Presiden Republik Indonesia yang masih menjabat, Soesilo Bambang Yudhoyono, dan wapresnya, Boediono, kini nyaris luput dari perhatian publik. Semua orang sedang mabuk Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Tapi nampaknya kesepian ini membantu SBY sendiri menyiapkan rencana soft landing yang matang dengan perencanaan yang amat hati-hati. Saya mencoba membacanya. Ini di luar rencana SBY bekerja menjadi dosen setelah mendapatkan gelar Profesor Tidak Tetap dari Universitas Pertahanan dan mendapatkan jatah rumah tanpa batas atas harga, tapi lebih sebagai upaya “mengamankan” kepentingannya paska Pemilihan Presiden 2014.

Source: http://www.kaskus.co.id/thread/538c1dfe4807e749528b456c/sby-minta-jenderal-aktif-yang-ingin-berpolitik-mengundurkan-diri/

Jika para pengamat banyak mengatakan bahwa SBY memberi dukungan kepada Prabowo di masa-masa akhir karena melihat Prabowo berpotensi memenangkan Pilpres, ini adalah kesalahan besar. Memang betul, Partai Demokrat baru saja secara resmi memberikan dukungan pada pasangan Prabowo-Hatta pada 30 Juni, padahal 1,5 bulan sebelumnya menyatakan netral. Namun, amatan saya, SBY telah ikut berjuang bersama pasangan ini bahkan ketika Konvensi Calon Presiden di Partai Demokrat masih berjalan, ketika masih menyatakan netral.

Ya, Konvensi Capres masih berjalan ketika Partai Demokrat tidak mencapai target dalam Pemilu Legislatif. Artinya, Partai Demokrat sulit memberikan jaminan keamanan bagi SBY dan keluarga paska purna tugas sebagai presiden. Ada beberapa persoalan yang bisa jadi mengganggu masa pensiun SBY. Setidaknya Anas Urbaningrum meminta SBY dan Ibas diperiksa dalam kasus Century dan Hambalang. Ini juga soal nasib Agus yang masih berkarir sebagai militer aktif. Tentu saja, ada harapan karir Agus aman, mencapai pangkat tertinggi di dunia militer dan di masa depan bisa jadi Calon Presiden. Ini soal kenyamanan menjalani pensiun dan masa depan dinasti politik.

Di Partai Demokrat sendiri tak ada yang bisa dipercaya SBY. Dua pemimpin masa depan partai yang cemerlang – Alfian dan Anas – meringkuk di hotel prodeo.  Karena tak percaya siapa pun itulah, maka SBY langsung mengambil alih kepemimpinan partai. Presiden merangkap ketua umum partai politik.

Maka wajar kiranya jika Konvensi partai demokrat  menjadi anti klimaks ketika hasilnya diumumkan. Ya, peserta konvensi yang berjuang sembilan bulan sejak 30 Agustus 2013 harus menahan malu, marah, dan kecewa, karena hasil konvensi tak bermakna apapun dalam konstelasi politik tahun 2014. Ini karena dua hal. Pertama, pengumuman hasil konvensi baru dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2014, hanya terpaut dua hari dari jadwal pendaftaran calon presiden dilaksanakan pada tanggal 18-20 Mei 2014. Padahal seharusnya pengumuman hasil konvensi dilaksanakan pada bulan April.

Kedua, di masa konvensi bahkan sampai pengumuman hasil konvensi, tak ada upaya Partai Demokrat atau SBY untuk membangun koalisi dengan partai-partai politik lain untuk memperjuangkan pemenang konvensi menjadi kandidat resmi Presiden. Padahal perolehan suara Partai Demokrat sebesar 10,19% tidak terpaut jauh dari Partai Gerindra yang 11,81%. Di penghujung konvensi, malah muncul isu bahwa Partai Demokrat akan mencalonkan Sri Sultan HB X.

Nampaknya ini pengalihan yang sukses karena pada tanggal 13 Mei 2014, Hatta, didampingi Prabowo, bertemu dengan SBY untuk menyatakan mundur dari pencalonannya sebagai Menko Perekonomian dan sekaligus meminta restu untuk maju menjadi calon Wakil Presiden Prabowo. Jadi ketika pada tanggal 16 Mei hasil konvensi diumumkan, tanggal 13 sudah ada pertemuan SBY – Prabowo- Hatta yang bisa dimaknai sebagai lebih dari sekedar memberikan izin mundur ke Hatta Rajasa.

