Menggabungkan File Pdf di Mac dengan Preview

Preview, aplikasi default untuk membuka beragam file (jpg, pdf, dll) di Mac ternyata memiliki kemampuan sebagai pdf editor lho. Jika kemarin saya menuliskan trik memperkecil ukuran file pdf, maka sekarang saya akan membagi cara menggabungkan beberapa file pdf.

Ikuti langkah berikut

1. Buka file pdf dengan menggunakan preview.

2. Klik “File” lantas centang “thumbnail”, akan muncul sidebar.

Screenshot 2014-11-27 10.32.16

3. Nah drag file pdf yang akan digabungkan ke sidebar yang sudah terbuka, bisa ditempatkan di awal atau akhir atau disisipkan di tengah.

Screenshot 2014-11-27 10.34.33

Screenshot 2014-11-27 10.34.44

4. Tinggal save atau klik tombol “cmd” “s”

5. Bahkan file jpg juga bisa di drag ke sidebar dan otomatis menjadi bagian dari file pdf lho

Screenshot 2014-11-27 10.38.26

Selamat mencoba

Iklan

Memperkecil Ukuran File Pdf di Mac

Jika anda pengguna Mac, maka memperkecil ukuran file bukanlah masalah besar. Anda ndak perlu pdf editor untuk melakukannya. Cukup ikuti langkah-langkah berikut.

1. Buka file dengan menggunakan preview.

2. Klik “file” kemudian “export”

Screenshot 2014-11-27 09.44.34

3. Nah kemudian pilih “Quartz Filter”, ada beberapa pilihan mereduksi file, bisa klik “Reduce file size” atau “Gray tone”

Screenshot 2014-11-27 09.44.48

Screenshot 2014-11-27 09.44.51

4. Klik “save”. Nah file awal 312kb, diexport dengan reduce file size atau gray tone jadi 39 kb.

Sila mencoba

Dosen Bukan Guru

Selamat Hari Guru !
Ya kemarin hari guru, bukan hari dosen.
Guru bukanlah dosen, walaupun tugas utama guru yaitu mengajar juga adalah salah satu (dari tiga) tugas utama dosen. Ya, hanya salah satu karena dua tugas lainnya tidak kalah penting, yaitu penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Bahkan, nampaknya penelitian akan menjadi tugas yang lebih utama karena dosen sekarang berada di bawah Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi bukan Kemendikbud lagi. Bahkan sebetulnya Kemendikbudpun tidak langsung mengelola kepegawaian guru, karena guru adalah pegawai pemerintah daerah (Pemda). karena pegawai pemda, maka guru boleh mendapatkan tunjangan kinerja pemerintah daerah.
Dosen bukan guru.
Persyaratan dasar bekerja (bukan mengabdi) sebagai dosen juga berbeda dengan guru. Dosen minimal S2 sementara guru cukup S1. Dosen dituntut melanjutkan pendidikan ke jenjang S3, sementara guru tidak. Penilaian kinerja dosen di semua jenjang mensyaratkan penelitian yang dipublikasikan, bahkan di jurnal internasional bereputasi.
Jadi memang beda.
Namun gaji dan sertifikasi dosen sama dengan sertifikasi guru, sebesar gaji pokok.
Ini hal yang aneh sebetulnya. Lazimnya, perbedaan requirement (misalnya pendidikan) dalam pekerjaan profesional mestinya berimbas pada perbedaan penghasilan.
Namun nampaknya, kita dan sebagian besar masyarakat memang keliru, menganggap dosen adalah guru dan sebaliknya.
Tidak, ini kekeliruan berpikir. Dosen bukanlah guru yang mengajar di perguruan tinggi. Dosen adalah pekerjaan profesional yang berbeda, yang selain mengajar punya kewajiban membaca, menulis, penelitian lapangan atau laboratorium, melakukan presentasi di forum-forum ilmiah, dan sebagainya.
Saya berpikir ketertinggalan dunia pendidikan tinggi kita memang karena konstruksi keliru tadi, dosen dianggap guru yang tugasnya hanya mengajar, sehingga kita tidak berpikir untuk membangun hal-hal di luar urusan mengajar.
Giliran tertinggal dengan Malaysia, baru kebakaran jenggot.
Dosen bukan guru. Ini bukan soal pekerjaan mana lebih hebat dari yang mana, ini dua pekerjaan yang berbeda.

