Suatu ketika, saya pernah menulis status:

Screenshot 2014-07-05 07.32.36

 

 

 

 

Saat itu saya pulang dari kampus dalam kondisi sepi, hujan rintik-rintik, perut lapar, jalanan lengang, dan jelas tidak ada polisi lalu lintas. Saya ingat, sempat mempertimbangkan menerobos, namun akhirnya memilih menunggu saja lampu merah berubah warna menjadi hijau. Saya mencoba melawan diri sendiri yang ingin cepat sampai rumah, lekas makan makanan hangat, terbebas dari rintik hujan, apalagi tidak ada polisi.

Adalah sebuah keberuntungan saya bisa tinggal di Jepun untuk studi. Saya jatuh cinta kepada negeri ini sejak pandangan pertama datang pertama kali tahun 2008 untuk sebuah seminar. Bukan karena banyak gadis berkimono yang membuat saya takjub, tapi bagaimana manusia-manusia di sini berintegritas dalam hidup.

Ya, jika anda bertanya duluan mana ayam atau telor manusia atau sistem yang dibangun, saya sekarang sudah tahu jawabannya.  Jawabannya jelas: manusia. Manusia yang membentuk keluarga, komunitas, masyarakat, negara dan dunia. Walaupun secara simultan, sistem dibenahi.

Di sini kualitas manusia bisa dilihat dari tertib membuang sampah, cara berlalu lintas, etika menemukan barang hilang, dan sebagainya.

Bertahun lalu, Pak Uga Praceka, putra dari Ajip Rosidi yang tinggal di Kobe bercerita bahwa dia beberapa kali kehilangan dompet, dan selalu berhasil ditemukan lengkap dengan isinya, entah dikembalikan atau dia ambil ke kantor polisi. Istri saya pernah ketinggalan tas dalam bis kota, dan bisa kembali. Saya pernah kehilangan kamera DSLR bersama dua lensa, dan diselamatkan seseorang yang kemudian menitipkannya di kantor satpam kampus.  Oh ya, ini salah satu tulisan soal bagaimana polisi Jepun berinteraksi dengan masyarakat. 

Berkendara juga menarik, trotoar cukup lebar dan biasanya terbagi dua, sebagian untuk pejalan kaki, sebagian untuk sepeda. Menariknya, walaupun lebar dan datar, tak ada cerita trotoar dikuasai oleh pedagang kaki lima, mobil atau motor yang saling serobot seperti di trotoar sepanjang jalan raya kalibata di pagi hari. Trotoar tetap menjadi tempat yang nyaman, dimana pejalan kaki dan pesepeda saling menghormati.

2013-09-23 09.22.20

Saya dan keluarga seringkali menghabiskan waktu di sungai yang tak hanya bersih karena dirawat oleh pemerintah, tapi juga karena semua orang disana membawa pulang sampahnya. Ya, karena disana tidak ada tempat sampah. Jadi kami harus memasukkan sampah ke kantong plastik dan membawanya pulang, dimasukan ke tempat sampah di rumah masing-masing. Hal yang sama yang harus dilakukan di semua tempat publik lainnya.

Ini jelas soal manusianya.

Ini jelas hasil dari pendidikan. Pendidikan yang memanusiakan manusia.

Ya, saya bisa mengatakan itu, karena kedua anak saya masuk sekolah negeri di Jepun, dalam kondisi awal tidak bisa bahasa Jepun, termasuk buta huruf hiragana, katakana apalagi kanji.

Pertama saya dan keluarga datang ke Jepun, langsung mendapatkan KTP (Residence Card) di bandara. Tak pakai lama dan ribet, apalagi menyogok. Pokoknya keluar bandara, langsung pegang kartu itu.

Beberapa hari kemudian, kami mendaftarkan alamat di Sakyo Ward Office (Semacam Kecamatan), langsung dilayani, sekaligus mendaftar asuransi (semacam kartu Jepang Sehat yang kalau berobat di klinik semahal apapun cukup bayar maksimal 30%), mendaftar subsidi anak (anak dapat subsidi setiap bulan 10.000 yen/bulan, kartu penerima dikirim setiap tahun),  juga yang terpenting mendaftar sekolah Ayu.

Ya, tak ada keribetan, pihak Ward Office langsung melayani pendaftaran sekolah, menunjukkan alamat sekolah dasar terdekat yang harus didatangi dua hari kemudian. Tanpa ribet, tanpa harus lobby sana-sini, tanpa sogok.

Dua hari kemudian, kami ke sekolah, disambut oleh Wakil Kepala Sekolah dan beberapa guru, mengobrol hangat, ditanyakan berbagai preferensi (karena kami muslim), dan Ayu tentu saja langsung ditunjukkan kelas dan teman-temannya. Tak ada test calistung.

Tapi, apakah ada pembicaraan soal duit?

