Bersyukur

Malam kemarin saya sungguh bersyukur, komentar dan koreksi dari editor untuk jurnal selesai saya tanggapi. Jumlahnya puluhan item. Rasanya seperti habis dari kamar kecil. Lega banget.

Pagi ini bersyukur, bisa sarapan dengan enak, di kampus bisa minum teh ahmad yang katany nomor satu di Inggris.

Lho kenapa saya bicara soal bersyukur?

Sedang ada perdebatan soal bersyukur dengan sudut pandang masing-masing. Ada yang menanggapi keluhan penerima beasiswa Dikti sebagai rasa kurang bersyukur. Argumentasinya, sudah untung ada beasiswa.

Saya memiliki sudut pandang sendiri. Syukur bagi saya adalah area privat, dan kita tidak bisa menuding orang lain tidak bersyukur ketika dia mengeluh. Kita tidak tahu misalnya, kebaikan apa yang sudah dia lakukan dengan rejeki yang didapatkan dari Allah. Bahkan bisa jadi dia bayar zakat dan sodaqoh lebih besar daripada kita.

Saya lebih melihat mengeluh sebagai feedback. Sebagai pengguna layanan dari pengelola beasiswa Dikti, kita tentu saja berharap program beasiswa ini dikelola dengan baik dan amanah. Kita semua tentu paham bahwa uang untuk beasiswa berasal dari pajak nelayan, petani atau tukang ojek. Penerima mesti menggunakan sesuai alokasi dan pengelola mesti benar dalam pengelolaannya.

Keluhan muncul ketika pengelolaan tak cukup amanah. Misalnya beasiswa datang terlambat. Apakah wajar dikeluhkan? Ya wajar, karena dalam beasiswa terkandung komponen kebutuhan hidup untuk makan, minum, pakaian dan sebagainya. Ada juga hak pemilik apartemen yang disewa karyasiswa atau hak universitas tempat kita belajar dalam bentuk tuition fee.

Tidak wajar jika penerima beasiswa menggunakan beasiswa tidak pada tempatnya, tapi selalu mengeluh. Misalnya ganti lensa kamera setiap bulan dari uang beasiswa, tapi mengeluh kekurangan biaya untuk makan. Untuk kasus semacam ini tentu saja sudah bukan tidak wajar, tapi kurang ajar.

Soal ajakan bertahan hidup. Saya pikir penerima beasiswa Dikti sudah piawai bertahan menahan lapar, berhemat, meminjam uang, atau bekerja sambilan. Tidak usah mengajari ikan berenang, kalau kata orang-orang tua dulu.

Saya sendiri mencoba beryukur dengan keterbatasan. Mengeluarkan hak orang lain yang terdapat dalam beasiswa. Atau berbagi informasi melalui blog ini.

Salam.

 

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s