Kompolnas mengirim rekomendasi ke Presiden.

Presiden memilih BG dan mengirimkan surat pengajuan ke DPR.

Media dan LSM ramai-ramai menolak BG, terbentuk image BG polisi gendut, eh polisi rekening gendut.

KPK menetapkan BG sebagai tersangka korupsi.

DPR tiba-tiba nampak bersemangat melakukan fit and proper test dan mengunjungi kediaman BG, menyatakan simpati.

BG menghadiri fit and proper test.

*****

Drama di atas berjalan cepat sekali dan melibatkan elite di lingkaran paling dalam politik nasional. Apa ujung dan pangkalnya Apa pelajaran dari rangkaian peristiwa di atas?

Oh ya tentu saja rangkaian di atas adalah rangkaian peristiwa yang berjalan secara formal. Banyak spekulasi dan saya sepakat, secara informal, ada banyak titipan dari orang-orang sekitar Presiden tentang siapa sebaiknya (atau juga seharusnya) diusulkan jadi Kapolri. Kata Mbah Lasswell politik kan memang Who gets what, when and how?

Saya tentu tak bisa membaca hati Presiden, namun mempelajari gaya politiknya, ini jawa banget. Muter-muter ndak jelas tapi sebetulnya ada yang dituju. Ini yang kemudian dibaca oleh KMP, makanya mereka justru berbalik mendukung BG, tentu saja untuk menunjukkan bahwa pengajuan BG adalah kesalahan Presiden, bukan yang lain.

Politisi KIH kebingungan, kalah jam terbang, kurang informasi atau memang belum ada komando karena belum ada kesepakatan di level elite-nya. Padahal sudah malam-malam ngumpul begitu BG jadi tersangka.

***

Saya sendiri selalu belajar melihat dari akhir. Apa dampak dari penetapan BG sebagai tersangka oleh KPK?

Pertama, rekening gendut polisi kembali menjadi wacana publik, ingatan publik dikembalikan kepada dimilikinya harta tak wajar dibandingkan profil penghasilan sebagai polisi. Bukankah beberapa waktu ini kita dihujani berita bahkan petisi soal rekening gendut? Sesungguhnya ini upaya me-recall ingatan publik. Ingat kasus ini berhenti dan tak jelas ujungnya ketika ditangani oleh institusi kepolisian sendiri.

Kedua, nampaknya sasaran tembaknya bukan hanya BG. Ada juga BH yang sekarang menjadi wakapolri dan juga disebut sebagai calon kuat Kapolri. Bukankah penolakan publik dan (nampaknya) akan ditariknya pencalonan BG oleh presiden akan berdampak kepada calon lain yang diduga memiliki rekening gendut seperti BH dan yang lainnya? Ini nampaknya makna dari pepatah menepuk dayung, dua tiga lalat sempoyongan.

Dengan bahasa yang lebih terang: Ada pembersihan besar-besaran di tubuh institusi Polri.

Ketiga, dampak dari hal kedua di atas adalah Presiden punya keleluasaan menentukan Kapolri dari saku bajunya sendiri dan berdasarkan kriterianya sendiri, bukan dari saku Mamake, Mbah Brengos atau sponsor politiknya yang lain. Ini membuka tampilnya profil baru Kapolri yang bersih dari persoalan korupsi dan persoalan lain seperti pelanggaran HAM.

Semoga ya, biar kita punya polisi keempat yang baik selain apa yang disebutkan Gus Dur: Hoegeng, Patung Polisi dan Polisi Tidur πŸ™‚

Iklan

4 tanggapan untuk “Drama Segi Banyak: Presiden, DPR, KPK, Mega, Polri, dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s