Siang ini kami berencana ikut pengajian.

Pengajian hari ini spesial, karena seorang sahabat, Pak Soleh dan istrinya akan dilepas utuk menunaikan ibadah haji (Walimatussafar).

Nah setelah sholat zuhur, kami menyiapkan sepeda masing-masing dan menyusun formasi.

Ibun – Ilham – Ayu – Abah.

Ya kami masing-masing punya sepeda yang dipakai untuk bepergian dalam kota. Sehat dan hemat. Omong-omong, tiga dari empat orang di atas belajar naek sepeda sampe bisa di Kyoto lho, he he

Nah, begitu sampai perempatan lampu merah Hyakumanben, Ibun dan Ilham masih kebagian lampu hijau. Lampu hijau berkelap-kelip, Ayu bergegas menyeberang, padahal sudah diteriaki untuk menunggu. Jadilah Abah ketinggalan.

Nah karena lampu hijau di sisi lain, Abah menyeberang di sisi lain dan kemudian menyeberang lagi. Jadi menyusuri jalan di sisi yang lain, paralel begitu. Dari jauh kelihatan Ilham membuntuti Ibun berbelok. Hmm Aku pikir ini formasi sudah berubah jadi Ibun – Ayu – Ilham, maklum Ayu dan Ilham sering balapan dan saling salip. Jadilah aku berbelok juga. Teruuuuus kok nggak ketemu.

Nah Sampai dekat sungai, dari kejauhan kelihatan Ibun dibuntuti Ilham. Lha, ternyata berdua saja, tidak ada sepeda ketiga.

Nggak lama Ibun menelpon menanyakan Ayu. Kesimpulannya Ayu raib.

Waduh anakku sing gadis hilang.

Aku lantas menuju tepi sungai dan menunggu beberapa lama. Ayu sudah sering ke mesjid naek sepeda, mestinya hafal.

Sekitar sepuluh menit menunggu aku memutuskan mencari mengunakan jalur tepi sungai. Nunggu sebentar di perempatan demachi dan teteup nggak melihat sesosok anak malang menangis naik sepeda.

2013-09-23 09.22.23

Akhirnya menelusuri jalan ke Hyakumanben, mencari lagi dan kemudian memutuskan ke rumah. Siapa tahu Ayu memutuskan pulang ke rumah.

Sampai rumah, tak ada Ayu. Waduh hilang beneran ini.

Alhamdulillah tak lama Ibun mengirim pesan singkat, Ayu sudah datang ke Mesjid dalam kondisi menangis diantar seseorang.

Alhamdulillah.

***

Sorenya Ayu Cerita, di Hyakumanben dia ternyata tidak membuntuti Ibun dan Ilham, tapi menunggu. Nah karena lama dia mulai menangis dan terisak-isak bertanya kepada pengendara sepeda lain jalan ke mesjid. Alhamdulillah, si pengendara sepeda yang membonceng anak tersebut mencari jalan ke mesjid dengan menggunakan google maps dan bahkan mengantarkan Ayu. Tibalah Ayu di mesjid dalam kondisi menangis.

Fiuh.

***

Nah, karena ini kejadian kedua (kejadian pertama waktu ke dokter gigi) dalam dua minggu (sebetulnya juga dalam dua tahun terakhir), maka setelah sholat isya berjamaah, kami membuat SOP (Standard Operating procedure) yang mesti diikuti.

1. Kalau berombongan naik sepeda mesti dalam formasi (Ibun -Ilham-Ayu-Abah) atau (Abah-Ilham-Ayu-Ibun).

2. Mesti berjalan pelan dan santai, tidak boleh menyalip atau balap.

3. Kalau bertemu lampu merah yang memecah rombongan, maka anggota rombongan mesti menunggu angota rombongan lain yang tertinggal di lampu merah.

***

Hmm, sebetulnya rapat juga dilakukan dalam kondisi prihatin karena beasiswa dikti terlambat Ilham kena minyak panas di dapur. Kulit bagian dada mengelupas. Nah mestinya luka kan nggak terbuka tapi menggelembung. Cuma gara-gara pernah lihat di film orang terbakar guling-guling buat memadamkan api, eh Ilham malah guling-guling di karpet, jadi lukanya terbuka.

2014-09-07 21.14.41

Duh gusti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s