Mengetik di Ipad (1): Word

Kadangkala kesulitan terbesar mengetik di ipad adalah membiasakan diri dengan layar sentuh dan ketiadaan touchpad atau mouse. Ada kekhawatiran sulit melakukan sentuhan yang presisi seperti ketika menggunakan touchpad atau mouse. Alhasil saya sendiri jarang menggunakan ipad untuk menulis, walaupun hanya sekedar tulisan di blog.
Nah, tiba-tiba saya menemukan video tutorial yang “aha” dari microsoft, tentang tips mengetik dengan efektif. Silahkan saksikan video singkat banget di bawah ini, dijamin anda lebih produktif dengan ipad, tanpa perlu keyboard eksternal ūüėČ

Catatan: Video ini bersumber dari Microsoft dengan link url:http://office.microsoft.com/id-id/support/video-mengetik-di-word-untuk-ipad-VA104236088.aspx. Diupload di youtube untuk tujuan edukasi.

Draft Pedoman Operasional Penghitungan Angka Kredit Dosen Per-7 Oktober 2014

Berikut draft pedoman operasional penghitungan akngka kredit dosen. Ada beberapa hal yang sudah muncul seperti penjelasan linieritas, Batas maksimal diakui (alias batas kepatutan), penjelasan tentang beragam jurnal yang diakui dikti, dan lain-lain.

Monggo disimak

Silahkan download di DRAFT-PEDOMAN-OPERASIONAL PAK-7-Oct-2014

Hilang Ipad dan Cara Mencarinya

Ah, saya betul-betul sebal

Ipadku lenyap dari semalam. Padahal ada beberapa hal yang mesti dilakukan dengan ipad itu.

Pagi tadi, sekitar empat jam ngubek-ngubek seluruh bagian sudut apato untuk mencari sang ipad.

Waktu Zuhur saya memutuskan sholat dulu. Hmm sementara solat, pikiran melayang kemana-mana.

Tring… ilham datang (hadeuh gak khusyu)

Maka ketika salam kedua aku langsung ngibrit cari Macbook.

Nah, buka https://www.icloud.com/

Ipad langsung ketemu, berbunyi keras soalnya. Tertumpuk di sarung, mukena dan sajadah ūüėČ

bagaimana melakukannya, ini dia tips dari Abah

1. Buka https://www.icloud.com/, login dengan username dan password apple yang kita miliki. Nanti ada pilihan find my iphone, klik saja.

Screenshot 2014-11-17 13.11.57

2.   Kemudian bisa membuat kita bisa menelusuri semua gadget2 apple yang kita miliki. J

Screenshot 2014-11-17 13.15.51

3. Jka online (berwarna hijau), kita bisa melacak posisi gadget2 tersebut dan menyalakan suara (play sound) untuk mengetahui dimana posisinya. Jika dirasa dicuri, klik lost mode, dan ikuti petunjuk selanjutnya. Oh ya, posisi gadget juga bisa dilihat di peta.

Screenshot 2014-11-17 13.16.57

Semoga bermanfaat

Membangun Universitas Kelas Akhirat

Saya pikir kampus-kampus Indonesia sulit untuk bersaing di tingkat internasional dan menjadi World Class University. Dari segi fasilitas lab dan perpustakaan, kualifikasi pendidikan pengajar, atau jumlah riset yang dihasilkan, kita jauh ketinggalan. Dalam soal penghasilan dosen, duh baru saya tulis kemarin, kita ada di papan bawah.

Apalagi kemarin ramai di media soal guru besar dan temannya yang menulis karya ilmiah di hotel, bukan di kampus. Mungkin karena banyak dosen gak punya meja buat kerja ūüėČ

Tapi saya sudah gak mau menuntut-nuntut, capex. Saya mau konstruktif saja.

Saya ndak mau memaki kegelapan, mau menyalakan lilin saja ūüėČ

Kita para dosen di Indonesia punya kelebihan setidaknya dalam dua hal, yang tidak dimiliki oleh para pendidik di mancanegara: sifat bersyukur dan bersabar.

