Pengakuan Mahasiswa Penerima Beasiswa Luar Negeri Dikti

Bulan ini tepat dua tahun saya tinggal di Kyoto.

Kota yang nyaman dan menyenangkan.

Terima kasih kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (selanjutnya disebut Dikti) dan Rakyat Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepadaku untuk bersekolah.

Ya, saya sekolah dengan beasiswa luar negeri Dikti.

Soal keterlambatan (sampai sekarang belum cair, semoga secepatnya), inilah momentum memperbaiki diri.  Inilah dunia publik di mana transparansi dan profesionalisme menjadi hal utama dan media menjadi salah satu pilar. Ah, apalagi kita mau masuk ke era Indonesia baru. Semoga segala kisruh ini menjadi nasihat untuk kita semua.

Jika saya dengan bersemangat menceritakan di blog ini tentang terlambatnya beasiswa Dikti, hari ini saya akan bercerita tentang studi saya. Ya, anggap saja laporan pertanggungjawaban atau hisab atas duit rakyat yang saya pakai.

Harus adil, kan?

Saya sekolah di program Doktor Graduate School of Global Studies Doshisha University dengan beasiswa luar negeri Dikti mulai tahun 2012. Pembimbing saya Prof. Eiji Oyamada, beliau ahli governance dan pernah tinggal beberapa waktu di Indonesia serta bisa berbahasa Indonesia. Saya senang sekali dibimbing beliau karena diskusi bisa amat nyambung dan berkembang. Maklum, studi saya adalah soal desentralisasi dan politik lokal di Indonesia.

Selain itu, beliau juga berperan sebagai ayah bagi saya di Kyoto. Berbagai persoalan di luar aspek akademik juga dibantu. Sebagai contoh, waktu anak saya masuk SD, beliau membantu menelepon pihak SD memastikan segalanya berjalan lancar. Oh ya, anak saya juga amat girang karena mendapat angpau ketika diundang makan siang merayakan tahun baru. 😉

Saya juga membantu Sensei sebagai Teaching Assistant. Mengajar hanya kadang-kadang saja (tepatnya diksusi soal riset kami ke anak-anak master), tugas utamanya adalah membantu mengumpulkan data atau memperbanyak bahan. Sensei juga membantu dalam dunia akademik secara penuh. Progress report misalnya, beliau isi di kesempatan pertama, 23 Juli, ketika email dari Dikti datang.

Oh ya, karena sadar bahwa studi saya dibiayai rakyat, maka saya mencoba belajar dengan giat dan berencana lulus tepat waktu. Syarat kelulusan adalah menghasilkan dua buah jurnal internasional dan dua buah presentasi internasional, di luar kewajiban menulis disertasi.

Alhamdulillah, tulisan saya sudah dimuat di dua jurnal internasional,  yang pertama adalah: Abdul Hamid and Gabriel  Facal, « Nationalism, Islam, and Political Influence. The Ethics of the Enterprises in Banten (Indonesia) », Moussons, 21 | 2013, 51-63.di dan satu lagi, Jokowi’s Populism in the 2012 Jakarta Gubernatorial Election terbit di Journal Of Current Southeast Asian Affairs, 33(1), 85-109.

Satu buah tulisan lagi akan terbit di Asian Politics dan Policy, semoga bulan Oktober besok.

Tahun lalu saya juga melakukan tiga presentasi internasional di: International Symposium Socio-Political and Economic Reform In Southeast Asia: Assesments And The Way Forward. Pusat Penelitian Politik LIPI and CSEAS Kyoto University. Jakarta, March 9-12  2013; The 3rd KASEAS-CSEAS  Joint International Symposium, Mokpo National University South Korea,  May 9-12 2013;  dan di International Convention of Asian Scholar (ICAS) 8. Macau, April 24-27 2013.

abah macao

Jadi di tahun ketiga ini, saya fokus melakukan penulisan naskah disertasi berdasarkan dua kali turun lapangan di Indonesia.

Saya percaya bahwa teman-teman penerima beasiswa Dikti di seluruh dunia juga sedang bekerja keras melakukan tugas belajarnya. Ya, kami memang sedang bertugas, bukan sedang plesiran. Tentu saja kalau ada yang sibuk plesiran dan malah tidak belajar, apalagi pulang tanpa gelar, saya pikir sanksinya sudah jelas, tinggal ditegakkan saja.

Kenyataannya, di tengah studi, keterlambatan beasiswa ini menyita waktu dan melelahkan. Kami sudah amat piawai berhemat, mengurangi makan nasi (nasi di Jepun mahal, tapi mengurangi nasi sehat toh) dan hafal jam-jam dan tempat tertentu dimana makanan murah dan masih baik dijual. tapi terus terang saya tetap sedih ketika ada kabar banyak kawan belum menerima haknya berbulan-bulan, sampai harus menyibukkan diri bekerja untuk sekedar bertahan hidup. Atau kawan lain tidak bisa membeli perlengkapan bayi padahal sudah mau melahirkan. Ini luar negeri, man, gak ada kakek, nenek, uwa, bibi, atau sanak saudara yang bisa membantu.  Sudahlah, ini sudah diceritakan di banyak media.

Saya yakin jika pengelolaan beasiswa Dikti menjadi semakin baik dan penyaluran tidak terlambat, maka karyasiswa akan semakin semangat belajar dan penuh konsentrasi. Lebih dahsyat lagi jika Dikti menggunakan standar seperti halnya LPDP (ada tunjangan keluarga) atau setidaknya tidak melarang Dosen melamar LPDP, toh sama-sama uang negara.

Saya bayangkan bahwa yang kemudian menjadi bahan diskusi adalah prestasi-prestasi akademik dan riset-riset yang bermutu, bukan melulu persoalan administrasi dan penderitaan. Bosen.

Saya sadar bahwa program beasiswa luar negeri Dikti ini terobosan yang baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Dosen berkualifikasi Doktor. Kita sudah amat ketinggalan, bahkan dari tetangga kita, Malaysia. Coba bayangkan, dengan program ini dicetak ribuan dosen berkualifikasi doktor lulusan luar negeri yang siap mengajar dan membimbing mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di seluruh tanah air. Jika iklim dan fasilitas akademik di tanah air baik, berapa banyak riset-riset berkualitas yang akan mereka hasilkan. Semuanya tentu saja untuk Indonesia.

Sekali lagi,  maka program beasiswa luar negeri ini adalah sesuatu yang penting. Tentu saja hasilnya akan jauh lebih baik  jika program ini dikelola dengan profesional. Jika sulit dilkelola dengan mekanisme selama ini, ada baiknya kita mendukung ide Pak Direktur Ketenagaan dalam pernyataannya:

“…Ternyata memang tidak mudah menyalurkan beasiswa luar negeri melalui satker biasa. Diusulkan agar pengelolaan beasiswa ditangani oleh badan independen, bisa BLU seperti LPDP atau semacam “Indonesian Aid”, sehingga seluruh rangkaian pencairan berada di bawah satu atap dengan mekanisme pencairan yang lebih sederhana.”.

Sudah saatnya Dikti dan Karyasiswa duduk bersama minum es teh manis dan gorengan, bicara secara terbuka dengan nada positif dan tanpa prasangka. Saya yakin, hati menjadi lega dan semua kepala menjadi tegak.

Selamat malam.

Kyoto, 10 September 2014

Catatan: Tulisan ini saya publish juga di http://edukasi.kompasiana.com/2014/09/10/pengakuan-mahasiswa-penerima-beasiswa-luar-negeri-dikti-673662.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s