Entah kenapa tulisan lama ini menjadi viral sejak kemarin. Dalam satu hari dibaca 843 orang. Mungkin karena akan dibentuk Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, jadi banyak orang ingin tau ada apa sesungguhnya di balik tembok perguruan tinggi dan di balik senyum para dosen.

Tulisan tadi ternyata dimention di  twitter oleh beberapa pihak ke beberapa orang penting seperti , Bagi sebagian mereka, bisa jadi ini bikin gerah. Bagi sebagian yang akan menjabat, semoga jadi masukkan yang tidak asal bapak senang. 

Oh ya, tumben juga halaman profil saya banyak dikunjungi, padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah. Semoga gak ada orang besar yang lagi dapet trus sensi dan mem-florence-kan saya ya. Karena lebih baik kita berdebat soal kebenaran apa yang saya tuliskan. 

Baiklah, kita memang mesti mulai bicara jujur tentang apa yang terjadi di balik tembok pendidikan tinggi. Jika tidak, maka Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi gagal jadi berkah dan hanya akan jadi bencana, terancam hanya memperpanjang dan memperkuat dunia birokrasi dan administrasi pendidikan tinggi belaka, tanpa perubahan yang substansial ke arah lebih baik.

Tulisan-tulisan soal pendidikan tinggi sebenarnya diilhami oleh pertanyaan Professor Kimura dua tahun lalu dalam sebuah kuliah.  Ia menyampaikan pertanyaan, “Dosen-dosen di Indonesia jarang di kampus ya?” Sambil menyajikan foto gedung kuliah sebuah PTN yang terlihat sepi. 

Ini tentu pertanyaan retoris karena dengan ia yang cukup sering ke Indonesia dengan gamblangnya menjelaskan sendiri musababnya. Alasan utamanya adalah para dosen sibuk melakukan pekerjaan sambilan untuk mencari pendapatan tambahan. Ia dan rasanya banyak Sensei yang paham Indonesia memahami rendahnya pendapatan dosen di Indonesia. 

Disamping itu, sepinya kampus juga akibat jarangnya sebuah kampus menyediakan fasilitas bekerja yang layak bagi dosen untuk menulis, membaca, membimbing mahasiswa, mengakses jurnal atau buku-buku terbaru.

Ya tentunya beberapa kampus mulai berbenah. Seorang kawan misalnya di sebuah kampus besar di Jawa menampilkan foto ruang kerjanya, seorang sendiri. Sesuatu yang lumrah di kampus-kampus yang serius. Namun di kampus lain yang juga PTN di jawa, bahkan dosen tak punya meja kerja. Suasana yang sama yang saya temukan ketika melakukan perjalanan ke Sulawesi. Jadi menulis, membaca, membimbing mahasiswa ya dilakukan di rumah masing-masing, atau di kantin sambil minum kopi susu dan makan indomie rebus. 

Jadi kalau kemudian dipaksa absen finger print empat kali sehari sementara tidak ada kelas yang diajar, mesti nongkrong di kantin gituh? he he

Jadi ayolah, kita memang tak akan pernah sanggup mengejar Malaysia jika dua hal di atas tidak dibenahi. Apalagi jika hanya menyelesaikannya dengan membuat surat edaran yang memaksa mahasiswa menulis di jurnal. 

Oh ya, tentu saja tidak semua yang dikerjakan program Dikti begitu buruknya. Saya bagian dari penerima beasiswa Dikti untuk belajar di luar negeri. Dalam beberapa tahun ini, akan (dan telah) dihasilkan doktor-doktor baru yang siap mengabdi, mengajar di seantero republik. Tapi kembali ke tanah air dan tak ada meja kerja? Bisa luntur semua ilmu yang didapat, he he.

Beasiswa luar negeri Dikti sendiri program yang hebat dan cemerlang. Namun pengelolaannya tidak. Sebagai contoh, sampai hari ini, masih banyak yang belum menerima jatah beasiswa yang dijanjikan turun bulan juli, sebelum lebaran idul fitri. Ada ratusan penerima beasiswa Dikti yang keleleran di luar negeri, terancam diusir dari apartemen karena menunggak, terancam dicancel enrollmentnya, bahkan terancam dicabut visa-nya.

Misalnya keluhan di sebuah forum yang tidak pernah ditanggapi

Yth Bapak/Ibu Pengelola BPLN Dikti,
Saya ingin sampaikan bahwa saya tidak bisa lagi meyakinkan pihak Universitas disini bahwa sponsor saya sedang melakukan proses pencairan beasiswa yang cukup memakan waktu karena berkaitan dengan proses brirokrasi di tanah air. Dikesempatan terakhir, mereka memberi saya waktu sampai 30 September untuk melakukan pembayaran TF Semester ke-3 (Sem 1 TA 2014/2015). Lewat dari tanggal tersebut, konsekuensi cancellation of enrollment harus saya terima. Smoga hal ini dapat dihindari. Disamping itu, sampai hari ini Supervisor belum menerima email dari Dikti sehubungan dengan progress report. Demikian kabar dari saya, trimakasih atas perhatian Bapak/Ibu. Salam.
XXXXX

XXXXXXX
BPLN Dikti XXXX

Yang jelas sih, nama Indonesia dan Dikti sudah amat jelek di kampus-kampus di luar negeri. Cuma saya nggak paham, apakah hal ini dianggap penting atau tidak oleh para pejabat.

Terakhir, sahabat saya di Kyoto, bahkan kehilangan 10kg berat badannya selama terlambatnya beasiswa luar negeri dikti.

Ya bukan karena beasiswa telat sih, tapi karena ia diet dengan tidak makan nasi. Tapi beras di Jepang memang mahal. 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s