Ya perdebatan soal profesionalitas, termasuk tanggapan terhadap tulisan-tulisan saya banyak terisi oleh mereka yang mengingatkan untuk bersyukur. Lebih baik melihat ke bawah, banyak yang penghasilannya lebih kecil, begitu kira-kira pesan uatamanya. Mereka yang membandingkan pendapatannya dengan kolega di negara lain, itu bukti tidak bersyukur. InsyaAllah kalau kita bersyukur, akan ditambah nikmatnya. Rejeki akan datang dari tempat yang tidak disangka-sangka.

Ada lektor yang membandingkan penghasilannya dengan tukang sapu di perancis, dianggap kurang bersyukur dan oleh koleganya diminta berhenti dan jadi tukang sapu saja ūüėČ

Mesti bersyukur.

Saya dengan jujur mesti mengakui, mungkin bersyukur memang kelebihan kita.

Kedua, soal bersabar juga ndak ada yang mengalahkan rasanya. Catat saja dalam dua tahun ini, ada berapa peraturan dalam berbagai format (Perpres, PP, Permendikbud, permenPAN, banyak surat edaran) mengatur hajat dosen? Banyak kan. Apakah dosen dan organisasinya dilibatkan? Rasanya ndak kan. Apakah semua peraturan diterima? Iya lah.

Selain peraturan, instruksi juga tak kalah banyak. Mulai dari kewajiban menulis jurnal, absen, mengisi SIKPD, dan lain-lain. Disuruh meraih gelar sampai doktor, tapi banyak pendapatan dilucuti ketika tugas belajar. Mau sejahtera mesti ikut serdos, nggak seperti PNS lain (untuk dosen PNS) yang bisa dapat tunjangan kinerja tanpa sertifikasi. Tunjangan fungsional tak naik-naik selama 7 tahun, juga dihadapi dengan bersabar. Nulis jurnal banyak dibatasi oleh batas kepatutan disikapi dengan sabar. Petisi gak berhasil, juga sabar.

Ketika dosen-dosen beneran berjibaku sekolah sampai doktor, mengajar, menghasilkan karya ilmiah dan mengurus tetek bengek administratif untuk kenaikan jabatan fungsional, dengan entengnya para politisi berduyun-duyun diangkat menjadi  guru besar, ya guru besar.

Semua dihadapi dengan rasa sabar. Yang menuntut atau protes dianggap kurang sabar, bahkan ada koleganya sendiri bilang “pikirannya cuma seluas lingkar perut”, ha ha.

Nah berdasarkan syukur dan sabar tadi rasanya memang pantas ada gelar pahlawan tanpa tanda jasa.

Serius ini, mungkin Indonesia bisa memulai membuat indeks syukur dan indeks sabar, oh ya mungkin ditambah indeks ikhlas lebih baik juga.

Kemudian mulai membuat pemeringkatan secara global untuk mendapatkan “Akhirat Class University”.

InsyaAllah kita akan ada di papan atas.

Ini bisa jadi sumbangan besar dari Indonesia bagi dunia pendidikan tinggi.

Lagi pula, dunia hanya sementara.

Salam ūüėČ

Perbandingan Gaji Dosen Indonesia dan Negara-negara Lain

Lazada IndonesiaKalau di tulisan ini saya menulis soal perbandingan produktivitas riset Indonesia, maka saya mau membandingkan hal lain dan sedikit bersimulasi.

Belakangan ini kalangan akademisi di berbagai belahan dunia banyak berdiskusi soal pendapatan mereka. Di Jepun, persoalan ini mengemuka beberapa kali di Japan Times (Silahkan baca tulisan ini dan itu). Namun sebuah artikel Faculty Pay, Around The World oleh Scott Jaschik di Inside Higher Education memaksa saya menulis tulisan ini.

Dalam tulisan tersebut terdapat sebuah tabel, menggambarkan perbandingan gaji dosen di berbagai negara berdasarkan tiga kategori: Entry, Average, dan Top. Entry maksudnya mereka yang baru jadi dosen, Average itu rata-rata, dan Top adalah mereka di posisi puncak, Full Professor yang senior, begitu kira-kira.

