Rubuhnya Kampus Kami

Sudah dua kali setidaknya seorang sahabat saya mengeluh di media sosial. Kampusnya tak memberi dukungan untuk aktivitas pengembangan akademik: menjadi pembicara di sebuah seminar level asia di Taiwan dan mengikuti summer camp di Belanda.
Ini persoalan kronis sebetulnya. Kampus tak memiliki visi akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun cenderung hanya menjadi gedung sekolahan plus lembaga birokrasi.
Betul, kegiatan belajar-mengajar memang penting. Namun jika ini yang menjadi satu-satunya aktivitas yang dianggap penting dan menihilkan aktivitas akademik yang lain, apa bedanya dengan SMP dan SMA?
Sebagai lembaga birokrasi, kampus juga terjebak pada kegiatan-kegiatan administratif, menghabiskan banyak anggaran untuk seremonial atau rapat, namun mengabaikan pentingnya civitas akademika berdialog dalam kegiatan-kegiatan ilmiah bertaraf internasional.
Sederhananya, pertanyaan ini mesti dijawab, lebih penting mana, memberikan dana SPPD bagi dosen yang akan menjadi pemakalah di sebuah seminar internasional atau bagi pejabat kampus untuk rapat atau studi banding?
Jawaban atas pertanyaan ini menunjukkan apakah kampus cukup punya visi akademik atau tidak.
Atau lebih keras lagi, apakah visi yang dimiliki World Class University (Universitas Kelas Dunia) atau Word Class University (Universitas Kelas Omongan doang).
Sekali lagi, visi – misi yang hebat, mesti diuji dalam praktek nyata.
Begitu kira-kira

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s