Di media sosial orang meributkan pertemuan SBY dan Jokowi. Kabarnya Jokowi meminta SBY menurunkan subsidi BBM karena menekan anggaran pembangunan. SBY menolak.

Kedua pemimpin nampaknya sadar bahwa subsidi bbm membebani anggaran negara.

Namun, keduanya enggan memikul beban politik: kehilangan popularitas gara-gara mengurangi subsidi.

Namun saya senang kedua pemimpin bertemu dan berdiskusi. Soal satu punya keinginan dan pendapat kemudian yang lain bisa setuju atau tidak, ini soal negosiasi.  Salah satu keterampilan politik yang mutlak adalah kemampuan bernegosiasi. 

Namun dari sini kita bisa juga bisa melihat bahwa SBY memang konsisten menghindari membuat keputusan yang menimbulkan resiko bagi dirinya. Ketika menjabat Presiden, banyak keputusan berisiko tinggi dibebankan pada orang-orang di sekitarnya, bukan dirinya.

Namun kita juga bisa mulai mengukur kemampuan Jokowi. Jika dulu ia berhasil memindahkan pedagang ke pasar klithikan Solo dengan 54 kali makan malam dan ngobrol-ngobrol. Maka Jokowi mesti menyadari bahwa bisa jadi SBY lebih pintar dari 989 pedagang pasar klithikan dan tak cukup waktu bagi Jokowi untuk melakukan 54 kali makan malam bersama SBY.

Langkah terbaik adalah menanggung beban yang ditinggalkan oleh SBY dan berani menjadi pemimpin berbeda dengan mengambil keputusan yang beresiko. Jokowi dengan modal kepercayaan yang tinggi mesti membuktikan ke publik jika ia mencabut subsidi, maka dana yang tersedia bisa dilimpahkan untuk urusan yang lebih penting dan berdampak baik ke masyarakat miskin. Ini hal yang gagal dilakukan SBY bukan?

Omong-omong, ini soal kepemimpinan saja sebetulnya.

Pemimpin ideal yang kepemimpinannya akan berakhir mestinya meninggalkan hal baik untuk penerusnya, bukan beban dan masalah.

Pemimpin ideal yang kepemimpinannya akan baru dimulai mestinya siap dengan resiko ditimpa beban dan masalah yang ditinggalkan oleh pemimpin lama.

Saya punya cerita pribadi. Sewaktu muda dan kurus saya pernah jadi ketua Senat Mahasiswa. Ketika mulai menjabat saya memikul beberapa masalah. Kas kosong dan bahkan utang akibat kegiatan yang gagal dilakukan pengurus lama. Syukurlah utang menjadi tanggungan personal pengurus lama yang kegiatannya gagal tersebut. Namun mengisi kas bukan hal mudah. Alhamdulillah kegiatan demi kegiatan bisa berlangsung baik. Akhir masa jabatan saya dan kawan-kawan bisa meninggalkan saldo di kas, walaupun tidak banyak. Kami meninggalkan hal baik untuk pemimpin baru yang akan menggantikan, bukan beban dan masalah.

Salam. 

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Negosiasi SBY dan Jokowi

  1. hahahahha berkat jualan tali sepatu orange ya brooo
    lumayan untung tuh acara 😀

    alhamdulillah juga bisa ke jogja dan bikin jaket 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s