Hayu Kerja Keras

Saya memilih bekerja di bidang akademik, namun saya selalu menaruh hormat kepada para pengusaha.

Karena itulah selain membaca majalah dan berita-berita politik, saya rajin membaca majalah SWA terutama profil di bagian belakang. Saya menikmati membaca kisah sukses dan jatuh bangun para pengusaha (dan juga eksekutif sukses).

Mereka lahir dari beragam kalangan, namun dipertemukan dengan kesamaan: kerja keras.

Beberapa kawan saya dan bahkan mantan mahasiswa saya pernah nongol di sana. Merintis berbagai usaha kreatif, dan sukses di bidangnya: fashion, properti atau entertainment.

Saya sendiri pernah berusaha terjun ke dunia bisnis, setidaknya dua kali. Pertama ketika lulus kuliah, saya bersama beberapa kawan menjalankan usaha lembaga training, Visi Learning and Consulting. Kita waktu itu mengisi training, indoor maupun outdoor, termasuk outbound training di berbagai tempat di Indonesia. Sempat punya kantor dan peralatan outbound yang cukup lengkap. Namun satu persatu kami masuk ke dunia yang lebih diminati. Tiga terakhir, Sapta menjadi profesional di BRI; Danang menjadi staf ahli di DPR RI; dan saya sibuk dengan riset dan mengajar di UI dan Untirta. VLC bubar jalan.

Kedua, ketika saya sudah menjadi dosen tetap di Untirta, saya tertarik menjual brownies kukus amanda. Kebetulan tetangga berjualan amanda dan secara rutin mengambil barang ke Bandung. Jadilah saya membeli gerobak, menyewa tempat di Alfa Midi Serang, dan merekrut karyawan. Saya pikir, ini bisa jadi passive income.

Bisnis bertahan tiga hari. Saya kesulitan mengontrol karyawan, persediaan barang menumpuk dan terancam expired.

Kakak pertama saya memborong semua persediaan sambil mengomeli saya (maklum anak ke-7, teteup aja dianggap anak kecil). Brownies amanda dibagi-bagikannya ke sanak saudara dan kerabat sambil memberitahukan ke semua orang bahwa “Ini kelakuan si Hamid goreng patut ;)”.

Oh ya, sebenarnya ada yang cukup sukses. Ketika flashdisk masih menjadi barang langka dan mahal di awal-awal kemunculannya, saya sempat berjualan flashdisk kepada para kolega di Untirta dengan memanfaatkan range harga yang terpaut jauh antara Jakarta dengan Serang. Lumayan memiliki pendapatan tambahan selama beberapa bulan, sebelum akhirnya banyak pedagang elektronik yang bisa menjual dengan harga lebih baik dari saya dan saya berhenti.

Ya, saya ndak pernah betul-betul sukses berbisnis.

Belajar dari berbagai kegagalan — termasuk di dunia politik — saya akhirnya memutuskan terjun secara kaffah ke dunia akademis. Berusaha memahami alur karier sebagai dosen serius. Padahal saya paham, saya nggak pinter-pinter banget.

Berbulan-bulan buku pedoman operasional penghitungan angka kredit dosen tersimpan di ransel. Saya mencoba memahami pelan-pelan. Saya ingin tahu, kenapa ada orang bisa cepat jadi Profesor seperti Mas Eko Prasojo, dan kenapa banyak yang begitu-begitu saja? Kenapa ada dosen pintar bahkan jenius yang juga nggak peduli dengan jabatan fungsional? Kenapa juga ada yang curang melakukan plagiat atau membuat jurnal rakitan untuk dapat angka kredit? Pertanyaan-pertanyaan ini saya diskusikan dalam hati, bahkan terbawa mimpi.

Akhirnya saya dapat jawaban sederhana: Karir dosen ditentukan oleh seberapa produktif dia bekerja. Semakin rajin mengajar dan melakukan publikasi, semakin cepat kariernya. Juga tak perlu dibenturkan antara kepintaran dengan kerajinan mengumpulkan kredit. Yang penting adalah kerja keras dan jujur. Mengumpulkan yang hanya betul-betul dilakukan. Terus belajar, meneliti, menulis, mempublikasikan dan juga mengumpukan hasil kerja. Ini yang benar. Bahkan karir dosen bisa lebih cepat lagi jika memiliki dua kunci: jurnal terakreditasi dan jurnal internasional.

