Uniqlo di Sumarecon

Uniqlo di Sumarecon

Uniqlo ini bukan merek mahal di Jepun, tergolong menengah. Namun barangnya bagus dan tahan lama. Kaos kaki yang aku pakai beli di uniqlo tahun 2008, walau belel tapi masih enak dipakai. Kalau kameja kotak-kotak terpaksa pensiun karena kerahnya mulai rusak.

Aku dan keluarga sering ke Uniqlo waktu sale, he he. Oh ya di Jepun, tips belanja di Uniqlo salah satunya adalah menelusuri rak-rak belakang, disana ada barang yang harganya jauh lebih murah. Bukan karena jelek, tapi bisa jadi salah musim atau ukurannya terlalu besar/kecil.

Ini potret bilboard Uniqlo di Summarecon, deket rumah masa depan di Karawaci 😉

20140328-184828.jpg

Iklan

Serang Suatu Ketika

24 Maret 2014

Halte depan Ramayana- Alun-alun dikuasai becak dan pedagang asongan yang memakai gerobak.

Di angkot, sopir bercerita bahwa caleg DPRD kota serang incumbent bernama M*** dapil kasemen minta tolong untuk membagikan uang malam jelang coblosan. Uang untuk 400 orang, masing-masing 50rb rupiah. Ia berencana menilap uang tsb sebesar 20rb/kepala, sebagai uang lelah. Pemilu lalu ia membagikan 10jt rupiah untuk 400 orang dan ia ambil 2 juta.

Menurut pengakuannya, dalam Pilkada Kota Serang, ia ikut membagikan uang dari incumbent, sebesar 100rb per orang.

Menyewakan Rumah di Vila Rizki Ilhami Karawaci

Denah dasar tipe 45 villa rizki ilhami 45:90 Bentuk dasar sebelum dipasang pagar dan tembok:

Nah kondisinya sekarang sudah ditembok belakang, depan kanan kiri dan pagar depan. Juga sudah dipasang kanopi sehingga aman untuk kendaraan anda. Air menggunakan pompa listrik dan pake toren, sehingga aman kalau tiba-tiba mati lampu. Kemudian listrik yang digunakan sebesar 1300 watt dengan sistem pulsa.

tampak samping

Site Map keseluruhan vila rizki ilhami Site Map Blok C, sila dilihat lokasinya di Blok C5/21.Blok C vila rizki ilhami Peta Google Map Screen Shot 2014-03-18 at 11.58.07 AM Atau bisa dilihat di: https://mapsengine.google.com/map/edit?mid=z5a36CVu07Rs.kbXyCnl2G-fU atau berikut peta dari wikimapia: http://wikimapia.org/#lang=en&lat=-6.243036&lon=106.615276&z=14&m=b&show=/27067051/Perumahan-Vila-Rizki-Ilhami Akses strategis, dekat ke pintu tol tangerang-jakarta, lippo karawaci, summarecon serpong, UPH, UMN, sekolah islamic village, dll. akses vila rizki ilhamiUpdate: Sudah laku, alhamdulillah 🙂

 

Peneliti Asing di Indonesia

Menjelang pemilu 2014 ini para peneliti asing berdatangan ke Indonesia. Mereka datang untuk mencari data tentang pemilu dan tentu akan menuliskannya di Jurnal. Seminggu lalu, saya bertemu Ed Aspinall di Manado, makan duren dan ngobrol ngalor ngidul.

Kabarnya, Marcus Mietzner dan Dirk Tomsa juga akan kemari. Nah belum lagi yang stand by di Jakarta dan kota-kota lain, ada Andreas Ufen, Miichi Ken atau Jun Honna.

Pastinya ada pertarungan setelah pemilu, publikasi terakurat dan tercepat soal politik lokal di Indonesia.

Semoga aku gak cuma jadi penonton 😉

Jalan Roda

Kemarin ngupi-ngupi di jalan roda, pasar empat lima.

Setiap ke Manado saya pasti mampir. Yang khas dari sana adalah kopi setengah dan pisang goreng. Kopi setengah adalah kopi dengan takaran setengah gelas, tapi pakai gula banyak. Nah, untuk yang kere, begitu kopi tinggal ampas, masih bisa minta air panas gratis dan diudek, he he. Tapi itu kata sahabat saya Nono, mungkin pengalaman pribadi 😉

Nah pisang gorengnya juga mantap. Pisang goreng panas-panas dinikmati dengan dicocolkan ke sambel atau rica. Rasanya, aneh dan uenak. Boleh dicoba di rumah.

Namun yang paling penting dari jalan roda bukan makanannya.Tapi suasananya. Disana dari siang sampai sekitar jam 7 malam, berkumpul banyak orang dari latar belakang, bakudapa. Ada PNS, polisi, pegawai kantoran, pegawai toko, buruh, office boy, dan juga politisi. Mereka datang dan berdiskusi apa saja, utamanya soal politik di Manado.

