Saya tidak mengikuti perkembangan dan polemik kurikulum 2013 terlalu dalam. Namun berita di Kompas.com berjudul Mata Pelajaran Bahasa Inggris Penjaskes dan TIK di SD Dihapus  membuat saya sebagai orang tua cukup kaget. Bukan soal Matematika dan TIK seperti yang ramai diperbincangkan orang, namun soal hilangnya Penjaskes sebagai mata pelajaran di SD dan hanya menjadi ekstra kurikuler !!!

Sejujurnya sebelum menetap di Kyoto untuk sekolah, saya tidak pernah memandang penting pelajaran Penjaskes bagi anak saya, Ayu. Saya lebih memandang penting pelajaran matematika, bahasa Inggris atau science. Pelajaran Penjaskes menjadi rutinitas mingguan yang tidak terlalu menggembirakan Ayu. Kurangnya aktivitas fisik ditambah makanan yang harus diakui kurang sehat, membuat Ayu cukup gemuk. Ya iya lah, selain hantu, Ayu takut banget sama sayur 😉

Salah satu yang membuat kaget begitu sampai di Kyoto adalah banyaknya pelajaran Penjaskes. Seminggu bisa beberapa kali Ayu berolahraga di sekolah. Kadang-kadang melakukan permainan, lari atau senam. Ayu cukup kaget juga ketika di bulan pertama mesti mengikuti “Marathon” berlari selama sekitar setengah jam di tepi sungai Kamogawa, di tengah cuaca dingin dibawah sepuluh derajat.

ayu marathon

Tak cuma Ayu, Saya dan Emaknya juga terkaget-kaget.

Di musim panas, aktivitas olahraga bertambah dengan renang yang dilakukan beberapa kali dalam satu minggu. Dalam pengawasan Guru, Ayu dan kawan-kawan berlatih renang. Oh ya, di setiap SD memang tersedia kolam renang berukuran mungil yang dipergunakan selama musim panas. Tidak cuma SD, Ilham yang sekolah di TK juga aktif berenang dengan menggunakan kolam renang portable yang dipasang selama musim panas.

Senam yang dilakukan juga cukup sulit. Saya pernah khawatir karena sampai sore Ayu belum pulang. Ketika pulang ia menceritakan kalau sepulang sekolah ia berlatih senam di palang besi. Ayu tak mau kalah dengan teman-temannya yang jauh lebih langsing dan kuat, maka ia berlatih sendiri di lapangan tak jauh dari rumah.

Terenyuh dengan upaya Ayu, saya kemudian mengajari Ayu dan Ilham (yang juga kepengen belajar) untuk belajar bersama di lapangan, sampai bisa.

Gerakan senam lain semacam roll ke depan dan ke belakang juga dipelajari.

Oh ya, ada lagi Undokai, semacam pekan olahraga. Anak-anak SD kelas 1 sampai 6 dibagi kedalam tiga kelompok: merah-kuning dan biru. Tiga kelompok ini berlomba untuk menjadi pemenang, mulai dari lomba lari, tarik tambang, lari estafet,memasukkan bola kedalam keranjang dan sebagainya. Nah menjelang Undokai ini, porsi olahraga juga semakin intens dan keras.

TK tempat sekolahnya Ilham juga mengadakan Undokai setiap tahun.

menari

Apa yang terjadi setelah setahun?Secara fisik, Ayu tidak hanya nampak melangsing, namun juga tambah kuat.

Ini juga mungkin faktor makanan yang tambah sehat. Setidaknya di sekolah Ayu wajib mengikuti makan siang bersama dengan menu yang sehat: nasi, ikan, sayur dan susu. Ayu tak bisa tak makan sayur, he he. Bahkan kerapkali Ayu bertugas (bergiliran) melayani teman-temannya untuk makan, mulai dari menyiapkan, membagi sampai membereskan.

Oh ya, bersih-bersih di sekolah seperti ngepel dan nyapu juga dikerjakan di sekolah bersama teman-temannya.

Ayu in Classroom

Selain itu tentu saja kami juga jarang sekali makan fast-food, seperti yang sering dilakukan ketika tinggal di Jakarta. Oh ya, jalan-jalan ke mall yang biasa dilakukan di jakarta digantikan oleh aktivitas fisik bersama keluarga, seperti bermain di sungai Kamo, naik Gunung Daimonji atau juga mendaki Kurama.

Saya yang merasa Penjaskes kurang penting kemudian berupah pikiran ketika menyaksikan anak-anak menjadi tambah sehat dan kuat. Pantas saja, kawan-kawan di Jepun sebagian besar langsing dan sehat. Anak-anak disini juga langsing, sehat dan amat aktif. Pulang sekolah mereka biasa bermain di taman-taman (koen) yang tersedia di setiap blok. Oh ya, walaupun di sini rumah dan Apato-nya sempit-sempit, tapi tersedia cukup banyak taman publik yang bisa dipakai lari, perosotan, main bola atau latihan sepeda. Masa emas pertumbuhan fisik di SD dimaksimalkan membuat anak-anak menjadi tumbuh amat baik. Bahkan di level tertentu, anak-anak SD belajar untuk naik sepeda roda satu. Subhanallah.

Nah, hati saya langsung kecut ketika mendengar Penjaskes dihapuskan sebagai mata pelajaran di SD.

Apakah pengambil kebijakan tak memikirkan dampaknya kepada anak-anak SD kita? Apakah mereka tak memikirkan bahwa akan tumbuh sebuah generasi yang lemah secara fisik yang tumbuh dengan gadget, fast junk food, video game, game online dan televisi. Akan lahir generasi yang lupa cara dan rasa berlari, mengoper bola, dan bermain senam di dunia nyata dan hanya bisa memainkannya di dunia maya dengan memencet tuts keyboard.

Semoga berita yang saya baca salah 😦

Sumber:

1. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/12/10/2147389/Mata.Pelajaran.Bahasa.Inggris.Penjaskes.dan.TIK.di.SD.Dihapus.

2. http://ayuzahrany.wordpress.com/

Iklan

10 tanggapan untuk “Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di SD Dihapus?

  1. beruntung ya bro yang anak-anaknya bisa belajar di negeri seberang…di indonesia, yang dipelajari sebenernya semakin gak jelas…dan bahkan lebih “menakutkan” karena anak-anak di paksa text book..hal hal yang menunjang sikap kritis dan ketahanan tubuh, malah sangat jarang bisa dijumpai di mata ajar….

  2. salam kenal mas abdul, saya sebagai guru penjas juga prehatin jika betul aturan itu diterapkan mau dibawa kemana bangsa ini, nampaknya ada kekuatan lain yang menghendaki pendidikan di Indonesia tidak maju, setelah digonta-ganti dengan sistem(kurikulum baru) maka secara fisik/mental akan dilemahkan dengan cara mengurangi kebugaran para generasinya. mudah 2 han penggambil kebijakan tidak bodoh dengan situasi seperti itu, saya gak bisa bayangkan jika para anak2 dan pemudanya malas untuk bergerak(olahraga)dan terlena dengan permainan komputernya , bagaimana dengan indonesia 30 tahun ke depan ???????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s