Beberapa saat lalu, AMH kabarnya ditunjuk oleh Jokowi menjadi salah satu penasihat kantor transisi. Saya bereaksi dengan membuat  status penolakan di facebook dan juga ikut menandatangani petisi penolakan keterlibatan AMH dalam pemerintahan baru, dalam bentuk apapun.

Hal serupa juga dilakukan banyak aktivis, termasuk Mbak Fitri putri Wiji Thukul dan Ibu Suciwati istri mendiang Munir.

Walaupun secara hukum belum diputuskan bersalah, namun sulit menepis keterlibatan AMH dalam kasus Munir, maupun Talangsari Lampung.

Sikap saya ini didasarkan pada amatan bahwa Jokowi sedang testing the water. Dia menunggu reaksi publik menolak orang-orang bermasalah sehingga memperkuat posisi politiknya menghadapi banyak tekanan. Bagi sebagian orang, mendukung Jokowi berarti mengincar kekuasaan dan kekebalan bukan? Saya duga, pembentukan kantor transisi dan pemunculan beberapa nama sebelum pembentukan kabinet adalah bagian dari sinyal Jokowi minta dibantu. Ya tentu saja, dibantu dengan menyuarakan penolakan terhadap orang-orang bermasalah.  Bukankah perlu ada alasan rasional bagi Jokowi menolak mereka bukan?

Sikap saya juga didasarkan pada konsistensi, menolak orang bermasalah menjadi bagian dari pemerintahan baru. Ini sejalan dengan sikap saya menolak Mr. P yang juga memiliki persoalan dengan pelanggaran HAM, dan dikelilingi oleh orang-orang bermasalah seperti Ical dan Suryadharma.

Konsisten juga dengan sikap saya menolak cara kampanye yang tidak santun. Di blog ini saya mengkritik Wimar -pendukung Jokowi – yang menjelekkan Mr.P dan pendukungnya, dengan cara yang menurut saya tidak etis. 

Setelah status facebook menolak AMH saya pasang, beberapa pendukung Mr. P lantas nongol, mengolok-olok seakan-akan saya salah pilih dan menyesal.

Mereka tidak sadar dirinya sedang menertawakan diri sendiri.

Saya senang bahwa saya dengan bebas bisa mengkritik calon Presiden yang saya pilih. Saya paham bahwa calon presiden yang saya pilih tidak lantas berkata “brengsek”, melemparkan handphone atau mengerahkan massa yang mengancam menculik hanya karena dikritik. 

Ini kemewahan dalam berdemokrasi dan memiliki pemimpin yang tidak otoriter. Kemewahan yang bahkan sulit anda temukan di negara jiran seperti Malaysia, Brunei atau Thailand. Jika tak percaya, coba saja mengejek atau mengkritik Raja di sana.

Nah. Justru yang mau saya balik tanyakan ke pendukung Mr. P adalah, apakah anda pernah mengkritik kesalahan-kesalahan Mr. P? Apakah anda pernah menanyakan alasan kenapa Mr.P akan memberikan jabatan menteri utama kepada Ical? Apakah anda pernah mengkritik Mr.P yang selalu didampingi oleh Suryadharma, seorang tersangka korupsi? Apakah anda pernah mengkritik jaringan media pendukung Mr.P seperti pkspiyungan atau suaranews yang banyak menampilkan fitnah? Apakah anda mengkritik kelompok pendukung yang menampilkan hasil quickcount palsu yang hasilnya sama persis dengan hasil survey? Apakah anda mengkritik Mr.P yang mengeluarkan kata “brengsek” di sebuah media gathering? Apakah anda mengkritik Mr.H adik Mr.P yang mewakili kakaknya dan mengatakan di Washington DC bahwa Mr.P amat pro Amerika dan akan menjadikan Amerika sebagai privilege partner? Apakah anda menyetujui begitu saja sikap salah satu pendukung Mr.P yang menyerukan penangkapan/penculikan terhadap ketua KPU dalam demo di depan gedung MK?

Atau anda memang konsisten menjadi pemilih yang nunut-manut dan memilih tidak berpikir?

Karena itulah saya tetap bangga dengan pilihan saya. Pilihan merdeka dan independen, tidak menjadi bebek bagi siapapun. Pilihan dengan kesadaran, hasil menggunakan karunia Allah: hati dan otak. Pilihan yang membuat saya bebas mengatakan yang benar adalah benar, dan salah adalah salah.

Karena itu saya bisa tetap dengan tegas mengatakan: tolak orang-orang bermasalah mengelola negara ini !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s