Sedikit Kenangan Tentang Apa

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202119281277489&set=a.1651237194752.191478.1051650689&type=1&theater

Gambar di atas sontak mengingatkanku ke Apa. Ya, aku memang nyaris tak pernah merengek ketika kecil. Hidup kami begitu sederhana, delapan bersaudara mesti berbagi banyak hal. Apa mendidik dengan keras dan nyaris tak pernah memberikan apa yang kami inginkan, sekalipun sebuah sepeda.

Soal sepeda, aku inget ketika masa-masa hampir semua kawan punya sepeda — terutama merek Federal, mustang dan kawan-kawannya– kami cuma bisa memandang dari kejauhan.

Satu-satunya mainan yang aku berani merengek –itu pun pada Mamah — hanya pedang-pedangan, mirip yang dipakai oleh karakter “He-Man”. Aku lupa, entah akhirnya dibelikan atau tidak, maklum ini kenangan di usia empat atau lima tahun. Pada akhirnya aku tak pernah merengek lagi.

TV di rumahpun hitam putih dan hanya bisa menangkap siaran TVRI dan TPI, sehingga jika ingin nonton McGyver atau Knight Rider mesti ke rumah tetangga. Apa pernah mengajak kakakku ke Rangkasbitung untuk melihat-lihat TV di toko, tanpa pernah membelinya. Mungkin sekedar menghibur diri dan anaknya.

Ketika beranjak dewasa aku baru paham, membiayai sekolah delapan orang anak untuk jadi sarjana tentu tak mudah. Apa yang seorang Guru tentu saja berhadapan dengan masalah ekonomi. Belakangan aku juga paham, Apa berusaha mencari pinjaman kesana-kemari untuk membiayai kuliahku di UI.

Ketika ekonomi kami -anak-anaknya — jauh membaik, Apa malah meninggalkan kami, bertemu Tuhannya.

 

Iklan

One comment

  1. Aduh.. abah..aku menangis membaca goresan abah ini, karena semua bayangan masa lalu saya kembali bermain di depan mata, akupun merasakan seperti itu abah, orangtuaku hanya pns rendahan yang berjuang menghidupi kami, bagi papa ku pendidikan anak-anaknya adalah warisan yang paling beharga buat dia, itu kalimat yang selalu tergiang ditelingaku, namun walau kami hidup dalam keluarga yang sangat sederhana sekali namun kedua orangtua ku sangat………. menyayangi kami, ssehingga hari demi hari saya selalu berjuang untuk melabuhkan impian mereka, nak.. kamu harus menjadi pribadi yang lebih dari bapak mu nak….., itu yang selalu ku dengar , walau aku tak pernah menikmati kemewahan layaknya anak2 sebaya ku namun aku tak pernah protes terhadap emak dan bapak ku. satu tekadku aku harus menjadi oirang yang bisa membuat emak dan bapak ku bangga, Alhamddulillah impian mereka terkabul , sedikit banyaknya aku juga sudah menjadi apa yang mereka inginkan, namun disaat aku telah menjadi apa yg bapak inginkan, Allah telah memanggil bapakku , sehingga bapakku tidak merasakan dan menikmati semua ini, Alhamdulillah ibuku masih diberi Allah umr yang panjang dan aku berjanji akan membahagiakan ibundaku, dan akan berusaha meujudkan impiannya, Terima kasih Bapak sayang doaku tak putus-putus menyertaimu semoga Allah menempatkan mu di SorgaNya..Amin.. dan buat ibunda kusayang.. semoga sehat selalu panjang umur, dan insyaallah kita akan berangkat ketanah impian Mu bunda ( Tanah Suci Mekah) Insyaallah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s