Membaca Profil Orang Lain

Akhirnya saya punya sesuatu di kolom hobby. Biasanya saya tulis dengan garing: membaca, makan atau paling mending ngeblog.

Yeay, hobby saya adalah membaca profil orang lain.

Ya, saya memang terlalu malas kalau mesti membaca buku biografi yang tebel-tebel.

Lagipula, saya lebih suka baca kisah hidup orang yang masih hidup. Itu karena saya percaya setiap masa punya persoalan dan semangatnya sendiri-sendiri.

Membaca profil orang membuat saya sadar bahwa parameter keberhasilan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang sukses dengan jadi guru besar, ada juga yang sukses dengan jadi guru SD. Ada yang berhasil menjadi pengembang di dunia IT, ada yang sukses jadi petani melon, ada juga yang cukup bahagia dengan menjadi juragan kost-kostan, dan tentu ada yang keren dengan jadi PNS jujur. Ada yang merasa mencapai “sesuatu” karena sekolah di luar negeri, ada pula yang merasa cukup untuk berhenti kuliah di semester ketiga. Kalau kata Ayu yang sering dikutip Ilham “Orang itu beda-beda”.

Tapi tentu saja yang paling sering saya baca sekarang adalah profil para akademisi, baik yang top maupun yang nggak top. Membaca nama dan kisah hidup singkat calon-calon rektor UI misalnya, membuat saya cukup terhibur. Ya, mereka hebat-hebat. Saya terintimidasi tentu saja, dan ini membuat saya senang bukan kepalang.

Karena saya dosen, maka saya juga senang membaca profil mereka-mereka yang mencapai jenjang guru besar di usia muda. Saya baca berkali-kali malah. Pengen tahu jejak langkahnya, bukan untuk dicopy, sekedar referensi saja.

Celakanya, saya juga suka profil anak-anak muda eksekutif dan atau pengusaha di halaman akhir majalah SWA. Saya senang melihat wajah-wajah segar yang mendapatkan keberhasilan ekonomi dari hasil kristalisasi keringat sendiri (Arwana, 2007). Keren banget.

Mereka keren karena saya pernah nyambi jualan brownies kukus amanda dan bangkrut. Membaca SWA mengintimidasi dan bikin saya ingin mencoba bisnis lagi. Hmm buka TK atau konsultan pendidikan tinggi ya? he he

Oh ya, saya juga makin percaya bahwa apa yang terlihat seringkali bukan yang sebenarnya. Apakah kita diukur dari gadget yang dipakai? Semakin luas bentang layar gadget berarti makin keren? Atau jumlah batu yang dipakai di tangan? (lagi ngetrend nih) atau kendaraan yang ditunggangi? makanan yang dimakan? kopi yang diminum?

Hmm, baca deh kisah saya dengan orang kaya bernama Haji Deden yang membeli apartemen seharga enam em di Melbourne buat anaknya yang sekolah di sana. Pertemuan itu menamparku bolak-balik dan mengubah cara pandangku.

Mengintimidasi diri sendiri oleh orang-orang yang (saya anggap) keren adalah cara saya membunuh ego. Yups, butuh upaya keras untuk meredam rasa “sudah berhasil” atau merasa keren dalam diri ini dan mentransformasikannya kedalam bentuk yang lebih baik, merasa bersyukur.

Ini seperti perasaan nggak grogi lagi ketika akan presentasi. Dulu, ketika sebelum sekolah di Kyoto, saya pernah merasa punya kepercayaan diri kelewat tinggi. Nggak grogi ketika mau presentasi, walaupun di konferensi Internasional. Akibatnya kualitas presentasi saya jauuuuh menurun, dibandingkan ketika masih grogi. Kenapa? Karena kalau merasa grogi, saya pasti belajar lagi dan latihan lagi. Hasilnya lebih bagus.

Ah, kok jadi ngomongin grogi sih.

Mari membaca profil orang lain, hmm. Mau baca profil saya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s