Soal Petisi Dosen Indonesia

Alhamdulillah setelah dilaunching hari selasa lalu, sudah cukup banyak pendukung petisi untuk merevisi Perpres 88 tahun 2013 dan Perpres 65 tahun 2007. Sampai satu menit lalu, sudah 924 orang, tinggal 76 lagi menuju 1000.

Screen Shot 2013-12-19 at 8.28.11 PM

Namun juga banyak reaksi yang lain. Ada yang menolak, bahkan sinis terhadap petisi yang disampaikan Dosen Indonesia untuk Revisi Perpres 88 2013 dan Perpres 65 2007. Β Namun yang paling menarik adalah petisi terhadap petisi di atas, yang berisi:

Karena dengan adanya revisi Perpres 88 Tahun 2013, yang dipetisikan oleh dosen maka bisa mengakibatkan molornya pencairan Tunjangan Peningkatan Kinerja bagi Tenaga Kependidikan di Lingkungan Kemdikbud RI

Screen Shot 2013-12-19 at 5.34.56 PM

Nampaknya ada yang salah mengerti.

Petisi Dosen Indonesia tidak pernah berniat untuk menyulitkan siapapun mendapatkan haknya. Saya sendiri bersyukur jika semua PNS menjadi sejahtera. Betul, lahirnya Perpres Tunjangan Kinerja di berbagai Kementerian dan lembaga memang membuat PNS menjadi lebih terjamin kesejahteraannya. Tenaga kependidikan yang telah bekerja keras untuk berjalannya dunia pendidikan memang sudah selayaknya mendapat tunjangan kinerja.

Namun harus harus dipahami, lahirnya petisi dosen Indonesia ini dilandasi oleh pembedaan dosen di bawah kemdikbud dengan dosen di bawah Kementerian dan lembaga lain. Dosen selain di bawah kemdikbud berhak mendapatkan tunjangan kinerja, sedangkan dosen di bawah kemdikbud tidak.

Bukankah itu diskriminasi?

Lho dosen-dosen kemaruk dong, pengen serdos dan tunjangan kinerja?

Tidak. Dalam Perpres tunjangan kinerja semua Kementerian dan Lembaga, jelas bahwa yang didapatkan dosen tersertifikasi ketika dia mendapatkan tunjangan kinerja hanyalah selisih antara tunjangan kinerja dan tunjangan serdos. Jadi sekali lagi, dosen tidak akan mendapatkan keduanya. Mengerti ya sampai disini?

Selanjutnya, apakah semua dosen sudah serdos?

Tidak. Menurut data ADI, 53% dosen di Indonesia belum tersertifikasi. (http://koran-sindo.com/node/313281).

Lebih dari separuh kan?

Sementara antrian mendapatkan sertifikasi berjalan secara urut kacang, tidak jelas kapan selesainya dan semakin lama semakin dibuat sulit. Sementara tunjangan kinerja melekat kepada status sebagai PNS.

Jadi penerima manfaat terbesar jika Dosen diberikan tunjangan kinerja sebetulnya adalah mereka yang belum tersertifikasi, karena mereka bisa mendapatkan tunjangan kinerja walaupun belum masuk antrian sertifikasi. Termasuk semua PNS (dosen dan staf) yang sedang tugas belajar, karena di hampir semua Kementerian/Lembaga PNS tetap mendapatan tunjangan kinerja walaupun sedang tugas belajar (tentu saja tidak penuh)

Padahal selama ini, dosen tugas belajar kehilangan haknya mendapatkan tunjangan serdos 😦

Kemudian berkait tudingan bahwa petisi dosen menghambat pencairan tunjangan kinerja pegawai kemdikbud, jelas ini praduga yang tidak beralasan. Kita mendukung segala upaya mensejahterakan semua pihak, terutama tenaga kependidikan yang telah bekerja keras secara profesional. Lahirnya revisi adalah upaya membangun keadilan untuk semua.

Saya menduga ada yang sengaja merancang agenda setting untuk mengadu domba antara dosen dan tenaga kependidikan.

Sejahtera-nya dosen dan tenaga kependidikan di kampus bisa menjadi salah satu upaya serius pemerintah jika mau kampus-kampus di Indonesia bersaing dengan negara lain. Baiknya kesejahteraan dosen bisa membuat anak-anak bangsa terbaik tertarik menjadi dosen untuk menduplikasi lahirnya anak-anak bangsa terbaik lainnya. Β Baiknya kesejahteraan tenaga kependidikan membuat semua kegiatan: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat — berjalan lancar.

