Memang Kenapa Pendidikan Dasar Kita?

Mungkin saja ada kesan tidak bersyukur dan menganggap saya “gumunan” ketika membandingkan SD negeri di Jepun dan di Indonesia.

Mungkin juga betul.

Saya memang mengalami kekagetan ketika pertama kali mengurus daftar sekolah anak-anak di Jepun. Ketika tak ada proses yang ribet dan anak bisa langsung masuk sekolah. Gak ada test calistung dan biaya pendaftaran 😉

Tapi sudahlah, saya terlalu banyak membicarakan soal SD di Jepun, nanti malah nambah “gumun”, he he.

Saya bukan pendidik di SD. Saya Dosen di perguruan tinggi. Tapi saya paham betul bahwa perilaku mahasiswa yang saya ajar di kelas banyak terbentuk sejak kecil, dan pendidikan di SD memberikan porsi yang cukup besar. Tak hanya perilaku di ruang kelas, tapi perilaku di jalan raya, membuang sampah, bahkan di dunia kerja.

Maka ketika mendapati foto ini

1797478_10153861840530331_1165604998_n

 

Bagi saya, ini bukti bahwa ada persoalan dengan pendidikan kita.

Begitu juga dengan perilaku di media sosial. Ketika dengan mudahnya kita membagi informasi buruk tentang seseorang atau menganggap hal tersebut justru berpahala, maka ada yang salah dengan pendidikan kita.

Ya, hasil sebuah pendidikan justru terlihat dari ketika anak didik berada di masyarakat. Saya sering mengatakan kepada mahasiswa yang aktivis

“Tantangan terbesar kamu bukanlah ketika demo dan berhadapan dengan aparat. Tantangan sebenarnya adalah ketika kamu lulus dan ada tawaran menjadi PNS dengan membayar sekian puluh juta. Itulah tantangan sesungguhnya terhadap sebuah integritas”.

Kembali ke SD, memang ada masalah apa? Misalnya gambar di bawah ini, kita merasa ini masalah atau bukan?

Screenshot 2014-07-08 06.42.17
Sumber: http://www.buku-plus.com/detail/99-lolos-tes-masuk-sd-1029.html

Anak mesti bersaing ketat, belajar keras hanya untuk masuk Sekolah Dasar. Berkali-kali hal tersebut dibantah pemerintah, tapi dalam setiap penerimaan siswa baru, hal tersebut selalu menjadi isu, terutama di kalangan orang tua.

Masih menganggap hal tersebut biasa? bagaimana dengan foto di bawah ini?

Screenshot 2014-07-08 06.55.26
Sumber:http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/2010000114322/genius-seperti-einstein-lolos-tes-masuk-tk-tanpa-kesulitan.html

Masih menganggap dunia pendidikan kita tidak sakit?

Ya sudahlah, semoga hal di atas dibenahi oleh pemerintah baru.

Bagaimana dengan guru?

Bersyukurlah ada sertifikasi guru, guru mendapatkan tambahan satu kali gaji.

Namun jangan senang dulu. Pertama, belum semua guru tersertifikasi. Saya tak punya jumlah persisnya, namun dalam blog ini disampaikan

Sampai dengan 2014, Guru PNS di lingkungan Kemdikbud yang sudah bersertifikat pendidik sebanyak 1.236.540. Tapi, berdasarkan persyaratan, guru bersertifikat yang layak mendapatkan SK TPP hanya 904.481 (73%). Sisanya, perlu verifikasi data dan sebagian tidak layak mendapatkan SK TPP.

Kedua, pembayaran sangat tak lancar. Sampai Maret 2014 misalnya, 8,3 triliun uang sertifikasi guru belum terbayarkan kepada yang berhak, mengendap di kas daerah. Ketiga, pembayaran tunjangan sertifikasi yang tidak menyatu kepada gaji membuat tunjangan ini rawan pemotongan. Di sebuah daerah, seorang guru SD bercerita kalau mesti setor beberapa ratus ribu rupiah kepada pejabat setiap kali menerima tunjangan sebagai ucapan terima kasih.

Politik lokal juga kerap menghantui guru. Guru senantiasa menjadi korban mobilisasi politik. Ancaman mutasi jika tak mendukung calon tertentu kerap terjadi dalam pilkada di berbagai daerah di Indonesia.

Belum lagi jika ada proyek di sekolah dan guru terlibat. Mereka mesti menghadapi atasan, kontraktor, aparat, LSM atau wartawan bodrek. Guru seringkali berada dalam tekanan.  Jika anda membaca blog ini dan tidak percaya, silahkan datang ke SD terdekat yang sedang melaksanakan proyek tertentu. Coba mengobrol dari hati ke hati.

Dengan semua problematika di atas, maka jangan harap guru-guru kita bisa tenang mendidik para muridnya.

Oh ya, bicara sekolah di Indonesia, kita juga musti bicara soal akses. Tak cuma soal bagaimana terdaftar dan belajar, tapi betul-betul soal akses yang berarti berangkat dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Ingat jembatan Indiana Jones yang bahkan menghebohkan dunia?

Sumber:http://www.dailymail.co.uk/news/article-2088998/Think-school-run-bad-Children-face-Indiana-Jones-style-river-crossing-EVERY-day-floods-cut-community.html
Sumber:http://www.dailymail.co.uk/news/article-2088998/Think-school-run-bad-Children-face-Indiana-Jones-style-river-crossing-EVERY-day-floods-cut-community.html

Ya, persoalan semacam ini masih banyak di seantero Indonesia.

Maka tak salah jika perlua kerja keras membenahi pendidikan di Indonesia, dari semua aspek.

Untunglah ada orang semacam Butet Manurung (Sokola Rimba), Anies Baswedan (Indonesia Mengajar) atau Arief Kirdiat (Relawan Kampung-1000 jembatan) yang berada di luar pemerintahan namun memberikan kontribusi besar terhadap dunia pendidikan.

Semoga pemerintah baru bisa bekerja keras menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan kita ini.

Bukankah pendidikan dasar dibiayai dari pajak kita ?

 

 

Iklan

2 comments

  1. Saya sdh baca tulisan bapak yg ‘membangun manusianya’ dan tulisan di atas. Sangat inspiratif, tapi juga mengundang rasa prihatin. Semoga pemerintahan mendatang bisa membawa perbaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s