Ini titik penting bagi pemahaman saya sebagai dosen. Β Saya kemudian menempuh S2 dengan cepat. Tahun pertama kuliah saya sambil mengerjakan thesis. Nah, hasilnya saya presentasikan di Kyoto dalam sebuah konferensi, belakangan terbit menjadi chapter dalam sebuah buku. Lulus dengan nilai hampir sempurna.

Jeda antara S2 dengan berangkat S3 adalah salah satu puncak produktivitas. Ada beberapa jurnal nasional dan satu jurnal terakreditasi, ditambah paper proceeding konferensi di beberapa negara. Tentu ditambah mengajar dan jadi kepala lab.

Jadilah setahun setengah setelah jadi lektor, angka kredit saya cukup untuk mengajukan ke lektor kepala. Saya bisa mengajukan lebih cepat dari seharusnya (3 tahun) karena ada jurnal terakreditasi. Alhamdulillah SKnya terbit sekitar enam bulan kemudian, ketika saya menempuh S3 di Doshisha.

Awal-awal kuliah saya sempat sebal karena sempat ada “aturan” bahwa semua publikasi ketika tugas belajar tak diakui. Alhamdulillah, tiba-tiba ada surat edaran yang menyatakan bahwa Jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional angka kreditnya diakui.

Mohon jangan salah paham. Tentu saja angka kredit bukan segalanya. Namun di tengah tak adanya insentif material, insentif non material seperti angka kredit bisa jadi motivasi tambahan bagi dosen malas seperti saya. Tentu saja pengembangan ilmu dan dialog dengan para pembaca tetap menjadi motivasi utama melakukan riset dan publikasi πŸ˜‰

Di Jepun, biasanya kampus menetapkan standar jumlah publikasi jurnal sebagai syarat mengikuti ujian terbuka (defense). Doshisha University sendiri menetapkan minimal dua jurnal (satu mesti peer reviewed jurnal) dan satu presentasi di professional academic meeting.

syarat lulus

Maka, sedari awal studi, saya fokus mencari kesempatan menulis jurnal yang sesuai dengan topik riset saya dan juga kesempatan mengikuti konferensi. Saya juga memilih tidak terlalu aktif di kegiatan komunitas Indonesia di Kyoto. Khawatir terlalu sibuk dan melupakan riset.

Alhamdulillah, sudah tiga konferensi saya ikuti, di Jakarta, Macau dan Korea.

Jurnal juga sudah tiga. Satu baru terbit dua hari yang lalu. Yang satu ini menggembirakan karena dia bisa dikategorikan jurnal internasional bereputasi menurut dikti, memiliki impact factor 4. Tentu saja ini atas bantuan banyak banget pihak: Sensei dan beberapa sahabat di sini.

Oh ya, akhir November ini saya mesti submit 4 bab disertasi. Preliminery Examination bulan januari. Submit semuanya plus perbaikan bulan Mei dan diakhiri dfense bulan Juni/Juli. Fiuh.

Bagi saya terbitnya beberapa publikasi tadi seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Syarat kelulusan terpenuhi, dan syarat tersulit untuk kenaikan ke jabatan fungsional selanjutnya juga terpenuhi. Masih butuh satu lagi terbit di tahun 2016 untuk mengejar pengajuan ke profesor di tahun 2017. Dan tahun itu justru akan jadi awal baru, bukan puncak.

Ambisius?

Nggak juga, saya cuma mau menempuh karier dengan benar saja. Kita kan harus bertanggungjawab terhadap jalan hidup yang sudah dipilih. Hidup ini mengalir seperti air. Tapi mengalir yang benar adalah mengalir sesuai alur yang tepat. Jika tidak, yang terjadi adalah banjir πŸ˜‰

~@ abdul hamid Untirta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s