Ah, masih ada saja yang nyinyir.

Selepas Jokowi diambil sumpah dan rakyat melakukan pesta di Monas, masih saja ada komentar-komentar yang negatif.

Screenshot 2014-10-21 10.13.16

Screenshot 2014-10-21 10.13.55

Hmm sebenarnya pesta rakyat Jokowi nggak orisinil kok, nyontek dari pesta rakyatnya Jawa Barat.

Screenshot 2014-10-21 10.15.00
Sumber: http://m.inilah.com/read/detail/1999930/aher-demiz-dan-warga-makan-gratis-di-pesta-rakyat

Ya, pesta rakyat, makan gratis selepas pelantikan Aher dan Dedy jadi Gubernur-Wagub Jawa Barat, anggarannya sekitar 200-300 juta rupiah (http://news.okezone.com/read/2013/05/21/526/810364/ada-pesta-rakyat-di-gedung-sate-usai-pelantikan-aher-deddy).

Cuma bedanya, yang satu di Bandung dan satunya di Jakarta. Apa pesta di Bandung dan Jakarta tanda Gubernur Jawa Barat dan Presiden RI kurang soleh? entahlah.

Yang jelas, ada yang belum move on dan terus memelihara kebencian dan menyebarluaskannya.

Susah, kalau kebencian mengeras, membatu, apapun yang dilakukan orang yang dibenci jadi jelek. Kalau melakukan hal baik dianggap pencitraan, riya, dan sebagainya. Kalau melakukan hal yang kurang baik, bukannya dinasihati atau dingatkan, malah dihujat dan disebarkan kemana-mana.

Saya khawatir, ketaatan pada pemimpin dan kelompok (baca: ashobiyah) menjerumuskan akal sehat dan bahkan ketaatan kepada Allah dan Rasulnya. Lho kok bisa? Ya bisa

Kita kan musti taat kepada perintah berbuat adil

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

Ketika kita memakai standar ganda dalam menilai sesuatu bukankah kita bersikap tidak adil dan tunduk kepada kebencian yang terus dipelihara, dikobarkan, ditularkan dan disebarluaskan? Percayalah, menebar kebencian tak akan menuai pahala Bro.

Oh ya, jika masih berharap bahwa punya pemimpin yang sesuai keinginan hati dan tak melulu mengatakan “sakitnya tuh di sini”, gampang. Ada waktu lima tahun, siapkan orang yang tepat dan berakhlaq baik, bekerja yang baik, dekati rakyat, dan jalin hubungan baik dengan media.

Hasilnya, pasti lebih berhasil daripada sekedar nyinyir di media sosial. Pecayalah 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s