Integritas Seorang Intelektual [Mahasiswa Indonesia, 1 Maret 1969]

Integritas Seorang Intelektual

*Oleh M.T. Zen

“Men are fighting ever values, but not in a meaningless struggle; they do so in a living and meaningful history” Eric Weil

Di sekitar tahun 1939 Albert Einstein pernah berkata:  “janganlah sekali-kali engkau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuranimu sekalipun negara memaksakan”.

Jauh sebelumnya, dalam kitab suci telah pula tercatatat bahwa pada ketika para Apostle, Sancta Petrus dan kawan-kawannya dituntut di hadapan para ketua ulama di ruang Sanhedrin, ketika kepada mereka ditanyakan: “Did not we straightly command you that ye should not teach in this name? and, behold, ye have filled Jerusalam with your doctrins and intend to bring this man’s blood upon us”. Maka Sancta Petrus dengan para Apostle lainnya berkata:  “We ought to obey God rather than men

Pada dasarnya ucapan Einstein dan ucapan Petrus mengandung arti dan makna sama. Oleh karena itu jiwa kedua ucapan itu kujadikan pegangan dan landasan dalam memberikan penilaian terhadap “Integritas seorang Intelektual”. Dalam hal ini aku tidak saja berbicara khusus sebagai seorang scientist melainkan juga “as a man of letters”, tetapi lebih penting lagi sebagai seorang manusia; seorang manusia dengan hati yang dapat tersayat dan terbakar mendengar jeritan bayi sedang menderita, di samping sebagai seorang manusia dengan hati melonjak-lonjak dalam menikmati keindahan orde alam semesta, baik irama pertumbuhan dan kehancuran benua dan samudra, maupun irama yang dihembuskan oleh symphony ke 9 Beethoven.

Kita, manusia kini merupakan generasi yang menjadi saksi perubahan-perubahan besar datang silih berganti secara cepat dan generasi kita menyaksikan betapa manusia modern dapat dikatakan hampir-hampir telah berhasil menguasai alam sekitarnya serta menjadi pemilik alam itu pula. Hal tersebut dicapai manusia dengan science dan teknologi melalui suatu proses pendewasaan dengan evolusi yang panjang, penuh liku-liku dan pelik. Mau tidak mau, senang tidak senang, science merupakan tulang punggung dan menjiwai ekonomi, sosial maupun politik manusia modern. Secara sadar atau karena dipaksakan oleh keadaan, evolusi peradaban manusia di hari kemudian akan menuruti pola yang digariskan oleh konsep-konsep ilmu pengetahuan disertai kekuatan-kekuatan teknologi yang tumbuh darinya.

Tidak kurang penting pula ialah bahwa science dan teknologi mempertinggi kecepatan berubah dari perubahan alam sekitar (environment) dan perubahan dari konsep-konsep yang dilahirkan semula. Orang sering terpesona akan penemuan-penemuan baru tetapi jarang merenungkan sedalam-dalamnya bahwa hingga pada saat Stephenson memamerkan lokomotifnya yang pertama kudalah merupakan alat gerak yang paling cepat. Sebaliknya dalam jangka waktu satu generasi manusia kini telah pindah dari zaman pesawat propeller ke zaman jet supersonik; dalam jangka waktu beberapa puluh tahun sejak roket-roket V-2 menghujani kota London, manusia sudah akan mendarat ke bulan pertengahan tahun 1969.

Hal-hal sedemikian mau tidak mau menghancurkan atau setidak-tidaknya mengoyahkan sendi-sendi nilai yang ada. Kesukaran atau persoalan manusia modern timbul dari kenyataan bahwa kendatipun manusia telah berhasil menguasai alam, ia belum juga berhasil menguasai dirinya dengan sempurna. Ternyata jauh lebih mudah menguasai dan mengekang plutonium dan uranium dari pada mengekang nafsu manusia. Di sinilah letak persoalan sebenarnya.