Mari saling mengerti πŸ˜‰

Iklan

40 thoughts on “Soal Petisi Dosen Indonesia

  1. dosen malang2

    Memang perpres 88 tahun 2013 sangat aneh.

    1.Dengan pengecualian guru dan dosen yang tidak mendapat tunjangan, hal ini sangat diskriminatif. Karena pada k/l lain dosen mendapat tunjangan kinerja yang dibayarkan selisih dari tunkin dengan tunjangan profesi. Jadi ini diskriminatif kalau dibandingkan dengan k/l lain. hal yang sama yaitu perlakuan diskriminatif juga berlaku di lingkungan kemdikbud sendiri. kalau kita melihat perpres 88 tsb, ada pejabat fungsional lain selain guru dan dosen yang di lingkungan kemdikbud yang mendapat tunjangan profesi, dibayarkan selisihnya. Karena kalau tidak, tidak akan muncul pasal 8 dalam perpres tsb

    2. Tunjangan Profesi beda dengan Tunjangan Kinerja.
    Untuk Tunjangan Profesi dipotong pajak, sedangkan tunjangan kinerja tidak dipotong pajak. Untuk Tunjangan Profesi dibayar 12 bulan dalam setahun, sedangkan tunjangan kinerja dibayar 13 bulan dalam setahun. Hal ini juga diskriminasi thd guru dan dosen.

    3. Tunjangan kinerja bawahan lebih tinggi dari atasan. Sebagai contoh ka biro lebih tinggi dari rektor atau warek. Begitu juga kabag, lebih tinggi dari dekan atau wadek. Begitu juga PLP lebih tinggi dari kajur/sekjur atau kalab. Karena yang semua itu Rektor, warek, dekan, wadek, kajur/sekjur dan kalab juga tidak mendapatkan tunjangan kinerja karena berstatus dosen. Saya teringat ketika masa Gusdur menjadi presiden pernah juga membuat penyesuaian dengan perpres baru. Karena tidak mungkin tunjangan bawahan lebih besar dari atasan.
    Jadi kesempatan untuk para rektor memperjuangkan revisi perpres 88 tsb. Dan kalau memang nanti jadi diperjuangkan, bukan hanya untuk para rektor saja, tetapi juga untuk semua para dosen

    Untuk itu saya harap petisi itu bisa diberikan langsung pada presiden,sambil menunggu dukungan yang masih akan terus bertambah. Saya berharap presiden akan arif mau merivisi perpres tsb.Karena Presiden orangnya sangat konstitusional, adil dan bijak dalam melihat masalah ini.

    Saya juga mengharapkan bantuan kalangan akademisi yang sudah sangat mapan dalam hal bidang pengamat seperti Margarito Kamis, Efendi Gazali, Faisal Basri, Saldi Isra, Andrinof Chaniago dll kalau seide bisa memperjuangkan juga pada presiden, agar bisa merivisi perpres tsb.

    Balas
    1. rere

      Setuju!!
      kalau para dosen nggak pake jaim mau demo dengan sedikit kekerasan, mungkin ini bisa lebih mujarab daripada pake cara halus seperti ini. mungkin ada kekhawatiran, nanti pikiran orang gimana kalo dosen demo. tapi negara kita ini nggak bisa dialusi, bisanya harus cara paksa. kalo ada yg ngoordinir untuk demo, saya ikutan.

      Balas
  2. Kholil Ahmad

    saya sangat setuju,saya sebagai dosen dgn pendidikan s2 lebih rendah gaji saya dari tammatan d3 adm.apalagi saya jg tdk dapat serdos,masalah ini harus dibawa ke ranah politik dan terpublikasi melalui media.mana parpol yg peduli dosen,ini saatnya parpol bicara.

    Balas
  3. Trondol Megol

    Sungguh sangat perlu dipertanyakan maksud pemerintah dengan mengecualikan dosen sebagai penerima tunjangan kinerja. Sepertinya dosen perlu bersatu menyuarakan hal ini kepada Presiden RI. Jika ada inisiatif untuk demo, maka dengan senang hati saya akan mengajak rekan-rekan dosen yang lain.

    Balas
  4. Mas Ganung

    tak perlu sekolah smp doktor utk jadi dosen jika dengan S1 saja bisa lebih sejahtera. Semua jabatan fungsional tunjangannya naik kecuali dosen.