Ya, ADA. Kami diharuskan membayar biaya makan siang 4000 yen (monggo dikalikan 120 rupiah) setiap bulannya. Namun uang itu akan digantikan juga setiap bulannya, melalui skema subsidi, karena Abahnya Ayu berpendapatan kurang dari garis kemiskinan di Jepun. Malah ada subsidi macam-macam dari pemerintah kota dan provinsi yang secara berkala dikirim ke rekening kami.

Meminjam bahasa media, kami terpelongo. Menyekolahkan anak, bukannya keluar duit, malah dapat duit.

Sekolah Ayu juga menyediakan seorang Sensei yang mengajari bahasa Jepang setelah jam sekolah, seminggu dua kali. Gratis.

Ketika Ilham masuk SD Negeri selulus TK, prosesnya hampir sama. Tak ada keribetan berurusan dengan birokrasi. Aturannya jelas, anak masuk SD Negeri yang terdekat dengan tempat tinggal. Tak ada SD Negeri favorit, semua memiliki fasilitas standard: ruang kelas ber-AC, lapangan luas yang cukup bermain bola, kolam renang, dan perpustakaan yang baik.

Ya, ini jelas bukan hanya soal sistem, tapi juga soal integritas manusia yang menjalankan sistem. Kalau wakil kepala sekolah mau mbohongi, kami juga ndak tau toh?

Dari cerita Ayu tentang sekolahnya kami lantas belajar bagaimana integritas dibangun.

Dengan segenap kemajuan teknologi, anak-anak sejak sekolah dasar justru dibangun mental dan semangatnya, dan bukan dimanjakan.

13997910542_6bd1295941_b

Ini beberapa cerita dari sekolah Ayu dan Ilham:

  • Ayu dan Ilham harus berangkat jalan kaki ke sekolah, tak ada cerita diantar pake kendaraan atau ojek. 😉
  • Ayu dan Ilham bersama teman-teman sekolah kebagian membersihkan kelas (menyapu, mengepel, mengelap meja) bersama-sama setiap siang. Di jam tersebut, semua murid kelas 1-6 tanpa terkecuali harus beres-beres.
  • Ayu bercerita bahwa Kepala Sekolah memegang kunci sekolah, datang paling pagi dan pulang paling sore/malam. Oh ya, Kepala Sekolah juga harus mencicipi makanan yang disajikan untuk makan siang, menjamin tidak beracun.
  • Ayu secara berkala mendapat giliran kebagian mengurusi (mengambil, menyajikan dan membereskan) makan siang teman-temannya.
  • Sekolah memberi tanda di jadwal makan mingguan, mana saja makanan yang terkategorikan haram, sehingga Ayu dan Ilham membawa bento (bekal).
  • Kadangkala guru bahkan kepala sekolah datang ke Apato (rumah) kami hanya untuk menyapa, menyampaikan pengumuman, atau bahkan minta maaf. Ya, jam 8 malam, kepala sekolah pernah datang membungkuk berkali-kali minta maaf soal kesalahan menandai makanan mengandung babi di menu. itupun sebetulnya tak masalah karena Ayu dan Ilham tak memakannya setelah diberitahu guru.
  • Oh satu lagi, yang paling menyentuh adalah bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus (di kelas khusus Himawari) diperlakukan dengan amat baik di sekolah. Dalam Undokai (Semacam porseni), bahkan guru dan anak Himawari berada dalam satu tim, melakukan kegiatan olahraga.
Ayu in Classroom
Ayu Beres-beres di Sekolah

Masih banyak cerita lain.

Tulisan ini tak hendak mengajak anda pindah ke Jepun. Kami juga akan pulang tahun depan dan anak-anak akan bersekolah di Indonesia.

Tulisan ini hanya mengingatkan bahwa jika kita mau, kita juga bisa membangun hal yang sama di negeri kita.

Ya, membangun manusianya.

Saya masih bermimpi bahwa sekolah bisa jadi tempat anak-anak belajar membangun integritas. Sekolah memiliki guru dan kepala yang berintegritas. Proses mendaftarkan juga berintegritas, sesuai aturan dan tidak ada main belakang.

Saya masih berharap bahwa di sekolah anak-anak belajar tentang menjadi manusia bertanggung jawab, membuang sampah pada tempatnya, menyayangi teman, menghormati guru dan orang tua.

Sekolah yang baik akan menghasilkan manusia yang baik sehingga kita bisa memiliki petani yang baik, nelayan yang baik, PNS yang baik, tentara yang baik, polisi yang baik, pengendara motor dan mobil yang baik, pedagang yang baik, menantu yang baik, pokoknya manusia yang baik.

Ini menjadi awal bagi terwujudnya harapan memiliki birokrasi dan polisi yang baik, sehingga berurusan dengan mereka bukanlah mimpi buruk karena harus menyiapkan uang terima kasih dan prosedur tidak jelas lainnya.

Ya, membangun manusianya.

Semoga kita dikaruniai pemimpin baru yang punya keinginan, program, dan kemampuan melakukan pembenahan manusia Indonesia. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

 

 

 

 

 

 

Iklan

3 tanggapan untuk “Membangun Manusianya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s