Karir Dosen

Sejenak mari lupakan petisi.

Ya, profesi dosen terlanjur dibuat sulit oleh berbagai kebijakan pemerintah akhir-akhir ini.

Tapi apakah lantas seburam itu? Bagaimana buat yang sudah terlanjur menjadi dosen?

Mau jadi sopir Busway yang kabarnya memiliki pendapatan lebih tinggi? He he, tentu saja tidak. Saya yakin kita jadi dosen bukan karena sekedar uang kan? Tapi karena juga minat dan kecintaan pada ilmu pengetahuan.

Lantas apakah kita mesti nrimo dan berserah diri? Menerima gaji kecil dan terus bersyukur? Sambil orang di sekitar kita bilang “Syukurin lo jadi dosen “, he he.

Tidak, mari kita bangun karir profesional sebagai dosen. Harus diakui, keamanan finansial sebagai dosen adalah ketika sudah mencapai Guru Besar. Asumsinya bukan kaya raya, tapi cukup untuk membuat tenang bekerja di kampus sebagai dosen beneran tanpa harus mengamen kesana-kemari. Biar punya waktu cukup untuk menulis, membaca, mengajar dan membimbing mahasiswa tanpa harus mengorbankan kesejahteraan keluarga 🙂

Lha kok kenapa ukurannya bukan ketika disertifikasi?  sebab sertifikasi nyaris tak bisa ditentukan kapan masuk kuota dan bagaimana bisa lulus, sulit mengukurnya. Walaupun sejatinya gampang, tapi ada saja kasus yang tidak lolos, banyak faktor di luar kita. Bagi yang punya solusi berwirausaha, monggo saja sebagai solusi. Memang mesti diakui ada juga dosen yang sukses sebagai pengusaha. Kalau saya sih nggak berbakat, pernah buka lapak brownies tapi malah bangkrut.

Hmm balik ke karir dosen. Apa saja sih komponen keberhasilan karir sebagai dosen. Menurut amatan saya terhadap dosen-dosen yang duluan sukses, ada beberapa hal:

1. Pendidikan.

Karir tertinggi dosen hanya bisa diraih ketika anda berpendidikan Doktor. Tidak ada perkecualian, kecuali keterlanjuran. Lho kamsudnya? Ya di masa lalu Dosen S1 masih bisa jadi Profesor. Sekarang ya tidak bisa, standar minimal dosen adalah S2 dan untuk jadi Lektor Kepala apalagi Guru Besar, syaratnya ya Doktor. Dan saya yakin, semakin lama persyaratan dosen akan semakin tinggi. Yuks buat yang belum sekolah S3 mari sekolah. Untuk yang masih berat meninggalkan serdos dan tunjangan fungsional mungkin bisa memilih izin belajar. Untuk yang tugas belajar, percayalah di masa depan dan untuk jangka panjang pilihan bersekolah doktor secepatnya adalah investasi yang terbaik.

2. Produktif

Ya, maksudnya menghasilkan karya ilmiah. Cepat atau lambatnya karir kita banyak ditentukan oleh seberapa produktif kita menghasilkan karya ilmiah. Semakin tinggi reputasi karya ilmiah maka semakin besar nilai kreditnya. Katakanlah anda menulis Jurnal Internasional, maka anda akan mendapatkan angka kredit 40, jurnal terakreditasi dikti nilainya 25 dan jurnal nasional berISSN nilainya 10. Nah coba hitung kalau anda menulis satu jurnal internasional setahun sekali, satu jurnal akreditasi setahun sekali, dan satu jurnal nasional setahun sekali. Sudah mengantungi 75 angka kredit, baru dari jurnal saja. Belum dari menulis buku, diktat, menjadi pembicara seminar, mengajar, pengabdian pada masyarakat dan lain-lain. Jadikan menulis di jurnal ilmiah sebagai kebiasaan dan bukan keterpaksaan.