    Balas
  5. suryo t.w.

    sepertinya perlu dipublikasikan ke media massa nasional dan perlu pendampingan advokasi agar perjuangan kita bisa maksimal, gimana pak Hamid?

    Balas
  6. Heru

    Semua ini, karena menteri, dan/atau wamennya memang bloon. Saya setuju banget kalau harus demo… minimal demo tidak mengajar, meneliti dan mengabdi.

    Balas
      1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

        Petisi terus didorong Pak, hanya saja memang nampaknya terkubur isu-isu lain ya. Sayangnya saya sedang tinggal di Jepun sehingga tak bisa maksimal. Semoga teman2 di tanah air bisa mendorong dengan aksi di lapangan seperti audiensi dengan Kemdikbud dan KemenPAN ya Pak.

  7. Agushartono22

    Ya silahkan dosen pada protes… tapi rizki orang gak bakalan kemana2 kalo mmg rizkinya kok, saya sbg tenaga kependidikan tanpa sertifikasi yg tiap hari kerja mulai jam7 pulang jam 4, 5 hari seminggu gak iri/meri dg dosen yg kebanyakan dah terima sertifikasi, walopun mereka kebanyakan (saya bilang “kebanyakan”) kerjanya jg gak bgitu jelas, datang jam 9-10 trus jam 2 dah hilang… kasihan jg lihat mahsiswa pada mau konsultasi sampe berminggu2 gak ktmu gara2 disenya kebanyakan acara “keluar”… padahal bimbingan mahasiswa jelas merupakan pekerjaan pokok dosen.

    tenaga kependidikan tu ya keuanganya cuman dari gaji instansinya aja, beda dg dosen, yg dosen “dihalalkan” dan “bebas” ngobyek ke kampus2 lain, proyek sana-sini shg income duitnya jauh lebih gede dr gajinya
    shg andai tenaga kependidikan dpt tunjangan kinerjapun, sy rasa penghasilanya tetp gak bs menyamai dosen kok…

    Yg jelas, memang perlu hati yg luas, yg bs menerima keadaan orang lebih baik, mmg sifat dasar manusia tu ada rasa iri, ………….iri kalo orang lain punya kesejahteraan lebih

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      Pak Agus, lebih dari separuh dosen di republik ini belum tersertifikasi. Ini faktanya. Soal pekerjaan, memang fungsi dosen dan tenaga kependidikan berbeda. Dosen selain di kampus, memiliki tugas penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang memang mesti dilakukan di luar kampus. Saya pernah survey kecil-kecilan, sebanyak 39% dosen tidak memiliki meja untuk bekerja. Saya setuju jika tidak sedang mengajar, melakukan penelitian atau pengabdian, dosen bisa bekerja di ruangan atau mejanya. Jadi kita memang punya PR untuk menyiapkan ruang kerja atau setidaknya meja kerja yang memadai untuk bekerja, bukan bergosip :). Selamat untuk tunjangan kinerjanya ya Pak, selamat bekerja πŸ™‚

      Balas
  8. Agushartono22

    sbg tambahan, menurut permendikbud no 107 thn 2013, tunjangan kinerja tdk mengikat pd gaji, seandainya pegawai kependidikan bolos atau telat presensi 1 detik saja, maka sdh tak mendapatkan tunjangan kinerja yg dhtung pd hari itu.
    Ya mgkin seandainya para dosen jg dapat tunjangan kinerja tp dsuruh jg absen masuk jam 7 n pulang jg absen jam 4 saya kira kok msh pada protes jg… maunya kebanyakan (sekali lg “kebanyakan”) gaji gede, tp jam kerja maunya seenaknya, seolah2 orang istimewa yg hrus selalu diistimewakan…. lha hadir sehari 2 jam saja di lab udah syukur kok….

    Balas
    1. aldi

      Pak agus. Jangan diperumit, simpel saja: kami tidak memprotes tenaga kepend dapat tunkin dan malah mengucapkan selamat kepada rekan rekan, karena itu adalah hak rekan2 tenaga kepend.
      Dan hak kami juga untuk protes kpd pemerintah yang disertai dengan data dan argumen yang memadai, tapi bukan protes atas tunkin yang didapatkan rekan2 tenaga kepend…