Ya, ini ruang publik yang amat hidup, tempat banyak orang berdiri  sama rendah dan minum kopi yang terjangkau, bebas bicara apa saja. Tak ada yang berani bikin ribut, karena jalan roda ini lambang kebersamaan masyarakat Manado.

Sedikit Kenangan Tentang Apa

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202119281277489&set=a.1651237194752.191478.1051650689&type=1&theater

Gambar di atas sontak mengingatkanku ke Apa. Ya, aku memang nyaris tak pernah merengek ketika kecil. Hidup kami begitu sederhana, delapan bersaudara mesti berbagi banyak hal. Apa mendidik dengan keras dan nyaris tak pernah memberikan apa yang kami inginkan, sekalipun sebuah sepeda.

Soal sepeda, aku inget ketika masa-masa hampir semua kawan punya sepeda — terutama merek Federal, mustang dan kawan-kawannya– kami cuma bisa memandang dari kejauhan.

Satu-satunya mainan yang aku berani merengek –itu pun pada Mamah — hanya pedang-pedangan, mirip yang dipakai oleh karakter “He-Man”. Aku lupa, entah akhirnya dibelikan atau tidak, maklum ini kenangan di usia empat atau lima tahun. Pada akhirnya aku tak pernah merengek lagi.

TV di rumahpun hitam putih dan hanya bisa menangkap siaran TVRI dan TPI, sehingga jika ingin nonton McGyver atau Knight Rider mesti ke rumah tetangga. Apa pernah mengajak kakakku ke Rangkasbitung untuk melihat-lihat TV di toko, tanpa pernah membelinya. Mungkin sekedar menghibur diri dan anaknya.

Ketika beranjak dewasa aku baru paham, membiayai sekolah delapan orang anak untuk jadi sarjana tentu tak mudah. Apa yang seorang Guru tentu saja berhadapan dengan masalah ekonomi. Belakangan aku juga paham, Apa berusaha mencari pinjaman kesana-kemari untuk membiayai kuliahku di UI.

Ketika ekonomi kami -anak-anaknya — jauh membaik, Apa malah meninggalkan kami, bertemu Tuhannya.

 

Kena Diare

Dua hari ini aku terkapar di kamar hotel.

Bukan apa-apa, perut sakit melilit dan bolak-balik buang air besar. Ya, ini hal yang rutin terjadi ketika keluar dari Jepun dan pulang ke Indonesia. Ini bukan culture shock, tapi makanan di negara kita nampaknya memang kurang steril dibandingkan di Jepun, walaupun tentu saja enak banget :).

Siapa bisa menolak makan nasi kuning dengan sambel maut. Atau kepala ikan bakar di pantai malalayang dengan porsi besar sekali. Ya kenikmatan dunia Bos 🙂


Screen Shot 2014-03-09 at 8.55.36 PM

Namun begitulah, mendadak sakit perut dan mesti mengkonsumsi diatabs. Imun perutku memang berkurang jauh ketika tinggal di negara seperti Jepun dimana standar kebersihan amat tinggi. Ya, minum pun disana cukup pakai air keran. Jadi betul-betul bisa mandi sambil minum air 🙂

Namun street food  maupun makanan restoran di Indonesia memang nggak “ngalahi” dalam hal rasa. Sudah banyak makanan enak masuk perut sejak datang ke Indonesia mulai dari karedok, sate asmawi, makanan sunda cigamea, rendang, otak, dll.

Screen Shot 2014-03-09 at 8.56.25 PM

Hmm tenang saja, sesudah lemes dan sakit perut begini, biasanya imun langsung naik dan bisa menikmati berbagai makanan enak lainnya 🙂

Melawan Ketidak-adilan

Saya percaya bahwa melawan ketidak adilan penguasa selalu bisa ditempuh dengan dua cara.

Cara pertama tentu saja menghadapinya langsung. Lawan kebijakan dengan argumentasi dan aksi. Percayalah kebijakan yang tidak adil selalu lahir dari argumentasi yang lemah namun dikeluarkan oleh mereka yang punya otoritas. Kita bisa melawannya dengan otak, dan jika perlu dengan aksi. Cara pertama ini hanya bisa berhasil jika dilakukan dengan total. Jika tidak dan tak berhasil, tentu ada resiko yang harus dihadapi. Namun jika massif, ini akan berhasil merubah keadaan dalam jangka pendek.

Cara kedua adalah cara yang butuh waktu lebih panjang. Ya, mengalahkan kebijakan tak adil dengan mempersiapkan diri untuk menjadi pengambil kebijakan. Mematangkan diri, memperluas jaringan dan dukungan serta menambah kesaktian biar sakti mandraguna. Buat kelompok yang seide, bangun cita-cita bersama dan saling menjaga idealisme. Begitu saatnya tiba, maka bertarunglah dan ambillah kekuasaan.