Dari sini kita sudah paham bahwa logika sebaliknya akan terjadi. Jika anda menjadi dosen ala kadarnya saja, misalnya hanya sibuk mengajar tapi tak pernah menulis karya ilmiah, maka wajar jika karir anda akan mentok. Ini sunatullah karir dosen. Karir berbanding lurus dengan produktivitas kita menulis karya ilmiah.

Bahkan untuk mereka yang hebat, katakanlah menulis di jurnal internasional, ada keistimewaan untuk naik Jabatan Fungsional lebih cepat dari seharusnya atau malah lompat Jabatan Fungsional. Keren kan !

Oh ya, bahkan ketika menjadi Guru Besar, ada kewajiban publikasi ilmiah, termasuk di jurnal internasional yang harus dilakukan untuk tetap mendapatkan tunjangan khusus. Baca deh disini. 

3. Memahami Aturan

Yups, karir dosen ini ibarat maen game. Ada aturan mainnya. Pahami aturan-aturan main tersebut, seperti PerMENPAn 17 2013, (draft) Juknis Pengajuan PAK, Kriteria Jurnal internasional menurut Dikti, Jurnal yang dianggap predator, kategori seminar internasional, dsb. Jangan sampai apa yang kita lakukan berada di luar aturan-aturan tersebut. Misalnya, anda menerbitkan satu tulisan di jurnal ilmiah internasional. Anda tulis dengan susah payah beberapa bulan atau tahun prosesnya. Nah, ketika tiba pengajuan angka kredit, tiba-tiba jurnal tersebut terkategorikan jurnal predator atau jurnal yang tidak bisa dipakai untuk penghitungan angka kredit, sakit hati kan?

Karena itu memahami aturan adalah hal yang amat penting. Saya ingat beberapa tahun lalu, saya print out Buku Panduan Kenaikan Jabatan Fungsional, saya simpan di ransel dan saya baca berkali-kali sampai betul-betul paham. Ini ada untungnya karena saya juga jadi paham bahwa dengan prestasi tertentu, kita bisa naik Jabatan Fungsional lebih cepat. Naiknya saya dari Lektor ke Lektor Kepala dilakukan dalam waktu kurang dari dua tahun karena memiliki tulisan di Jurnal terakreditasi. Ini bukan ketidaksengajaan, tapi by design. Segera setelah jadi lektor, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari jurnal terakreditasi yang sesuai dengan bidang ilmu saya dan menulis di sana dengan proses sekitar setahun sampai terbit.  Tentu saja dengan upaya keras lain memenuhi jumlah angka kredit seperti menulis di jurnal nasional yang lebih tidak kompetitif, menjadi pembicara seminar nasional dan internasional,  mengajar dengan rajin dan tak pernah menolak menjadi pembicara di kampus maupun luar kampus.

Sekarang pun begitu, saya sudah memiliki list jurnal internasional yang dianggap bereputasi menurut Dikti dan menargetkan publikasi disana sebanyak mungkin. Yang sudah terbit satu biji, dua sedang proses editing antara saya dan editor. Mungkin ada sekitar dua lagi, termasuk yang harus terbit ketika saya mendapat gelar Doktor. Oh ya, musti dipahami juga bahwa publikasi di jurnal internasional dan terakreditasi selama tugas belajar diakui oleh Dikti, jadi apapun situasi kita, ayo tetap produktif.

Memahami aturan juga penting untuk beradu argumen dengan tim penilai atau staf administrasi yang membantu penghitungan. Kadangkala, persepsi yang ditopang otoritas lebih kuat daripada aturan itu sendiri. Maka, memahami dan memiliki aturan amatlah penting sebagai modal berargumentasi. Jika tim penilai ngotot dalam kesalahan yang terbentuk jadi persepsi, tunjukkan aturannya.