      Balas
  9. jokolukito

    sy sbg tnaga kependidikn, maklum pd rekan2 dosen yg smgt skali mengajukn petisi ke pemerintah ttg perpres 88 2013 , namun lebih arifnya biarkanlah dulu bola itu menggelinding, kasihan rekan2 tnga kpndidikn di kmps2 yg slama ini terksan dianak tirikn, baik olh pemrnth bahkn mgkin olh kmpsnya sndri, sbg cnth dkmps sy di unvrsts ngeri trnama di jogja, kesan penganaktirian tnga kpndidikn sgt trasa, kgiatan2 yg melibtkn dosen sdikit2 ada HRnya, tp klo cm mlibtkn tng kpnddkn, biasanya kering, ato klo ad HR ya kcil skali, katanya sdh tugas n fungsinya, tp kok kalo dosen yg gerak, dkit aj ada HRnya.
    Dgn jam kerja yg smakin ketat, plus 5 hari kerja yg sampe sore, otomatis mayoritas tnaga kpndidikn dh gak pnya ksmptan buat cari uang tmbhan, beda dg dulu ktika 6 hri kerja plg jm2, msh ada wktu buat cari rumput pakan kambing, lha skrg smpe rmh jm5 dh hmpir mgrib n capek, mau ngapain lg dh gak bisa. Beda dg dosen yg saat jm kerjapun “dihalalkan” cari obyekan lain.
    Ya ini mgkin cmn skdar rintihan hati tnaga kpndidikn sprti sy, yg mgkin jg dirasakn mayoritas tnaga kpndidkn, so kami minta berilah kami ksmptn brnafas lebih panjang dahulu….

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      Mohon jangan salah sangka Pak. Petisi ini tidak untuk “menjegal” tenaga kependidikan mendapatkan kesejahteraan. Kami malah mendukung sekali dan ikut senang jika tendik juga sejahtera. Petisi ini karena dosen Kemdikbud dibedakan dengan dosen di kementerian lain. Jadi Bapak silahkan bernafas panjang untuk selamanya Pak. Memang ada yang berusaha mengadu domba antara dosen dengan tendik, seakan-akan tuntutan ini karena dosen iri dengan tendik atau petisi ini mengancam tukin yang diterima tendik. Tidak Pak, kita di dunia pendidikan satu tubuh, InsyaAllah saling mendukung.

      Balas
  10. Agushartono22

    mmg sy berusaha tdk salah sangka, namun mmg ada kesan demikian, petisi ini dpt menghambat pencairan dana tunjangan kinerja, yg sampai saat inipun blm jelas bnr2 akan turun ato tdk…
    mbok ya biarlah ada realisasi lbih dahulu dan nanti dilihat dahulu pelaksanaanya kayak apa, baru kalo sekiranya sangat tidak adil barulah kita bersama2 berusaha mengusulkan yg lebih adil…
    begitu pak Abdul Hamid….

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      Wah masak belum turun Pak? itu kan hak Bapak sebagai tendik. Setahu saya seharusnya sudah cair ya, termasuk rapelan dari bulan Juli. InsyaAllah petisi tidak bermaksud menghambat rezeki Bapak. Semoga lancar ya Pak, segalanya.

      Balas
  11. Agushartono22

    Blm turun pak, beritanya msh simpang siur jg, apalagi kami yg di PTN status BLU, yg katanya gak dapat tukin dr pemerintah, soalnya tukin diserahkan ke univ msng2, tp mana mungkin univ bs beri tukin yg setara kemendikbud, lha beli alat2 lab aja dananya minim kok, apalagi buat tukin… ….

    Balas
  12. DanangSutowidjojoo

    seandainya kalo tukin buat PLP bnr2 ada…. maka>>>
    semoga kalau petisi para dosen diterima dan dosen jg dapat tunjangan kinerja, saya sbg tnga kependidikn (PLP) yg juga punya kompetensi khusus akan mengajukan jg petisi ke pemerintah, utk mengajukan adanya sertifikasi profesi seperti yg sdh dtrima dosen…….. biar adil….

    Balas
  13. dimas2011

    Selamat berjuang ….. tapi informasi lewat dunia maya, banyak yang tidak tahu, bagaimana kalau informasi ini disebarkan langsung keperguruan tinggi atau menggandeng politikus, biar tambah efektif …..