Kesimpulan sederhananya adalah, SBY membunuh Konvensi Calon Presiden di Partai Demokrat karena sebetulnya diam-diam memberi sokongan terhadap Prabowo-Hatta. Konvensi Demokrat bukan ajang melejitkan para peserta malah membunuh karir politik mereka. Dengan mengikuti konvensi, para bakal calon presiden dikerangkeng sehingga tidak bisa melakukan pendekatan kepada calon Presiden manapun di luar Demokrat. Padahal konvensi diikuti dengan sepenuh hati dan tenaga serta tentu saja materi oleh para pesertanya. Dua tokoh muda, Dino dan Gita misalnya, memasang iklan kampanye di layar jaringan bioskop 21 (Please deh, ini ganggu mood waktu nonton The Raid 2 Berandal). Anies Baswedan membangun jaringan relawan turun tangan sebagai penyokong. Dahlan Iskan, menggunakan jaringan media yang ia miliki untuk mendongkrak popularitasnya. Namun hanya pepesan kosong yang didapatkan oleh Dahlan ketika ia memenangkan konvensi. Mahkota tanpa makna apa pun. Tak heran bila Anas mengatakan dalam tweetnya  “Konvensi Capres diperlakukan sbg “romusha” untuk mendongkrak elektabilitas Demokrat saat pileg”.

Screenshot 2014-07-03 09.05.10

SBY lebih percaya kolega seangkatannya di AKABRI (angkatan masuk tahun 1970, namun beda tahun lulus),  Prabowo Subianto, untuk menjadi Presiden, dan besan sekaligus konseptor ekonominya, Hatta Rajasa, untuk  menjadi wakil Presiden. Ya, besannya itu pastilah bisa dipercaya untuk melanjutkan program raksasa MP3EI dan sekaligus menjamin kepentingan-kepentingan SBY paska pilpres terakomodasi dengan baik.

Hal ini nampaknya juga berpengaruh ke sikap Prabowo terhadap pemerintahan SBY. Jika sebelumnya, ia lebih banyak menunjukkan sikap korektif terutama dalam kebijakan ekonomi, kini Prabowo menunjukkan sikap memuji, bahkan siap melanjutkan. Maka tak heran, istilah kebocoran 1000 triliun tiba-tiba memiliki definisi baru sebagai potential lost. Bahkan dalam sesi debat politik luar negeri, Prabowo menyatakan tak akan membuat perubahan apapun terhadap kebijakan luar negeri SBY.

Kedekatan SBY-Prabowo juga tergambar dalam tulisan Nanik S Deyang yang mengharu biru, seorang konsultan politik yang selalu memakai predikat wartawan dalam setiap tulisannya.

“Saat saya melihat Prabowo menonton TV di pendopo rumah SBY, dimana di sebuah stasiun TV tengah di putar ulang liputan deklarasi Jokowi_JK ….entah kenapa air mata saya hampir jatuh..” dari samping saya lihat Prabowo menatap gambar di TV itu tanpa bicara sepatah kata pun, meski di sampingnya mulai dari Hatta Rajasa, Menteri Jero Wacik, Cicip Syarif Sutardja, Djan Faris dll “

Ngapain Prabowo nonton TV di pendopo rumah SBY bersama para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu? Sayang, Nanik tak memberi jawaban.

Maka jangan berharap kasus Obor Rakyat akan diproses dengan terang benderang, karena pelakunya adalah orang di dalam lingkaran istana. Atau jangan-jangan ini kontribusi besar istana?

Jadi pelanjut kebijakan pemerintahan SBY-Boediono adalah Prabowo-Hatta. Tentu dengan segenap prestasi dan permasalahannya. Kini, pilihan dalam Pemilu Presiden 2014 menjadi lebih jelas. Jika Anda pengagum pemerintahan sekarang maka pilihannya adalah Prabowo-Hatta. Jika tidak, tentu pilih calon sebelah. Mau golput? Wah, itu sudah nggak mainstream! 😉

Wallahua’lam bissawab.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Membaca Yudhoyono dalam Pilpres 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s