Malam tadi diskusi soal banyak hal dengan beberapa kawan. Dari sana saya tertarik menuliskan beberapa aspek yang didiskusikan dalam format tanya jawab. Format ini dipilih karena menurut saya menarik, mirip dengan penulisan Kitab yang berformat Su’al – Jawab waktu saya mondok dulu.

1. Bung, kenapa anda mengeluh dalam tulisan-tulisan anda? Lebih baik berkarya daripada mengeluh dan tidak-ngapa2in?

Saya memang dosen biasa-biasa saja, baru jadi dosen tetap sejak 2006 dan belum banyak berkarya dan mungkin tidak sehebat anda. Tapi soal mengeluh dan nggak ngapa2in adalah tuduhan serius ;). Silahkan lihat profil saya di sini. Oh ya, bisa ditunjukkan soal tulisan saya yang bernada mengeluh? Hmm lebih tepatnya memang beberapa tulisan di blog ini mengkritisi sistem karir perdosenan. Ya beberapa tulisan saya memang soal itu, silahkan baca: Perbandingan Dosen Indonesia dan Malaysia atau Perbandingan Tunjangan Fungsional Dosen dan Jabatan Fungsional Lain.   Membandingkan itu penting untuk melihat posisi kita berada dimana. Soal perbedaan fasilitas dan sistem, ya tentu saja. Tapi mendorong pemerintah untuk terus memperbaiki sistem dengan tulisan adalah hal yang konstruktif bukan?

Ada hal-hal yang memang perlu dikritisi lho, misalnya dalam PerMenPAN 17 2013 seorang dosen mesti berada dalam satu jabatan fungsional (jafung) selama 4 tahun sebelum boleh mengajukan kenaikan jafung. Lho kenapa lebih lama? Padahal di aturan lama hanya tiga tahun?

Nah apakah sikap mempertanyakan diatas adalah sikap mengeluh atau mengkritisi, silahkan jawab sendiri ya? he he

2. Kenapa sih anda menulis tema-tema soal perdosenan?

Pertama, karena saya dosen dan bukan petani cabai. Jika saya petani cabai, saya akan banyak menulis soal dunia pertanian dan dunia cabai ;). saya memilih menjadi dosen sebagai jalan hidup, setidaknya sampai usia 65 atau 70 tahun. Saya tidak mau tersesat karena tidak mengetahui atau tidak mau tahu soal aturan main dalam dunia perdosenan.

Kedua, saya mendapati dua tipe ekstrim dosen: tipe pertama:  dosen2 yang malas, nggak pernah atau jarang penelitian apalagi publikasi tapi karirnya cepat. Mereka berani kasak-kusuk bahkan menyogok untuk naik jafung. Sebagian mereka meghalalkan segala cara, untuk naik jafung seperti memalsukan jurnal, membuat jurnal rakitan, dll. Nah tipe dosen-dosen semacam inilah yang celakanya banyak menjadi pengambil kebijakan (baca: pimpinan) di kampus.

Di sisi yang lain, ada tipe yang kedua: dosen-dosen pintar, penelitiannya banyak, publikasi di jurnal internasionalnya banyak, sering presentasi di seminar nasional dan international, nulis buku rajin, tidak pernah bolos mengajar, tapi jafung-nya macet. Mereka tidak mau mengurus kenaikan jafung dengan alasan: yang penting adalah kontribusi keilmuan.

Dua titik ekstrim diatas membuat saya merenung di bawah pohon rambutan: kenapa tidak kita mendorong dosen tipe kedua untuk berkarir lebih baik? Percayalah bahwa sistem karir dosen, terlepas dari berbagai kekurangannya memberi ruang akselerasi untuk mereka yang berprestasi secara akademik. Katakanlah jika anda memiliki kontribusi keilmuan yang tinggi: menulis di berbagai media (koran, majalah, jurnal nasional atau internasional), menjadi pembicara di berbagai forum seminar atau konferensi (nasional, internasional), menulis berbagai buku yang menjadi rujukan dunia ilmu pengetahuan, maka sebetulnya karir anda akan menjadi semakin cepat.

Sebagai contoh:

Jika anda dosen biasa-biasa saja, anda akan menempuh jalur reguler: AA-Lektor-Lektor Kepala -Guru Besar. Kenaikan reguler setiap empat tahun sekali.

Tapi kalau anda memiliki kontribusi keilmuan yang luar biasa (katakanlah menjadi penulis di banyak jurnal internasional, atau nulis buku banyak), karir anda bisa jauuuuuuuuh lebih cepat. Anda bisa mengajukan kenaikan jafung kurang dari empat tahun, bahkan bisa loncat jabatan: AA langsung LK, atau Lektor langsung Guru Besar. Keren kan?