Misalnya anda sudah telanjur sekolah dan gak sempat ngurus jabatan fungsional padahal angka kredit sudah ngumpul. Atau sudah berusaha tapi dijelaskan bagian kepegawaian bahwa dosen tugas belajar tidak bisa naik jafung/ golongan. Ini persepsi yang dianggap aturan. Dosen yang tugas belajar bisa mengajukan kenaikan Jafung/ golongan lho, sila cek disini, tertulis:

“Dosen yang sedang dalam masa tugas belajar dapat diproses kenaikan Jabatan
akademik/pangkat apabila memenuhi angka kredit dan syarat-syarat lainnya sebelum dosen
tersebut memasuki masa belajar walaupun masa kerja dalam jabatan akademik/pangkat
terakhir baru terpenuhi pada saat ybs sedang dalam masa belajar.”

Jadi, jangan pernah percaya pada persepsi atau gosip, selama belum ada hitam di atas putih. Selalu cari rujukan terbaru untuk sebuah masalah. Contoh lain, ada yang mengatakan bahwa untuk jadi Guru Besar harus minimal IV B, saya sampai sekarang menganggap ini gosip karena tidak ada yang pernah menunjukkan aturannya. Kebanyakan berdasarkan tafsir terhadap lampiran Permenpan 17 2013 yang menunjukkan ruang golongan masing-masing jabatan fungsional. tabel tersebut salah dipahami seakan-akan untuk jadi Guru Besar mesti golongan IV B. Padahal harusnya dibaca bahwa kita bisa naik golongan tergantung dari jumlah angka kredit yang sudah kita kumpulkan secara berkala setiap dua tahun tanpa perlu mengumpulkan angka kredit lagi.

4. Telaten

Yups, ini juga syarat mutlak. Percuma anda memiliki pendidikan tinggi, produktivitas luar biasa dan memahami aturan, jika tidak telaten mengumpulkan bukti-bukti kinerja. Kadang-kadang memang konyol ya, nasib kok tergantung kertas-kertas 🙂 Tapi inilah yang musti diterima sebagai bagian dari pekerjaan. Jangan sampai ada SK hilang, bahkan mintalah dibuatkan SK untuk kegiatan yang dilakukan. Memang ini menyebalkan ya, tapi mau bagaimana lagi, saran saya, lakukan saja. Dulu waktu saya kuliah, saya terheran-heran ada seorang dosen yang minta sertifikat ketika diundang diskusi oleh kami. Ternyata dalam usia muda, sekitar 40-an tahun dosen tersebut sudah jadi Guru Besar.  Ya tentu saja bukan karena sekedar rajin mengumpulkan sertifikat, tapi juga produktif menulis, rajin mengajar, dan sebagainya.

5. Menjaga Hubungan Baik

Menjaga hubungan baik dengan siapapun amat penting dalam hidup. Dalam urusan karir dosen pun, ini amat penting. Perjalanan berkas pengajuan jabatan fungsional misalnya terbentang panjang dan melibatkan banyak pihak. Dalam banyak kasus, persoalan personal bisa menghambat karir dosen dengan berbagai modus.

Anda mau menambahkan tips selanjutnya?

Iklan

3 comments

  1. Assalamualaikum pak Hamid, saya dosen di PTN di surabaya, mohon informasi, mengenai tunjangan sertifikasi dosen ini pak. Sekarang ini saya sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi dosen, kalau saya mengikuti Tugas Belajar, tunjangan ini akan dihentikan, saya bisa memahami hal ini karena ada aturannya. Yang saya tanyakan apakah dosen setelah tugas belajarnya selesai, tunjangan sertifikasi ini sudah bisa aktif kembali, atau harus mengikuti ujian sertifikasi ulang. Trimakasih.

    • Mbak Tutorialcafe, selamat ya sudah dapat tunjangan serdos. Nah, tunjangan serdos akan dihentikan di bulan ketujuh ketika melaksanakan tugas belajar. Begitu juga pembayartan serdos akan dimulai di bulab ketujuh ketika kita aktif kembali mengajar, tidak perlus serdos ulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s