    Balas
  14. DanangSutowidjojoo

    Sampai saat inipun tukin di univ negeri terbesar n ternama Jogja jg blm jelas ada ato tidak, infonya msih simpang siur… ada informasi kalo nantinya kalo dah ada tukin, sgala mcm insentif akan dihapus…. so akhirnya banyak TenDik realnya akan cuman mendapatkan tambahan pendapatan real yg gak seberapa….,

    Balas
  15. Wong cilik

    Dan saat inipun tukin jg belum diberikan ke karyawan di univ saya, mungkin petisi ini sukses menjegal adanya tukin di kampus yg katanya prop rakyat n wong cilik ini…

    Balas
      1. Wong cilik

        Di PTN sy, jujur, sy di UGM, kabar tukin makin sayup2….
        katanya gak jadi dapat, cuman katanya…. coz termasuk 7 univ status PTNBH…
        tapi biasa lah bang, kami selalu jadi warga nomor dua dikampus “tercinta” ini…
        walopun kampus gak kasih perhatian, semoga Alloh SWT tetap perhatian sm kami…
        buat kami, apa sih arti BLU, PTNBH, BHMN ato univ biasa??? gak ada artinya bang!!!! malah gara2 status PTNBH, kami katanya gak dapat tukin sama sekali….
        yg jelas kalo orang kecil tu sedikit yg perjuangkan… tapi kalo professor banyak yg perjuangkan nasibnya, aturan turun>>> dana turun….
        lha temen saya pegawai lab, umur 56 thn, kemarin per 1 pebruari 2014, dpt perpanjangan pensiun jd 58thn, tapi mulai Pebruari 2014 sampe skrg (dah 4 bln) gaji nya belum turun sama sekali coz SK perpajngan usia pensiun belum turun… dah 4 bln gak gajian dr pemerinth , tu harusnya kampus nalangin dulu, entah 25 ato 50%, ya seberapalah, sebagai tanda perhatian ke pegawainya, lha ini sama sekali gak kasih talangan, akhirnya harus hutang sana-sini….

  16. pakdewin

    Tunjangan serdos untuk gurusbesar dua kali gaji pokok, untuk lainnya satu kali gaji pokok. Kenapa? Seingat saya yang bikin aturan dulunya pak Menteri yang pangkat guru besar dan isterinya juga guru besar. Tapi masih kalah hebat, pegawai Depkeu jaman Orba pernah gaji naik 7x lipat, katanya supaya tidak korupsi … wkwkwkwk..

    Balas
  17. Mas Budi di Malang

    Dapat dipahami jika Tendik merasa demikian karena inilah realita yg terjadi antara dosen dan tendik. Dosen merasa sbg ujung tumbak dan yang paling penting di PT, sehingga merasa harus mendapat lebih (baik finansial maupun penghormatan), sedangkan Tendik merasa sebagai warga bawah/rendah (baik finansial maupun penghormatan). Ketika para guru/dosen berjuang untuk mendapatkan tunjangan profesi dan berhasil, sama sekali tidak melibatkan dan menyentuh unsur tendik, walaupun mereka (dosen dan tendik) satu unit/institusi, terlihat tidak adanya hubungan yg harmonis. Tendik hanya bisa mendengar dan menelan ludah ketika para dosen mendapat tunjangan profesi, sehingga sangat mudah dipahami ketika tendik menganggap bahwa dosen iri karena para tendik mendapat tunjangan kinerja dan dosen mempetisi UU/aturan tersebut karena tidak mendapatkanya.
    Inilah kenyataan yg terjadi antara tendik dan dosen, oleh karenanya untuk Bapak/Ibu Dosen marilah bersama memperjuangankan nasib bersama-sama sesama rekan sekerja di PT. Jangan hanya berucap kami memikirkan dan menghargai tendik kok…, namun kenyataanya tidak. Boleh bapak/ibu dosen survey hubungan antara dosen dan tendik, klo mau jujur pasti hasilnya adalah : Dosen sbg warga kelas 1 dan tendik sbg warga kelas …. ?

    Balas
  18. Pak Abdullah

    akhirnya di kampus saya UGM jogja, tukin utk juli s/d des 2013 katanya bisa cair bulan ini… ya alhamdulillah…
    tapi perlu diketahui bahwa ternyata besaran yg diterima tdk sebesar yg dibayangkan, coz ada banyak potongan, misal THR, insentif kepangkatan, uang kehadiran, dll dan potongan ini bisa 1/3 dr nominal tukinya… sbg contoh: saya dpt grade 8 (2,5jt/bln x 6 bln = 15jt) tapi nyatanya cmn dpt 10,3 jt saja alias dpt tmbahan kr2 1,6 jt/bln
    dan seandainya dosen dapat tukin ini, potonganya justru akan lebih banyak, soalnya dosen2 dapat HR yg banyak juga, misal dr Hr mengajar, membimbing, dll,
    jadi buat pak AbdulHamid, saya rasa tdk usah berkecil hati, pendapatan dosen tetap masih lebih tinggi dr pegawai2 dikampus bapak kok….. he…he.. 1,6 jt/bln kan cuman 4-8 x ngajar di program pascasarjana to….