Dengan dipersenjatai science dan teknologi suatu sistem totaliter zaman modern dapat melakukan penindasan terhadap jutaan manusia lain secara mutlak. Dengan pertolongan ilmu pengetahuan yakni dengan alat perang ultra modern, mass media (radio & televisi), ilmu kedokteran dan disertai organisasi yang sempurna, sekelompok manusia dapat menguasai suatu negara bahkan benua, seperti halnya di Soviet Rusia, di RRC, di negara-negara blok komunis lainnya maupun di beberapa negara non komunis.

Di samping itu dengan ataupun tanpa penindasan totaliter, di negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia, terdapat penderitaan karena kemiskinan yang sangat mengkhawatirkan. Menjelang tahun 2000 negara-negara yang sekarang telah kaya akan menjadi lebih makmur dan lebih kaya sedangkan negara-negara yang sekarang sudah miskin akan menjadi lebih miskin lagi.

For unto every one that hath shall be given, and he shall have abundance; but from him that hath not shall be taken away even that which he hath

Kiranya orang tidak perlu mencari-cari terlalu jauh untuk merasakan ramalan tersebut akan menjadi kenyataan.

Menghadapi persoalan-persoalan seperti yang disebutkan di atas itu tadi peranan para cendekiawan menjadi amat penting; bukan saja amat penting; tetapi merupakan persoalan hidup atau mati, persoalan timbul atau tenggelamnya kita sebagai bangsa. Sebaliknya para cendekiawan hanya dapat memegang peranan selagi mereka masih memiliki integritas mereka sebagai cendekiawan.

Sekarang timbul pertanyaan di mana letak integritas seorang cendekiawan atau seorang intelektual?

Diakui bahwa dalam banyak hal para cendekiawan tidak berdaya untuk secara aktif melakukan intervensi dalam konflik-konflik politik. Kendatipun demikian mereka dapat banyak membantu dalam menyebarluaskan idea-idea yang terang mengenai suatu keadaan disertai kemungkinan bagi langkah-langkah maupun tindakan-tindakan yang berguna.

Para cendekiawan, baik yang tergabung dalam suatu perguruan tinggi, suatu organisasi professi atau perorangan harus bertindak sebagai hati nurani suatu bangsa, bahkan hati nurani seluruh dunia. Sebagai landasan ia hanya dapat berpegang pada hati nuraninya sendiri sebagaimana dikatakan oleh Einstein.

Seorang manusia bermoral tidak mungkin mengidentifikasikan diri dengan negara. Setiap orang intelektual atau seorang manusia harus dapat membedakan “the law of duty from the law of the State”. Dalam menunaikan tugas panggilannya seorang intelektual sering berkonflik dengan negara. Apabila negara memintakan sesuatu dari padanya ia harus memberikan evaluasi itu sendiri dan ia dapat berpegang pada kata-kata Einstein: “Never do anything against your conscience, even if the state demands it”. Atau kalau perlu, selama belum ada yang lebih sempurna seseorang dapat berpegang pada Piagam Hak Azasi Manusia yang dirumuskan oleh PBB.

Bagaimana para scientists? Pertanyaan ini sangat krusial karena science sendiri tidak mengenal nilai-nilai. “Science is value-free” sekalipun ia berlandaskan pada nilai-nilai tertentu, antara lain pada kebebasan “value judgements”, sedangkan kehidupan di arahkan oleh nilai-nilai (Eric Weil, 1967).

Memang benar science tidak mengenal nilai. Science bersifat netral; ia tidak buruk dan tidak pula baik. Yang paling unik dari science ialah bahwa ia hanya concerneddengan fakta, dan hanya science lah yang berwenang (qualified ) untuk membedakan fakta dari non fakta. Tetapi justru karena science tidak mengenal values dan hanya concerneddengan fakta belaka, di sinilah letak kekuatan dan keampuhannya. Karena scienceberwenang memberikan informasi faktuil ia dapat dijadikan pegangan dalam “moral issues”. Informasi faktuil setiap kali dibutuhkan, tidak perduli sistem moralitas apa yang dipakai, baik sistem moral bersifat egoistik, alturistik, hedonistik maupun sistem ultilitarian.