Lho emang bisa? Bisa, maka contohlah banyak dosen yang menempuh karir dengan cemerlang dan jujur, jangan melulu melihat dosen-dosen yang “menghalalkan segala cara” yang ada di sekitar kita. Silahkan baca tulisan saya soal : Menjadi Guru Besar.  Waktu nonton streaming debat kandidat Dekan Psikologi Prof. Hamdi Muluk juga menyampaikan kalau dia hanya butuh 9 tahun sejak menjadi dosen tetap untuk menjadi Profesor.

Jadi berkarir cepat “cuma” butuh dua hal: Produktif dan Telaten. Anda mesti rajin dan berprestasi dalam menjalankan tugas perdosenan dan mendokumentasikannya, mengumpulkan dalam satu folder, dan jangan malu menghitungnya (kenapa mesti malu? nggak curang toh?)

3. Tapi Jadi Profesor kan bukan segalanya? Banyak dosen ngaco yang jadi Profesor dan kontribusi keilmuan mereka sedikit !!!

Kenapa menjadi Profesor saya tekankan? Pertama,  karena secara finansial inilah titik aman. Aman secara finansial penting karena anda bisa fokus mengajar dan meneliti tanpa harus ngamen kesana-kemari.  Ya tentu saja tidak cukup untuk koleksi Aventador atau liburan ke Hawaii setiap minggu, tapi bisa memberi keluarga rumah yang baik, sekolah yang baik, bisa beliin sepeda buat anak, punya kendaraan yang baik dan gizi yang cukup. Sudah bukan jamannya mempertentangkan antara kesejahteraan dengan pengabdian.

Maaf, saya banyak menemukan dosen-dosen pintar yang banyak mengeluh tentang sistem, merasa mentok kesana-kemari, merasa dipersulit, padahal sumber utama masalahnya adalah tidak tahu atau tidak mau tahu soal aturan main.

Kedua, jika anda mau memperbaiki sistem, maka jadilah pengambil kebijakan (pemimpin). Nah, untuk menjadi pengambil kebijakan, bagaimanapun ada persyaratan-persyaratan administratif. Misalnya, di PTN (selain BHMN yang punya aturan tersendiri CMIIW) syarat jadi Rektor atau Dekan adalah Lektor Kepala. Profesor tentu saja lebih baik. Nah, jangan sampai dosen-dosen pinter, baik hati, tidak sombong, rajin menabung dan berintegritas tidak bisa merubah memperbaiki sistem, gagal jadi pemimpin hanya karena aspek administratif. Kemudian lagi-lagi karena tidak memenuhi aspek administratif hanya menjadi penggerutu dan merasa dizalimi. Padahal bisa jadi yang terjadi adalah “menzalimi diri sendiri” dengan tidak mau tahu soal aturan perdosenan dan tidak mau repot sedikit mengurus administrasi. 🙂

Ketiga, soal manfaat pada institusi. Sepengetahuan saya, semakin banyak dosen memiliki Jabatan Fungsional yang tinggi, semakin baik kareditasi sebuah institusi (CMIIW).  Terus terang saya sedih ketika mendengar sebuah Prodi S3 sebuah perguruan tinggi ternama terancam ditutup karena hampir (atau sudah?) semua Profesornya pensiun dan belum ada calon Profesor baru. Sedih kan?

Soal bahwa ada profesor ngaco atau profesor jadi-jadian, biarlah itu menjadi urusan dia dengan institusi/negara dan Tuhan. Kecuali jika kita memang berada dalam posisi untuk menilai kelayakan seseoang dan kita menemukan kecurangan dalam proses,  maka bersikap tegas adalah pilihan terbaik. Saya selalu percaya bahwa sehebat-hebatnya kecurangan pasti akan ketahuan juga. Daripada ngedumel memikirkan kepantasan orang lain yang bikin pening, saya cenderung fokus kepada contoh-contoh baik yang bisa jadi teladan.

4. Jadi dosen adalah panggilan hati, kenapa mesti bicara soal penghasilan? Uang bukan segalanya, kalau mau kaya jangan jadi dosen, kerja saja di perusahaan swasta?

Anda tidak membaca argumen saya di atas, baca dulu point 3 di atas. Oh ya, beli text book di amazon nggak bisa pake daun lho 😉

5. Kenapa sih membandingkan dosen di Indonesia dengan di luar negeri? Kalau anda merasa standar anda tinggi kenapa tidak mengajar saja di luar negeri, segalanya bisa anda dapatkan?

Tentu saja saya tidak perlu menjelaskan soal globalisasi kepada anda. Membandingkan dunia perdosenan di Indonesia dan di luar sana adalah penting, untuk memahami dan belajar bagaimana sebuah sistem pendidikan tinggi: bagaimana pengajaran, perpustakaan bahkan koperasi dikelola. Apakah gaji perlu didiskusikan? Ya tentu saja, ini bagian integral dalam sebuah profesi. Inget : If you pay peanuts, you get monkeys.

