Jadi Korban Kebakaran

Jika saya biasanya bercerita sesuatu yang nyaris, maka kali ini betul-betul terjadi. Di negeri orang pula.

Ceritanya kemarin sore, Aku dan Ilham memilih di rumah. Aku ada sedikit pekerjaan sambil istirahat karena sakit pinggang (hadooh, latihan split di usia segini hasilnya sakit pinggang, ampun). Ilham memilih bermain di rumah, menggambar, membuat kreasi dan menonton doraemon.

Nah ceritanya kita menunggu Ibun dan Ayu pulang. Mereka pergi ke pengajian Ibu-ibu di dekat Horkawa-Imadegawa. hari hujan gerimis, namun salju belum turun.

Jam lima lebih, Ibun dan Ayu datang. Ternyata tak membawa bungkusan makanan karena buru-buru gowes sepeda sambil kehujanan.  Aku lantas menghangatkan nasi dan menggoreng tempe. Oh ya, di Kyoto ada lho tempe enak buatan Pak Rustono. Orang Indonesia yang menetap di Jepun.

Ilham makan duluan karena sudah lapar banget di ruang tengah. Aku sendiri bolak-balik ruang tengah dan dapur. Biasa, masak sambil ngemil tempe, he he. Oh ya, karena pemanas dinyalakan, maka pintu kaca buram yang memisahkan dapur dan ruang tengah selalu ditutup.

Nah sambil ngemil tempe yang dikasih sambel, aku ngobrol sama Ilham, Ibun dan Ayu. Ceritanya soal pengajian tadi. Ayu rupanya sebel karena banyak yang memanggilnya kawaiiiiii.

Tiba-tiba  terdengar alarm asap menyalak. Dibalik pintu kaca dapur, terlihat semburat orange. Aku langsung melompat ke dapur, api sudah membumbung dari kompor, menjilat atap dan wallpaper dinding serta membakar exhaust fan. Aku segera mematikan gas, membuka pintu menyuruh anak-anak keluar dan mengambil jaket ayu dan membasahinya di keran. Ibun juga sigap mengambil celana Ayu dan membasahinya. Kami lantas memukuli api dengan jaket dan celana Ayu. Alhamdulillah, api lantas padam.

Semua gemetar. Tetangga dari lantai atas juga datang menemui dan bertanya “daijobu?” Ibun menjawab “daijobu”, sambil gemeteran. Tetangga berinisiatif menelepon Oya San (pemilik apartemen) mengabarkan kejadian ini.

Kami segera membuka semua jendela, membiarkan asap yang memenuhi ruang apartemen kami pergi.

Huff, setelah asap pergi Ayu dan Ilham baru boleh masuk.

Terpaksalah kami membereskan sisa-sisa kebakaran. Untunglah api belum menguasai dapur. Ada banyak bahan mudah terbakar disana, bahkan dindingnya pun dari kayu.

2013-12-22 11.17.37

Kabel sisa exhaust fan juga masih terjulur. Ketika aku pegang, langsung terasa setrumnya. Untunglah aku orang Banten, jadi tak apa-apa (ha ha, gak nyambung ya, tetep aja kaget). Wah kalau listriknya meledak bisa berabe ya, syukurlah tidak terjadi.

Malamnya Oya San menelepon, dan dia berjanji datang besok, maunya malam ini, tapi semua kecapekan. J juga menelepon, karena Oya San menelepon. Oh ya, J adalah sahabat yang jago bahasa Jepang, yang memang waktu aku mulai mengisi Apato ini dia banyak membantu.

Pagi-pagi J datang disusul oleh Oya San. Oya San memeriksa, bertanya apa yang terjadi dan kami menjelaskan. Oya San kemudian pergi dan menyatakan akan menghubungi Pemadam Kebakaran. Ia membutuhkan surat keterangan untuk mengurus asuransi.

Kami lantas ngobrol sambil minum teh, menunggu petugas pemadam yang akan datang membuat surat keterangan.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. Astaga, jangan-jangan….

Aku membuka jendela dan langsung kaget.

20131222_104545

Yang datang bukan seorang petugas, tapi sepasukan pemadam kebakaran berseragam lengkap dengan mobil besar Haduh kok jadi heboh begini.

Beberapa petugas langsung masuk ke dapur. Satu orang mewawancarai, menanyakan identitas dan peristiwa yang terjadi. Satu orang membuat sketsa dapur. Satu orang sibuk memotret. Dua orang memeriksa setiap sudut dapur, menggunakan berbagai perlatan, bahkan mengukur segala hal seperti lobang jendela dan mencatat segala merek barang yang ada.

20131222_102621

Aku dibantu J lama juga ditanya-tanya, ia bertanya kejadian, penyebab, kerugian, dan sebagainya. Mereka juga meminta beberapa “artefak” seperti jaket dan celana Ayu, penggorengan, serta bekas exhaust fan yang terbakar hebat sebagai bukti.

20131222_102901

Bahkan mereka menanyakan jenis minyak goreng dan jenis makanan yang dimasak. Ketika aku bilang tempe, mereka kaget, apa itu. Lantas aku tunjukkan tempe yang masih terbungkus, mereka memeriksanya dengan cermat, termasuk daftar kandungan di bungkus bagian belakang.

tempeh

Tak lama kemudian polisi muncul di tangga. Haduh, tambah ruwet nih.

Akhirnya sambil terus diwawancarai Pemadam kebakaran, polisi juga ikut nimbrung, menanyakan identitas dan sebagainya.  Polisi hanya sebentar saja di lokasi.

Akhirnya setelah sekitar satu jam, selesai juga. Pemadam kebakaran menyelesaikan tugasnya dengan membereskan kabel listrik bersetrum yang masih terjulur dan juga membawa sepelastik besar barang bukti berisi penggorengan, jaket ayu dan juga celana Ayu, setelah sebelumnya berkata kami keberatan atau tidak. Oh ya, ia juga mengatakan jika ada masalah kesehatan akibat kebakaran bisa menelepon 119, maka Ambulance akan segera datang. Sip deh Bapak.

Huaaa, tinggal teparnya…..

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s