Dompet, Kenji dan Kue

Ini cerita sekitar dua minggu lalu.
***
Dompet saya hilang, entah ketelisut dimana.
Nah sorenya ketika sedang makan-makan di rumah Om Bondan, ada telepon dari private number. Awalnya berbahasa Jepang, namun sadar bicara dengan gaijin, ia berbicara dalam bahasa inggris. Intinya, ia menemukan dompetku di Supa Grace Tanaka dan hendak mengembalikannya. Saya diminta datang besok ke kantornya.
Nah, besok pagi sambil mengantar Ayu dan Ilham saya mencari kantor si penelepon. Petunjuknya, sebelah SDN Youtoku. Muter bolak-balik, ndak ketemu-ketemu kantor Soku Kan. AKhirnya saya menyerah dan melipir ke seven eleven, memfotokopi bahan presentasi. Ya siang jam 11.35 saya punya jadwal presentasi progress repot penelitian di depan sejumlah Professor.
Nah beres fotokopi, telepon berdering, si penemu dompetku menanyakan posisiku dan menunjukkan tempatnya dengan lebih rinci. Aku lantas menuju kantornya yang ternyata bearada di seberang stasiun Chayama. Si Ibu – tepatnya nenek menyambutku dan mengajak ke dalam. “Di luar dingin”, katanya.
Wah ternyata kantornya adalah lembaga tempat bekerja orang-orang difabel, Ia mengajar menggambar di sana.
Ia mempersilahkan aku duduk dan kemudian menyampaikan betapa kagetnya menemukan dompetku. Lebih kaget lagi karena di dalamnya ada kartu nama “Abdul Hamid”, ia mengaku shock karena pasti pemiliknya orang Islam. Namun ketika menelepon dan ada backsound suara anak-anak ia merasa harus menolongku. “Ini seperti jiwa Kenji yang menyuruh saya menolongmu” katanya dalam bahasa Inggris yang lancar. Ya, Ia kemudian menangis menyatakan kesedihannya atas kematian Kenji yang dibunuh oleh ISIS.
Ia memberikan dompetku dan memintaku mengecek apakah ada yang hilang. Ia meminta maaf telah membuka dompetku untuk mencari nomor telepon yang bisa dihubungi.
Semua lengkap.
Si Ibu ke dapur dan balik lagi membawa dua buah bungkusan.”Ini ada omiyage, kue strawberry dari Jepang, tenang saja tidak mengandung pork”. Melihatku bengong ia kemudian berkata lagi “Ini bukan buat kamu kok, tapi buat anak-anakmu”.
Saya lantas berterima kasih dan pamit.
Selesai memakai sepatu, si Ibu yang menemaniku ke depan kembali menangis, ia merasa sedih soal nasib Kenji, istri dan anak-anaknya. Kenapa mesti ada permusuhan katanya, dulu di Jepang hanya ada dua mesjid, sekarang ada banyak, kami menerima kalian dengan terbuka.
Saya menyampaikan simpati dan kembali pamit.
Si Ibu melepasku dan mengatakan, “Salam buat istrimu, jika ada kesulitan apapun, tolong datang ke saya, pasti akan saya bantu”.
***
Saya lantas melambaikan tangan dan mengayuh sepeda menuju kampus bersama sebuah rasa aneh di benak.
Mesti ngebut kalau tidak bisa terlambat presentasi.

Iklan

One comment

  1. Jadi ikut merasakan ‘rasa aneh di benak’ juga, bah. Hiks… Alhamdulilah masih banyak orang baik dan berempati tinggi, meski bukan di tanah air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s