Masing-masing cara punya kelebihan dan kekurangan. Cara pertama, banyak dilakukan oleh anak-anak muda bersemangat untuk mengejar perubahan cepat sesuai idealisme. Namun, jika kemudian kebijakan berubah atau bahkan penguasa tumbang, sementara aktor pendobrak tak memenuhi eligibility, maka ini sama dengan mempersilahkan orang lain untuk berkuasa. Cuma jadi kuda troya saja. Dalam kondisi terburuk, situasi bisa jadi hijrah dari moncong buaya ke mulut macan. Situasi lain, ketika eligible dan bisa berkuasa tapi fondasi ekonomi belum kuat, maka saksikanlah ada banyak anak-anak muda yang tak lebih baik atau bahkan lebih buruk dari mereka yang ditumbangkannya.

Cara kedua punya persoalan dengan waktu dan komitmen. Butuh waktu panjang dan komitmen kelompok yang kuat, karena perubahan tak bisa dilakukan sendiri. Bisa jadi ada satu atau dua yang tak sabar dan menggagalkan rencana jangka panjang. Atau malah berkhianat dan menusuk kawan sendiri. Namun jika berhasil, maka kematangan dan kelompok menjadi kekuatan untuk tak hanya mengalahkan ketidak adilan atau menumbangkan penguasa dzalim, tapi juga kekuatan pembaharu menciptakan tata kelola yang baru.

Saya sendiri tak memilih jalan pertama dan kedua. Saya memilih keduanya, cara pertama penting untuk membangun kesadaran dan power exercises. Mengukur kekuatan lawan adalah hal penting bukan? Tapi di saat yang sama, mengorganisasi kelompok, mencari dukungan dengan wajar dan meningkatkan kesaktian agar eligible untuk mengambil alih kekuasaan secara legal adalah hal yang mesti terus dijalankan.

ha ha ha, ngomong apaan sih Abah ? 😉

 

Membakar Kampus

Hari pertama datang ke Manado, ada SMS dari seorang kawan, “Kang, jangan dulu ke kampus ya, lagi bakar-bakaran”.

Waduh, saya lantas buka berita online dan betul saja, terjadi tawuran dan pembakaran kampus.

tawuran unsrat
Sumber foto: http://www.tribunnews.com/regional/2014/03/05/orangtua-14-korban-tawuran-unsrat-kumpul-di-rs-kandou

 Saya tak mau berspekulasi macam-macam.

Hanya ingin mengatakan, sebagai pendidik saya sedih karena mestinya pendidikan memanusiakan manusia, membuat manusia menemukan potensi terbaiknya, baik ilmu maupun pekerti. Bukankah itu makna Si tou timou tumou tou?

Semoga Unsrat kembali pulih dan proses pendidikan kembali berjalan baik.

 

PNS Bisakah Jujur

Bisakah jujur ketika menjadi PNS?

PNS identik dengan ketidakjujuran, selain tentu saja predikat-predikat lain: pemalas, kurang pinter dan tidak efisien. Pokoknya yang jelek-jelek deh.

Nah, aku baru mendengar sebuah cerita.

Rahmat (bukan nama sebenarnya) seorang PNS bergelar S2 dari Universitas terbaik di Indonesia merupakan staf di sebuah Kota di Indonesia. Suatu ketika, ia menjadi penanggungjawab sebuah proyek bernilai milyaran rupiah: pengadaan rumah layak huni untuk masyarakat miskin.

Cair atau tidaknya dana proyek, tergantung dari ditandatangani atau tidaknya dokumen-dokumen oleh si Rahmat. Nah, Rahmat baru mau menandatangani setelah melakukan pengecekan fisik. Akhirnya diantar oleh Fortuner si pengusaha yang mendapatkan proyek, diantarlah Rahmat mengecek sample rumah-rumah. Seusai pengecekan dan makan nasi padang, Rahmat diberikan amplop tebal oleh si pengusaha. Rahmat menolaknya dengan halus.

Nah, ketika pengecekan selesai, dokumenpun ditandatangani, artinya uang proyek bisa dicairkan. Pengusaha mengajak Rahmat ke suatu tempat dan menyodorkan amplop yang lebih tebal.

Rahmat menolak, kali ini dengan keras “Saya tidak menerima uang Pak, itu memang pekerjaan saya”.

Pengusaha itu kaget “Lho, saya kira dulu waktu Bapak menolak, itu isyarat minta lebih besar, saya jadi bingung nih. Kok disini gak kompak ya, ada yang minta, ada yang menolak”

Rahmat : “Pokoknya saya menolak uang dari Bapak, kalau ada yang minta, itu urusan dia”

***

Hmm, masih bisa jujur kan?