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      Wah selamat Pak Abdullah, alhamdulillah, saya senang mendengarnya. Semoga ke depan tukin teman2 tendik mlah bisa setara kemenkeu ya. Saya sendiri memperjuangkan tukin bagi dosen insyaAllah tidak memperjuangkan diri sendiri. Kebetulan saya sudah serdos dan lektor kepala, insyaAllah tahun depan juga selesai doktor dan merencanakan segera Profesor dalam 2-3 tahun. Tapi ada 61% dosen yang menurut data dikti belum tersertifikasi, ini yang mengganggu pikiran saya. Bagaimana dunia pendidikan tinggi kita bisa maju jika pendidik harus sibuk mencari tambahan kesana-kemari dan tidak fokus mengajar? Ini yang gagal dipahami oleh para pengambil kebijakan. Saya juga paham bahwa dosen yang sudah serdos, jika dapat tukin tak akan dapat keduanya, dihitung selisihnya saja. Semoga dunia pendidikan tinggi makin maju ya Pak

      Balas
      1. Pak Abdullah

        diambil sisi positifnya saja pak, ya masih Alhamdulillah bapak/ibu dosen bisa cari tambahan kesana kemari buat cari tambahan penghasilan, dibandingkan kami tendik yg sebagian besar tdk bisa ngobyek cari rumput pakan kambing coz harus bekerja standby di kampus dr pagi jam 7 sampe jam 4-5 sore… tapi bgmnpun kami juga harus bersyukur, coz kenikmatan akan terasa nikmat bukan dari jumlah kenikmatan itu, namun dr seberapa besar kami bisa mensyukuri kenikmatan rizki yg telah diberikan Alloh SWT kepada kami…

      2. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

        Cara pandang bahwa dosen bisa ngamen di banyak tempat inilah yang membuat pendidikan tinggi kita terpuruk Pak. Sebagai profesional, seharusnya pendidik dibayar layak dan mendapat fasilitas yang layak agar bisa bekerja penuh waktu: mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa, menulis hasil riset, dan sebagainya. Setidaknya ini yang saya pelajari di kampus-kampus, negara tempat saya belajar sekarang. Soal bersyukur, insyaAllah saya tidak putus bersyukur.

  19. Pak Abdullah

    pak, di negeri ini ada banyak orang pandai n berpotensi, cuman situasinya tdk (ato belum) memungkinkan smua potensi itu muncul dlm bentuk product yg nyata, bagaikan benih jagung dg kualitas super yg tumbuh di daerah tandus, dia tdk akan mungkin berproduksi setara dg yg tumbuh di tanah subur.

    sbg orang Indonesia saya realistis saja, dinegara maju, smua standar penghargaan( katakan gaji, gitu) mmg sdh tinggi, lha skedar OB di kampus bapak skrg kuliah (japan) mgkin standar gajinya jauh diatas dosen di negara kita kan, OB di ngara kita gajinya cuman 1jt-an bahkan bs kurang!!!
    tapi disana (japan) kan link antara dunia keilmuan dg aplikasi mmg sdh terjalin bgs, jd dunia perguruan tinggi mmg bs beri input penting bagi dunia usaha, lha ini yg belum ada di Indonesia… di kampus saya aja yg katanya “world class research university’ , sy perhatikan, hasil2 penelitian jg cmn pada mangkrak, hanya mengisi deretan rak buku di perpustakaan kok, sangat jarang ada tindak lanjut sampai dunia aplikasi nyata,

    Balas
    1. Benny

      Benar sekali….sebagai salah satu warga World Clash University saya sama sekali belum merasakan bobotnya. Kesemrawutan terjadi di sana-sini, dan menurut pandangan saya bisa dibilang “parah” sebenarnya kondisi itu…tapi ya mau bagaimana lagi, status sudah telanjur disematkan dan diamini banyak orang…Dan tentang Tukin saya memang jujur tidak dapat, dan saya melihat rekan2 saya dengan kinerja super dan justru di nobatkan sebagai insan berprestasi, tapi tukinnya Nol….beda saya lihat rekan PNS saya yang kerjanya tidur melulu dapat tukin 2013 6 juta, plus yang 2014 ini 10 juta….Luar biasa memang penghargaan pemerintah kita bagi para pemalas…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.