Dikti Mau Impor Gubes Asing?

Menurut berita ini (http://www.jawapos.com/baca/artikel/11821/Tingkatkan-Kualitas-PTN-Dikti-Impor-Gubes-Asing), Menteri Keriting (Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi) memiliki gagasan mengimpor Guru Besar.

Screenshot 2015-01-23 09.03.54

“Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mengatrol kualitas akademik perguruan tinggi negeri (PTN). Salah satunya adalah rencana mengimpor atau mendatangkan guru besar (gubes) asing untuk mendampingi mahasiswa program doktoral di dalam negeri.”

ditambahkan

“Menurut Nasir impor gubes asing ini tidak perlu direspon berlebihan. Program ini bukan berarti mengenyampingkan posisi gubes lokal. Dia mengakui jumlah gubes di Indonesia masih minim sehingga, untuk menggenjot kualitas pembelajaran, memerlukan bantuan gubes asing. Jika suatu saat jumlah gubes di Indonesia sudah cukup, impor gubes asing ini akan ditinjau ulang.

Jumlah gubes yang relatif banyak hanya di kampus-kampus top. Seperti di Universitas Indonesia (UI) memiliki sekitar 250 orang. Kemudian, Universitas Andalas Padang ada sekitar 130 orang. Selain jumlahnya yang sedikit, gubes Indonesia mulai ada yang terjerat kasus pidana. Seperti korupsi dan narkoba”

Lagi-lagi, Menteri melulu berpikir di wilayah hilir seakan-akan masalah hulu sudah selesai.

Saya sendiri tidak keberatan dengan kehadiran para Professor asing di kampus-kampus di Indonesia. Asal berkualitas, mereka bisa menjadi sparring partner yang baik bagi para dosen-dosen di Indonesia. Tentu juga menambah jejaring di mancanegara. Namun ini tentu saja kebijakan instant yang juga berdampak instant. Ada beberapa kebijakan mendasar yang mesti dibenahi oleh Kementerian.

Penerimaan dosen selama ini menempatkan calon dosen sebagai orang baru di dunia pendidikan tinggi. Sehebat apapun calon dosen di Indonesia, sebanyak apapun karya ilmiah yang pernah dihasilkan atau bahkan paten, semua dihitung nol (0) ketika dia menjadi dosen. Dia akan memulai dari nol lagi ketika memulai karir sebagai dosen. Seleksi sebagai calon dosen juga tidak memperhitungkan portofolio akademik si calon dosen. Selesinya ya administratif (berkas, linieritas, ijazah, dll), test kemampuan dasar dan micro teaching. Seleksi dosen lebih melihat si calon sebagai calon pengajar saja, bukan calon peneliti.

Jadilah kemudian terjadi berbagai fenomena, mereka yang memiliki pendidikan tinggi, katakanlah S3 dan memiliki reputasi akademik yang baik (katakanlah memiliki publikasi internasional dan jejaring internasional) seringkali tersingkir dalam proses penerimaan dosen gara-gara persoalan administrasi. Padahal tentu saja, orang-orang semacam inilah yang dibutuhkan kampus-kampus Indonesia jika mau diakui di tingkat internasional.

Pada akhirnya mereka mungkin menjadi bagian dari brain drain, memilih bekerja dan berkontribusi di luar negeri.

Nah mereka yang kemudian tersaring kemudian karirnya dimulai dari nol lagi sehebat apapun mereka. Jadi kalau dia adalah Doktor yang pernah mengajar di MIT dan pernah menerbitkan tulisan di puluhan jurnal bergengsi sekalipun, dia harus menjadi Lektor 3C dengan standar pendapatan yang memprihatinkan karena masih harus mengantri untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi dosen.

Jadi menurut saya, jika mau mendongkrak Universitas di Indonesia secara permanen: Benahi sistem rekrutmen dan karir dan berikan kesejahteraan yang baik sehingga pekerjaan pengajar di perguruan tinggi menjadi pekarjaan yang kompetitif untuk menarik anak-anak bangsa terbaik. If you pay peanuts, you get monkeys.

Jika mau agak instant, panggil pulang akademisi Indonesia yang bekerja di pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dunia, berikan mereka status yang baik (tidak dimulai dari nol) di kampus, fasilitas yang baik (lab, perpustakaan) juga kesejahteraan yang baik. Mereka akan jadi katalisator yang baik dan lebih permanen ketika berkolaborasi dengan koleganya dan juga para mahasiswa.

Tentu saja berbagai persoalan klasik yang tidak kunjung dibenahi seperti kesejahteraan dosen, fasilitas kampus dan banyaknya urusan administratif sudah mesti diselesaikan. Kalo ndak nanti yang terjadi Professor import itu yang ngajar di kelas dan para dosen tetap nyambi mencari proyek di luar kampus untuk bayar cicilan rumah πŸ˜‰

Begitu Pak Nasir…

Iklan

2 comments

  1. Kok ngawur import Guru Besar,, kenapa tidak perbaiki saja sistem dan fasilitas perguruan tinggi. UNtukdi bidang science and engineering or medicine,Prof or sumber daya manusiannya ada, tapi klo gak ada fasilitas ya sama saja. walah walah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s