Ketika lulus SMU saya mendaftar ke AKABRI. Ya, imajinasi lazim anak muda kala itu, menjadi perwira militer adalah jalur terbaik untuk menjadi pemimpin negara, di semua tingkatan. Yups, saya memang punya minat ke dunia militer. Saya rajin nongkrong di Pocis, Pasar Royal hanya untuk numpang baca majalah TSM dan Angkasa di kios majalah bekas. Saya yang aktif di Pramuka bersama-sama kawan juga membentuk Pasukan Khusus, PANSER (Pasukan Andalan Serba Guna) yang logo nya mirip logo Kopassus. Oh ya, bersama Asep, kami suka eksperimen membuat bahan peledak dengan tutorial dari buku kimia terbitan UT (Universitas Terbuka). Beberapa kali kita iseng membuat ledakan kecil untuk menggoda waria-waria yang nongkrong di Taman Sari.

Balik ke AKABRI. Saya gagal test AKABRI di test pertama. Alasan paling masuk akal adalah karena terlalu kurus. Saya juga nggak yakin bakal lolos di test selanjutnya juga, lha wong saya nggak bisa berenang kok. Tapi saya nekad daftar, tanpa izin orang tua. Apa hanya bertanya ringkas ketika tak sengaja melihat badge tanda peserta test ” Ikut test AKABRI ya? lolos? ” . Saya hanya menjawab ” Nggak”.

Saya tahu, Apa tak mungkin memberikan izin. Jangankan masuk AKABRI, mau latihan Paskibra juga dilarang keras.

MInat terhadap dunia kemiliteran masih cukup terjaga sampai sekarang sebetulnya. Saya masih memakai jam tangan di tangan kanan. Saya ingat, ini pengaruh sosok Wismoyo Arismunandar, Jenderal yang berwibawa dan kharismatis ketika saya remaja. Ia bilang bahwa memakai jam tangan di tangan kanan menunjukkan bahwa kita menghargai waktu. Saya percaya. Belakangan saya baru tahu bahwa, arloji di tangan kanan adalah simbol perlawanan Wismoyo terhadap Soeharto.  Sebagai penanda begitu. Makanya, Wismoyo di KONI-kan. Hmm, padahal Wismoyo adalah kerabatnya Alm. Ibu Tien Soeharto.

Wismoyo dan satu lagi, Prabowo, adalah dua sosok militer yang melekat di benak saya, pernah saya kagumi. Penaklukan gunung Everest dan berbagai operasi militer yang dilakukan Prabowo bersama Kopassus menjadi bahan bacaan yang mengagumkan. Kasus penculikan memang mengganggu, tapi menjadi militer yang membela tanah air tetap saja sesuatu yang keren.

Oh ya, sebagai anak muda di masa itu, pengaruh lain datang dari sisi lain, Amien Rais. Amien sebagai simbol reformasi membuat saya tertarik ke dunia politik. Saya ingat, pernah datang ke Cilegon hanya untuk mendengar Amien berpidato. Penyuaraan ketidakadilan oleh Amien untuk kasus Freeport membuat saya terkagum-kagum.

Mungkin ini yang membuat saya masuk ke Jurusan Ilmu Politik di FISIP UI.

Hmm, dua sosok di atas kini berada dalam satu barisan. Prabowo menjadi Calon Presiden dan Amien Rais menjadi salah satu pendukungnya.

Apakah saya akan memilih mereka?

Rasanya berat. Saya bukan anak muda berusia belasan tahun yang mudah terkagum-kagum lagi pada satu sosok tertentu. Prabowo dan Amien telah melewati masa-masa yang membuat saya bisa menilai, bahwa tahun ini bukanlah waktu terbaik bagi Indonesia untuk dipimpin oleh mereka.

Jika situasi politik orde baru tak berubah, bisa jadi Prabowo adalah pelanjut terbaik kepemimpinan Soeharto. Tapi saya terlanjur percaya bahwa Soeharto bukanlah pemimpin yang baik. Militerisme, bagi saya bukan gaya politik yang pas di zaman sekarang. Itu sudah jadul dan bukan ide yang baik lagi untuk diterapkan.

Begitu juga akrobat politik Amien Rais di pentas politik sepuluh tahun lebih belakangan membuat saya berpikir sebaiknya beliau duduk di rumah menonton TV saja.

Bagaimana dengan Bung Hatta, Cawapres Prabowo? Saya sepakat bahwa hal terbaik yang harus dilakukan Hatta adalah mendidik anak-anaknya agar menghargai nyawa orang lain.

###

Ini opini pribadi saya. Saya bahkan menulisnya untuk diri sendiri saja.

Salam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s