadits:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Tipe keempat mereka yang senang reuni ya tipe pamer. Biasanya ada saja orang yang ketika reuni ingin menunjukkan sesuatu: gelar, kendaraan, gadget, arloji, pasangan, tas branded atau batu akik. Nah tipe ini repot banget ketika mau reuni karena berusaha tampil TIDAK apa adanya. Punya avanza tapi mau dateng bawa pajero sport yang dipinjem dari mertua misalnya, he he.

Nah bagaimana kalau yang tipe ndak suka reuni?

Tipe pertama ya mereka yang merasa tidak aman dan nyaman dengan dirinya, selalu mengukur baju yang dipakai dengan baju orang lain. Malu datang karena belum punya pasangan atau belum punya momongan atau belum punya kendaraan. Tidak siap menghadapi “tatapan meremehkan” dari orang lain. Padahal “tatapan meremehkan” itu kadangkala hanya ada dalam pikiran saja. Jikapun ada yang rewel begitu dan bertanya: “kapan nikah?”, “kapan punya anak” atau “kok masih naek angkot?” ya tinggalkan saja, masih ada banyak teman lain kan?

Jika berpikir sedikit positif justru dengan reuni bisa ketemu jodoh, atau ketemu kawan yang bisa memberi tips manjur mendapatkan momongan atau teman yang menawarkan kendaraan dengan diskon 90% 😉

Tipe kedua ya tipe pendendam. Ada saja orang yang menganggap masa sekolah bukanlah masa-masa terbaik, dianggap aneh, dibully atau tidak punya teman. Nah biasanya reuni dianggap bisa jadi siksaan. Bertemu orang yang dulu men-jahati. Jadi dicarilah alasan menolak reuni.

Hmm percayalah, orang berubah kok. Kalau nggak percaya coba kepo di fesbuk, perhatikan ada teman yang nakal sudah jadi alim dan sebaliknya. Datang ke reuni membuka kesempatan mengobati luka lama dengan saling meminta maaf.

Tipe ketiga menghindari reuni karena takut bertemu dengan mantan. Ya, pacaran enam tahun SMP sampe SMA terus dia berjodohnya dengan orang lain gimana ya? Apalagi masih suka. Coba bayangkan ketika reuni menyaksikan mantan menggandeng suami yang ganteng dan bergelar doktor serta keturunan keraton, turun dari mobil mewah dan bawa anak tiga biji. Beuh Sakitnya tuh di sini 😉

Kalau single merasa tersiksa itu normal. Tapi kalau sudah menikah dan berbuntut dan masih tersiksa, waduh. Mengatasinya bangunlah larut malam, solat tahajud, pandangi istri/suami dan anak-anak yang sedang lelap selama tiga menit sembil mencium rambut dan menghirup bau acemnya. Menurut Mbah Hamid itu menaikkan kadar kecintaan terhadap keluarga sebesar tiga ratus persen.

Tipe keempat ya tipe sibuk. Ya mau bagaimana lagi, pada saat jadwal reuni di Aceh mesti mengajar di Melbourne. Penjadwalan jauh-jauh hari bisa menolong tipe sibuk ini. Walaupun entah kenapa, biasanya reuni dadakan kadangkala lebih berhasil daripada reuni yang direncanakan jauh-jauh hari.

He he, sudahlah. Kok saya promosi reuni….

Anda masuk tipe yang mana? atau punya tipe sendiri?

Catatan: Kategorisasi di atas berdasarkan pengamatan belaka dan satu orang bisa tergabung di satu tipe atau lebih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s