Mengajar di dalam atau di luar negeri adalah sebuah pilihan individu. Anda akan menemukan jawaban dan alasan berbeda bahkan amat pribadi dari scholar yang mengajar atau bekerja di luar: Arif Budiman, Vedi hadiz, Nangkula Utaberta atau Jafar Suryomenggolo.

Bagi saya pribadi, belajar di luar soal hal-hal baik dan menerapkannya di kampung sendiri masih menjadi pilihan terbaik sampai saat ini. Lantas apakah kalau mengajar di kampung sendiri harus miskin? Itu paradigma keliru. Saya bisa sejahtera walaupun tidak jadi dosen di luar negeri, tanpa mesti jadi makelar proyek, tanpa jualan palu gada, tanpa menjadi “budak” politisi korup atau tanpa mesti sikut-sikutan menjadi pejabat kampus.

Caranya ya membangun perencanaan karir yang baik. Saya merancang karir perdosenan saya sejak lama, menjaga produktivitas, memastikan kapan harus jadi LK, kapan saatnya nanti kelak jadi Profesor, percayalah semua bisa direncanakan. Sebagai contoh saya berusaha keras agar bisa mendapat LK sebelum kuliah ke Kyoto, saya berproduksi maksimal sejak mendapatkan Lektor: presentasi di berbagai seminar nasional maupun internasional, menulis di jurnal akreditasi dikti, dsb. Sebelum tiga tahun saya sudah bisa mengajukan kenaikan jafung istimewa ke LK (dibawah 3 tahun) karena punya tulisan di jurnal akreditasi dikti. Kenapa saya ngotot ke LK sebelum mulai sekolah S3? Karena saya mau sepulangnya sekolah saya fokus mengurus kenaikan jafung ke Profesor, saya tidak mau masa kerja 3 tahun selama kuliah hilang sia-sia. Ya tentu saja ada campur tangan Allah disana, silahkan baca cerita narsisnya disini.

5. Dosen itu nggak usah mikirin soal Jabatan Fungsional, yang penting adalah kontribusi keilmuan !

Silahkan baca lagi jawaban nomor 3.

Sekali lagi saya percaya bahwa karir dosen adalah refleksi kontribusi keilmuan kita. Semakin kita berkontribusi dan mau sedikit repot mendokumentasikannya, maka insyaAllah akan semakin cepat.

Oh ya, ini list tulisan-tulisan saya soal perdosenan, semoga bermanfaat, tapi jika anda sudah tahu segalanya atau mengangap saya tukang mengeluh, monggo abaikan saja. Tapi saya senang karena banyak diskusi yang baik, pertanyaan, atau curhat yang muncul dari para pembaca blog saya di berbagai pelosok daerah di Indonesia dan pelosok dunia. Sila dilihat:

1.  Menjadi Dosen di Indonesia

2. Karir dan Remunerasi Dosen di Indonesia I

3. Karir dan Remunerasi Dosen di Indonesia II

4. Karir dan Remunerasi Dosen di Indonesia III

5. Daftar Jurnal Terakreditasi Dikti Lengkap

6. Mari Menjadi Guru Besar

7. Gampang Menjadi Profesor?

8. Kewajiban Profesor

9. Perbandingan Tunjangan Fungsional Dosen dan Jabatan Fungsional Lain

10. Catatan Soal Nasib Dosen Malaysia dan Indonesia

11. Jurnal yang Diragukan Dikti (?)

12. Informasi Tentang Laman Acuan Jurnal Ilmiah

13. Analisis PerMenpan 17 2013

14. Paparan Terbaru Dikti Soal Kenaikan jabatan Fungsional Dosen.

15 Sistem Pengembangan Informasi Karir Dosen

16. PerMendikbud Pengangkatan Dosen Tetap Non PNS

17. Meningkatkan Publikasi Ilmiah Dosen Indonesia

18. Anak-anak Muda yang Hebat 

19. Anak-Anak Muda yang Hebat II

20. Empat Tipe Dosen

Wah banyak juga ya: ada yang isinya curhat, narsis, informasi yang diambil dari laman dikti, sampai informasi paling baru dunia dosen beserta analisisnya. Oh ya, tahu nggak informasi2 terbaru saya dapatkan dari mana, sebagian besar bukan jalur resmi lho, tapi dari Bunda Fitri. Tentu saja bukan Bunda Putri, tapi Bunda Fitri, sesorang yang bukan berasal dari dunia pendidikan tinggi tapi punya komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan tinggi. Sila baca profil beliau disini. 

Sudah dulu ya, mau Gowes dulu ke Bazaar, siapa tau ada barang oke dan murah, mau menghadapi musim dingin nih 🙂

Kyoto, 7 Desember 2013

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Tanya-Jawab Soal Blog Ini dan Perdosenan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s