Kabinet Bukan Avengers

Bagaimana perasaan anda tentang menteri-menteri yang dipilih Presiden?

Hmm, perasaan saya biasa-biasa saja. Serius.

Pertama, saya ndak bahagia sehingga harus salto dan teriak wow karena saya ndak dipilih jadi menteri. Lagipula menteri pilihan Presiden biasa-biasa saja, ada yang menonjol seperti Anies, tentara perang kayak Ryamizard, Ibu diplomat karier seperti Bu Retno, perempuan nyentrik seperti Bu Susi, atau Puan yang entahlah mesti gimana dijelaskannya. Campur baur…

Mengharapkan mereka menjadi dream team atau kumpulan para jagoan di Avengers rasanya berlebihan. Biarlah itu kalau saya jadi Presiden saja 😉

sumber:http://www.topwallpaperphoto.com/wp-content/uploads/2013/12/the-avenger-wallpaper-112.jpg

Bos baru saya di Kemenristek Dikti,– Prof M. Nasir — sosoknya bagi saya masih asing, bukan sosok penuh publikasi seperti yang banyak beredar di media. Jadi saya ndak tahu mesti memiliki ekspektasi setinggi apa.

Biasa-biasa saja.

Kedua, saya paham jika pasti akan ada kontroversi siapapun yang dipilih jadi anggota kabinet. Jumlah peminat dan kursi yang tersedia amat njomplang. Belum lagi tekanan dari berbagai kelompok yang menjagokan atau memaksakan orang tertentu di jabatan menteri tertentu. Kasak-kusuk dengan berbagai jalur, sampai bikin poling-polingan calon menteri.

Jadi saya memang menyiapkan mental ini untuk biasa-biasa saja. Ndak terlalu berharap banyak. Saya lebih senang jika nanti kabinet bikin kejutan dalam kinerjanya. Misalnya: bertambahnya panjang jalan kereta api di tanah air, melonjaknya jumlah wisatawan asing atau kenaikan tunjangan fungsional dosen (he he, ngarep).

Kejutan baik selalu menyenangkan bukan?

Ketiga, yang menyedihkan adalah adanya sekelompok orang yang menunggu kabinet diumumkan hanya untuk mencari celah membully. Sebelum kabinet diumumkan Presiden dimaki-maki, setelah diumumkan, Preiden dan menteri terpilih giliran dimaki-maki. Masih banyak yang begini. Mereka ini yang membikin isu (atau termakan isu) bahwa Kang Jalal akan jadi menteri agama dan Ribka jadi Menteri kesehatan.

Isu ini ndak terbukti dan sekarang sibuk menghajar menteri-menteri yang dipilih Presiden dengan berbagai isu. Syukurlah kabarnya ada screening oleh KPK dan PPATK.

Saya paham bahwa bagi sekelompok orang, membikin isu dan menyebarkannya adalah sebuah pekerjaan mencari nafkah. Lelah bagi mereka melakukan kasak kusuk, menebar kebencian, membuat isu dan fitnah baru, terbayar dengan rupiah.

Jadi kalau anda punya pekerjaan lain, kenapa menghabiskan energi di sana, menjadi bagian dari pusaran energi negatif yang tidak ada habisnya? Mencari pahala? mana ada pahala didapatkan dengan menebarkan kebencian dan suudzhon terus menerus?

Tentu saja bukan berarti abai terhadap politik. Tapi peran kita saat ini adalah membiarkan mereka bekerja, syukur-syukur bisa memberi masukan dan mengawasi dengan ketat.

Jika kinerjanya jelek atau melakukan penyalahgunaan kekuasaan, baru kita hajar !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s