“Tapi kita nggak perlu khawatir, rakyat sudah cerdas. Itu Ridwan Kamil jadi wali kota Bandung nggak pakai duit bisa menang,” (Prabowo Subianto)

Sejak 2012 Prabowo memiliki inisiatif menaikkan pemimpin-pemimpin baik di beberapa daerah, Ridwan Kamil di Bandung dan Jokowi-Ahok di Jakarta tak bisa lepas dari peran Prabowo di dalamnya.

Ya, sesuai judul Prabowo pernah mendukung Pilkada langsung.

Namun kekalahan karena pemilihan Presiden langsung membuat Prabowo berpikir ulang. Mulai bermunculannya para pemimpin daerah yang baik, justru dianggap hambatan bagi dirinya untuk berkuasa, sebagaimana dibuktikan dalam Pilpres 2014. Pendulum berbalik, dia menjadi dalang bagi kembalinya pemilihan ke DPRD.  Prabowo sendiri yang mengerahkan kelompoknya di DPR untuk mencabut hak rakyat memilih pemimpinnya secara langsung.

Konstitusi kita dalam pasal 18 (4) memang hanya mengatakan bahwa

Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.

Terbuka peluang penafsiran, pemilihan langsung ataupun tidak langsung. Kata kuncinya adalah kata “demokratis” itu sendiri. Nah, mari kita lihat, apakah pemilihan DPRD itu demokratis secara empiris?

Karena demokratis artinya memenuhi sifat demokrasi yang artinya sesuai keinginan rakyat, maka kita bisa melihat apakah dalam pilkada keinginan rakyat sejalan atau tidak dengan keinginan partai politik dan wakilnya di DPRD? Untuk keperluan itu, saya membuat analisis sederhana dengan menggunakan beberapa sampel: Kota Surabaya, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta.

Jika pilkada dilaksanakan di DPRD, maka Risma bukanlah walikota Surabaya. Walikota terpilih pastilah  pasangan Arif Afandi-Adies Kadir karena didukung Golkar, Demokrat dan PAN yang menguasai 23 kursi di DPRD Surabaya, atau 418.868 suara.

Di posisi kedua ada Fandi Utomo-Yulius Bustami didukung PDS, PKS, PKNU Hanura, PPP (11 kursi atau 196.743). Tri Rismaharini- Bambang DH, yang diusung PDIP memiliki 8 kursi atau 189.010 suara. Lalu, Sutadi–Mazlan Mansyur yang dijagokan PKB-Gerindra, menguasai 8 kursi atau setara 105.802 suara, dan Fitradjaja-Naen Soeryono 88.090 suara independen.

Kita mungkin tak akan memiliki Risma yang dianggap salah satu Walikota terbaik di Indonesia, membenahi taman di Surabaya dan berani menutup Lokalisasi Dolly.

Di Jawa Barat, Aher dan deddy yang didukung PKS (13 kursi), PPP (8 kursi) dan hanura (3 kursi) harusnya kalah karena total kursi pendukung di DPRD hanya 24 kursi. Jadi jika pemilihan dilaksanakan di DPRD, maka Lex Laksamana yang didukung partai Demokrat dengan 28 kursi mestilah jadi Gubernur Jawa Barat. Faktanya, 32.39% pemilih memilih Aher, dibandingkan dengan pemilih Lex yang hanya 25.24%.

Terakhir, lihat Pilkada Jakarta. Dalam Pilkada putaran pertama, Foke – Nara yang didukung 41% kursi di DPRD Jakarta hanya meraih 34.05% suara, kalah oleh Jokowi-Ahok yang mendapatkan 42.6% suara, padahal hanya didukung oleh 18.1% kursi di DPRD.

Dalam putaran kedua, 81.9% kursi DPRD berada di belakang Foke-Nara, hasilnya, Jokowi-Ahok yang didukung dua partai memenangkan Pilkada.

Screenshot 2014-09-27 11.33.37

Situasi yang sama nampaknya juga akan terjadi pada Ridwan Kamil yang hanya didukung PKS dan Gerindra dalam Pilkada Kota Bandung yang lalu. Maka Ridwan Kamil menolak pemilihan oleh DPRD walaupun dalam Pemilihan Presiden, ia berada di barisan Prabowo. Sikap sama yang ditunjukkan oleh Bima Arya, tidak ikut-ikutan menjadi bebek, tapi tetap berpikir kritis dan independen.

ganteng ganteng prabowo

Jadi, apakah pemilihan oleh DPRD Demokratis.

Dalam beberapa kasus di atas, suara rakyat bisa berbeda dengan suara partai. Jika ini terjadi, walaupun secara prosedural demokratis, secara substansial tentu saja TIDAK DEMOKRATIS.

Sumber:

1. http://jabar.tribunnews.com/2014/02/15/prabowo-ridwan-kamil-jadi-wali-kota-bandung-nggak-pakai-duit

2. http://politikindonesia.com/index.php?k=politik&i=7194-Pemilukada-Surabaya:-Demokrat-Golkar-Berkoalisi

3. http://ikhti.blogspot.jp/2013/06/menguatnya-faktor-figur-dan-melemahnya.html

4.  http://journals.sub.uni-hamburg.de/giga/jsaa/article/view/738

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s