Oke, kita lihat dulu tabelnya:

Monthly Average Salaries of Public Higher Education Faculty,

Using U.S. PPP Dollars

 Country Entry Average Top
Armenia    $405    $538    $665
Russia    433    617    910
China    259    720 1,107
Ethiopia    864 1,207 1,580
Kazakhstan 1,037 1,553 2,304
Latvia 1,087 1,785 2,654
Mexico 1,336 1,941 2,730
Czech Republic 1,655 2,495 3,967
Turkey 2,173 2,597 3,898
Colombia 1,965 2,702 4,058
Brazil 1,858 3,179 4,550
Japan 2,897 3,473 4,604
France 1,973 3,484 4,775
Argentina 3,151 3,755 4,385
Malaysia 2,824 4,628 7,864
Nigeria 2,758 4,629 6,229
Israel 3,525 4,747 6,377
Norway 4,491 4,940 5,847
Germany 4,885 5,141 6,383
Netherlands 3,472 5,313 7,123
Australia 3,930 5,713 7,499
United Kingdom 4,077 5,943 8,369
Saudi Arabia 3,457 6,002 8,524
United States 4,950 6,054 7,358
India 3,954 6,070 7,433
South Africa 3,927 6,531 9,330
Italy 3,525 6,955 9,118
Canada 5,733 7,196 9,485

Sayangnya Indonesia gak ada ya?

Oke, kita lupakan dulu Indonesia. Mesti kita pahami dulu bahwa angka-angka di atas memakai PPP (Purchasing Power parity) dolar, yaitu kurs yang mengukur berapa banyak sebuah mata uang dapat membeli dalam pengukuran internasional (biasanya dolar), karena barang dan jasa memiliki harga berbeda di beberapa negara. Ini memastikan perbandingan di atas setara karena tentu saja harga kontrakan di Karawaci Tangerang dengan Kawaramachi Kyoto itu berbeda, he he (Lihat di sini penjelasan tambahannya).

Nah, menurut data di atas, ternyata Kanada juaranya (horeee, tepuk tangan). Dia teratas baik di level entry, average maupun top. Malaysia, tetangga baik kita berada dalam posisi menengah, namun ternyata berada di atas Jepang.

Nah bagaimana dengan Indonesia?

Hmm saya mencoba menghitung menggunakan PPP conversion factor yang dikeluarkan world bank. Tahun 2013, index PPP Indonesia sebesar 3.800,35 (tiga ribu delapan ratus koma tiga lima).

Kemudian bagaimana mendefinisikan early, average dan top.

1. Early saya definisikan dosen yang baru diangkat. Dia saya definisikan PNS Dosen golongan IIIB, Masa kerja 0 tahun S2, belum memiliki jabatan fungsional,  belum sertifikasi dan single. Gajinya berdasarkan PP 34 2014 adalah sebesar Rp. 2.415.600. Katakanlah memiliki pendapatan lain-lain (uang makan, dll) sebesar Rp. 500.000, maka total Rp. 2. 915.600,-.

Menggunakan indeks PPP maka didapatkan: 2915600:3.800,35 =  767 (hasil pembulatan).

2. Average, terus terang sulit mencari angka rata-ratanya. Nah saya menggunakan PNS Dosen IIID masa kerja 10 tahun, Lektor, sudah sertifikasi. Maka gaji pokok sebesar Rp. 3.064.400,- ditambah sertifikasi satu kali gaji (3.064.400,-) ditambah fungsional lektor Rp.700.000,- dan tunjangan keluarga, dll katakanlah Rp.500.000,-. Nah dijumlahkan menjadi sebesar Rp.7.328.800,-, dibagi dengan indeks PPP, dihasilkan angka 1927 (hasil pembulatan)

3. Top. Nah profil dosen top markotop adalah golongan IVD, profesor, tentu tersertifikasi dan masa kerja paling poll yaitu selama Soeharto berkuasa: 32 tahun. Maka gaji pokok Rp.5,302,100, ditambah tunjangan serdos satu kali gaji pokok dan tunjangan kehormatan dua kali gaji pokok, dan tunjangan fungsional Rp.1.300.000,- ditambah katakanlah pendapatan lain, Rp.500.000,-. Nah didapatkan angka Rp. 22.958.000,-. Angka yang mantap, namun karena di puncak dan masa kerja sudah 32 tahun mungkin sudah mau pensiun juga, he he. Berapa jika dibagi PPP index, hasilnya 6036 (Hasil pembulatan).

Nah, bagaimana analisisnya:

Yang kasihan memang yang baru jadi dosen alias kategori early, cuma dapet 767. Dibandingkan dengan negara lain di tabel di atas, maka didapatkan posisinya empat terbawah, berada di bawah Eithopia, walaupun berada di atas China dan Rusia. Namun jauh berada di bawah Malaysia (seperempatnya) yang untuk kategori early mendapatkan angka nominal 2.824.