Informasi faktuil dibutuhkan untuk menentukan:

  1. Apakah objektif yang diharapkan dapat dicapai dalam kondisi dan situasi tertentu?
  2. Jika ia dapat dicapai, alternatif apa yang terbuka dan bagaimana probabilitasnya?
  3. Efek samping apa yang mungkin timbul jika objektif tadi dapat dicapai?
  4. Apakah suatu kombinasi dari beberapa “proposed ends” dapat dicapai ataukah hasil yang satu secara mutlak menutup kemungkinan yang lain?

Dengan memaparkan keadaan sejelas dan seobjektif mungkin seorang scientistdapat mempengaruhi masyarakat dan para decision makers. Di sinilah letak tugas dan tanggung jawab para scientists sebagai corps intelektual. Mereka jauh lebih mengerti bidang mereka dari orang lain.

Betapa efektif tulisan-tulisan Linus Pauling mengenai daya hancur bom termonuklir dalam usahanya mencegah dunia terperosok dalam kancah perang nuklir yang mungkin akan memusnahkan seluruh peradaban manusia. Betapa besar pengaruh tokoh-tokoh seperti Robert Oppenheimer, Bertrand Russel dan Einstein? Kata-kata mereka jauh lebih besar impactnya dalam masyarakat karena mereka merajai dunia science yang dikatakan value-less.

Nama-nama yang disebut di atas berasal dari kalangan natural sciences. Hal sama juga berlaku bagi social scientists maupun para artist.

Para artist dapat berbuat seperti Albert Camus dengan tulisan-tulisannya di abad modern, sebagai Multatuli dengan Max Havelaarnya, Henry Beecher Stowe dengan Uncle Toms Cabin, Eric maria Remarcue dengan In Westen Nicht Neus atau Bertha von Suttner dengan Die Waffen Niede, last but not least sebagaimana diperbuat Sjahrir di Indonesia.

Munculnya sistem totaliter dalam abad modern, seorang manusia tidak lagi diperkenankan hidup netral sebagaimana dikatakan oleh Albert Camus: “The tyrannics of today are improved; they no longer admit of silence or neutrality. One has to take a stand, be either for or against. Well, in that case, I am against” (The Artist and his time, 1953).

Memanglah, seorang intelektual harus senantiasa memperdengarkan suaranya, suara  hati nuraninya. Kalau tidak, “wie zwygt stemt toe”, atau dia bukan lagi seorang intelektual melainkan seorang tukang atau seorang alat belaka.

Dalam menyuarakan hati nuraninya tanpa henti-henti; menulis, berbicara, menyebarkuaskan idea, bertahan dan memberikan perlawanan secara aktif maupun pasif demi untuk enlightenment umat manusia dan kemerdekaan, yaitu kemerdekaan dari penindasan, kelaparan ataupun ketakutan, serta untuk perdamaian dunia, terletak integritas seorang intelektual dalam wujud yang sebenarnya.

Tetapi hal ini jauh lebih mudah ditulis maupun diucapkan daripada dilaksanakan. Semua bertolak pada keberanian. Tanpa keberanian seorang manusia tidak mungkin memiliki integritas.

Menghadapi tirani setiap intelektual harus bersikap seperti Martin Luther dalam sidang Reischstag di Worms (1521) di mana ia berkata: “My conscience is captive to the word of God. I will not recant anything, for to go against conscience is neither honest nor safe. Here I stand, I can not do otherwise. God help me. Amen!”.

*Pof M.T. Zen adalah guru besar emeritus ITB, semasa muda adalah tokoh aktivis mahasiswa dan sarjana Indonesia. Bersama Rahman Tolleng dkk turut serta membidani lahirnya buletin Mahasiswa Indonesia. Pada tahun 2008 Kompas menganugerahi sebagai tokoh yang mendampingi masyarakat yang sedang kebingungan melalui tulisan-tulisannya. M.T. Zen juga mendapat banyak penghargaan lain.

Disalin ulang dari https://www.facebook.com/notes/manganju-luhut-tambunan/integritas-seorang-intelektual-mahasiswa-indonesia-1-maret-1969/10152166293557131

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s