Tentang Linieritas di Dunia Akademik

Saya kerapkali menerima pertanyaan soal linieritas. Misalnya, apakah jika saya kuliah S1 di jurusan x dan S2 di jurusan Y, bisakah disebut linier? Apakah akan menjadi masalah bagi pengurusan jabatan fungsional?

Pertanyaan-pertanyaan ini sulit sekali dijawab, karena memang tidak pernah ada ketegasan, mahluk apa sebenarnya linieritas itu. Pada prakteknya, interpretasi mereka yang berwenang di lapanganlah yang paling penting. Interpretasi yang ditambah berbagai tahayul dan keyakinan banyak membuat dosen terhambat kariernya.

Contoh sederhana adalah seorang sahabat yang ditolak masuk jadi dosen ketika seleksi administratif, lantaran ijazah S2nya Administrasi Publik, sedangkan formasinya Administrasi Negara.

Super ngawur

Kasus lain, Dosen Komunikasi Politik, apakah jika S2nya Ilmu komunikasi dan S3nya Ilmu politik lantas tidak bisa jadi Guru Besar?

Apalagi kita juga mendapati di luar negeri berkembang berbagai nomenklatur keilmuan baru dan berbagai kajian multidisiplin.

Saya sendiri S1 dan S2 Ilmu Politik dan sedang menempuh studi S3 di Graduate School of Global Studies. Jika lulus (amiiiiiiiiiiiiiiiin) maka akan mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang Contemporary Asian Studies.

Nah, padahal jabatan fungsional saya dari asisten ahli sampai lektor kepala adalah dalam bidang ilmu politik.

Untunglah, beberapa hari lalu muncul Surat Edaran Nomor 887/E.E3/MI/2014 tentang linieritas bidang ilmu.

Inti penjelasan dalam surat edaran tersebut adalah:

“(1) Yang dimaksud dengan linieritas yaitu kesesuaian latar belakang ilmu yang diperoleh dosen pada program Magister atau Doktor dengan ilmu yang akan diajarkan untuk mencapai kompetensi atau capaian pembelajaran lulusannya pada program studi tempat dosen tersebut mengajar.
(2) Linieritas bukan diartikan sebagai latar belakang ilmu dosen, pada program S1 harus sama dengan S2 atau S3…..”

Alhamdulillah, saya merasa lega. Lega karena ini bisa jadi senjata jika ada persoalan dalam proses administratif kenaikan jabatan fungsional selanjutnya, dan juga lega karena jika ada yang bertanya bisa memberi penjelasan lebih pasti.

Surat edarannya silahkan didonwload  di sini.

Dan ini surat Edaran Nomor 696/E.E3/MI/2014 tanggal 11 Agustus 2014 yang dijelaskan dalam surat edaran di atas, bisa dibaca dan didownload di sini.

~@ abdul hamid Untirta

Iklan