Untuk kategori average, angka 1.927 hampir sama dengan Meksiko, masih berada di klasemen bawah. Angka ini kurang dari setengahnya dibandingkan dengan Malaysia yang mendapatkan 4.628.

Nah, untuk top, kita cukup boleh gembira. Angka 6.036 ini berada di klasemen tengah, dekat dengan Nigeria 6.229 atau israel 6.377. Juga tidak terpaut jauh dengan Malaysia 7.864

Yang jelas menjadi catatan saya adalah gap yang teramat tinggi antara top Рaverage Рearly di Indonesia: 6.036:1.927:767. Perbandingan terendah dengan tertinggi, kira-kira 8:3:1. Bandingkan dengan Malaysia: 7.864:4.628:2.824 yang kira-kira perbandingan antar kategorinya: 4:2:1, rendah sekali gapnya.

Sekedar mengingatkan, berdasarkan data dikti sendiri, jumlah Profesor di Indonesia hanya 3% dari keseluruhan dosen di Indonesia, super minoritas. Terbesar adalah dosen berstatus tenaga pengajar alias belum punya fungsional sebesar 34%, lektor 25%, asisten ahli 21%, lektor kepala 17% (Cek tautan ini).

Catatan lain adalah, dosen yang sudah tersertifikasi juga baru 43%, sebanyak 57% belum tersertifikasi.

Oh ya, kenapa Malaysia dari tadi jadi contoh melulu, soalnya tulisan saya sebelumnya juga membandingkan produktivitas riset Indonesia dan Malaysia, kita tertinggal enam kali lipat.

Atau Indonesia gak perlu dibandingkan? Bagaimana kalau bikin kompetisi membangun Univeristas Kelas Akhirat saja, jangan Universitas Kelas Dunia?

***

Nah, pasti ada yang berkomentar bahwa angka pendapatan tidaklah riil karena dosen kebanyakan hanya mengajar dan memiliki pekerjaan dan pendapatan sampingan lain. Saya bilang, inilah biang keladi ketertinggalan dunia pendidikan tinggi kita ūüėČ

Jangan kira saya mau rekomendasikan kenaikan gaji atau tunjangan, sudah capex. Kalau pembaca mau, boleh-boleh saja sih, he he. Saya cuma mau bilang ke dosen-dosen muda dan pinter, ayo berkaryalah maksimal dan jujur biar cepat jadi Profesor dan hidup layak bersama keluarga tanpa melalaikan kewajiban pekerjaan. Nggak ngurus jabatan fungsional berarti mendzolimi keluarga lho.

Salam

@Abah Hamid

Catatan: Simulasi ini menggunakan kriteria penulis untuk setiap kategori namun berdasarkan angka yang sebisa mungkin valid (gaji pokok, tunjangan fungsional, dll), dipersilahkan sekali mensimulasikan dengan kategori yang lebih anda sepakati.
Lazada Indonesia

Membetulkan Video yang Terambil Vertikal dengan Iphone/Ipad

Syahdan saya membuat video perjalanan  ke Kuil Kiyomizudera dengan menggunakan ipad. Perjalanan nanjak dan cukup jauh. Nah, begitu sampai ternyata baru nyadar kalau ternyata ngambil videonya vertikal, jadilah hasilnya mengecewakan. Ketika diupload di Youtube, video tidak tampil penuh di layar.

Screenshot 2014-11-12 17.09.32

Nah alhamdulillah, masalah seperti ini ternyata ada ekstraknya solusinya sodara-sodara.

Ada aplikasi crop in the fly yang membuat video yang terambil vertikal bisa dicrop sehingga memiliki dimensi horizontal.

Screenshot 2014-11-12 17.00.46

Jadi kalau diupload ke youtube, tampilan menjadi penuh. Tentu saja ada bagian yang ikut hilang, tinggal bagaimana kita mengatur fokusnya sehingga bagian terpenting tetap nongol di video.

Nah cara bekerjanya, buka aplikasi crop in the fly, nanti aplikasi akan mendeteksi video yang terambil secara vertikal. Nah kemudian akan ada pilihan melakukan cropping dengan dimensi horizontal.

Screenshot 2014-11-12 16.22.25

Demikian ūüėČ