Saya anak singkong. Ya, anak singkong beneran. Masa kecil saya dihabiskan di kebon, bertanam berbagai tanaman utamanya singkong yang dalam bahasa pandeglang disebut dangdeur. Jadi kalau mencabut singkong diterjemahkan ke bahasa pandeglang, ngarabut dangdeur. (He he mana ada bahasa pandeglang, ada juga bahasa sunda dialek banten yang katanya paling kasar sedunia)

Ya kembali ke topik. Apa (bapak) saya yang guru memang banyak menghabiskan waktu di kebon. Kebon yang dimaksud adalah tanah seluas sekitar 1000m punya Uwa yang dikelola Apa. Jadi pulang sekolah di hari kerja (weekday) dan sepanjang hari di akhir pekan (weekend) saya memang bekerja di Kebon. Makanya nggak update soal doraemon, satria baja hitam dan film-film lain yang diputar minggu pagi.

singkong
Sumber: http://reps-id.com/wp-content/uploads/2014/01/singkong.jpg

Singkong jadi tanaman utama karena mudah ditanam dan semua bagiannya bermanfaat. Bibitnya ya batang tanamannya itu sendiri, tinggal ditancapkan setelah tanah digemburkan. Umbinya dimakan, batangnya buat bibit atau suluh dan daunnya buat makanan lele, serta pucuknya dijadikan sayur. Paling senang kalau giliran mencabut umbinya, semakin susah semakin menyenangkan karena berarti umbinya besar. Butuh bantuan garpu untuk mencabutnya. Varietas yang kami tanam kalau tak salah singkong mentega, rasanya enak.

Olahan paling enak dari singkong menurut saya ya dibakar, praktis, heroik dan entah kenapa terasa lebih manis saja walaupun membikin gigi jadi hitam. Lebih nikmat sambil minum air kelapa muda (dugan) yang saya petik sendiri dari pohonnya. Hmm digoreng juga enak, dimakan bersama teh manis tubruk cap nutu.

Hmm rasanya singkong dari kebon tidak pernah dijual. Paling banter dibagikan ke tetangga saja. Juga tidak ada istilah panen karena “ngarabut dangdeur” dilakukan kalau memang butuh penganan tambahan saja atau mamah mau bikin getuk, katimus, misro atau combro.

Oh ya, kalau tidak ditanami singkong, kebon ditanami jagung manis atau kacang tanah. Paling menyebalkan menanam jagung, karena benar-benar merepotkan. Apa ngotot memakai pupuk kandang, padahal kami tak punya kambing. Jadilah saya dan Imat si bungsu kebagian pergi ke rumah tetangga untuk meminta tai kambing untuk dijadikan pupuk. Mana berani kami menolak perintah Apa, bisa panjang lebar urusannya. Kami melakukannya biasanya siang-siang sepulang sekolah ketika masih SD. Panas terik membawa tai kambing berember-ember sambil dilihatin tetangga. Masih inget sakitnya tuh di sini. Tambahan pupuk kandang ya dari tai ayam yang dipelihara di rumah.

Di saat yang sama, teman sebaya kebanyakan bermain sepeda. Ingat kan waktu kita SD tahun 90-an sedang booming sepeda federal, mustang dan teman-temannya? Saya waktu itu cuma bisa melihat dengan iri, he he.

Pengen punya sepeda, alhamdulillah Allah maha baik, dikabulkan sekitar 25 tahun kemudian setelah sanggup beli pake duit sendiri  😉

Sudah lah kok jadi nostalgia, nanti dibilang pencitraan dan dikira mau jadi Presiden 😉

Balik ke singkong. Berapa orang yang berpikir ini jadi peluang bisnis ya? menanam singkong atau membuat olahan singkong yang cantik dan enak dan mengiklankannya, setidaknya di media sosial. Saya pikir itu jauh lebih keren daripada ikut menggerutu di fesbuk.

Kalo saya memang mau balik ngebon sepulang dari Jepun. Biar Ayu dan Ilham (juga emaknya, hi hi) juga tahu rasanya bau tanah (bukan kakek-kakek bau tanah lho, tapi tanah beneran) dan beratnya mencangkul. Tapi tentu saja saya tidak akan menyuruh mereka mencari tai kambing dari kandang milik tetangga, he he.

Demi kesehatan jiwa dan raga tentu saja, pasti lebih sehat juga daripada fitness atau main golf. Lagi pula, rasanya saya lebih ganteng kalau maen golok daripada maen golf. Tentu saja sambil selfie 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s