Saya baru saja mendapatkan file berjudul Jabatan Karir Dosen, Sesuai dengan PermenPAN dan RB No. 17 Tahun 2-13 Jo. No. 46 Tahun 2013 oleh Biro Kepegawaian kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Nah, paparan tersebut menjawab beberapa pertanyaan yang menggelayuti pikiran banyak rekan-rekan Dosen.

Berikut beberapa hal saya uraikan disini. Oh ya, untuk hitung-hitungan Kum yang njlimet dan penjelasan detail monggo dibaca di paparan aslinya ya. Ini hanya beberapa butir saja:

1. Apakah Dosen S2 bisa mengajukan ke Lektor Kepala (LK)? (Ini hottest question soalnya)

Ya, bisa. Namun ada syarat tambahan yang mesti dipenuhi dan itu tidak gampang, yaitu menulis di Jurnal Internasional bereputasi. Sedangkan Dosen berpendidikan Doktor cukup memiliki tulisan di Jurnal Nasional Terakreditasi.

2. Berapa lama masa tunggu di satu jabatan fungsional (Jafung) sebelum mengajukan ke jabatan fungsional selanjutnya?

Masa iddah  tunggu normal sebelum mengajukan ke Jafung selanjutnya adalah dua tahun, namun tentu saja dengan memenuhi persyaratan khusus dan mencapai jumlah angka kredit yang dipersyaratkan.

3. Bagaimana dengan loncat jabatan?

Screenshot 2014-08-05 12.51.28

4. Apakah kelebihan kum bisa diperhitungkan untuk kenaikan Jafung selanjutnya?

Ya, tapi hanya untuk kum penelitian saja sebesar 80% dan tidak berlaku untuk pengangkatan pertama.

5. Apakah Dosen Tugas Belajar boleh mengajukan kenaikan Jafung?

Ya, boleh banget. Dinyatakan : “Dosen yang sedang dalam masa tugas belajar dapat diproses kenaikan Jabatan akademik/pangkat apabila memenuhi angka kredit dan syarat-syarat lainnya sebelum dosen tersebut memasuki masa belajar walaupun masa kerja dalam jabatan akademik/pangkat terakhir baru terpenuhi pada saat ybs sedang dalam masa belajar.” 

6. Apakah KUM yang didapatkan selama tugas belajar  dihitung?

Ya dihitung, tapi sebatas hanya untuk jurnal internasional dan jurnal terakreditasi saja.

Kesimpulan:

Secepatnya sekolah Doktor dan buat tulisan di Jurnal Internasional Bereputasi sebagai penulis pertama, maka segala jalan nampaknya menjadi lebih mudah ;). Oh ya, kalau daftar Jurnal Terakreditasi Dikti bisa didapatkan di sini. 

Berikut paparan lengkap:

Catatan: hari ini (11/8/2014) saya melakukan update terhadap tulisan ini, memastikan sesuai dengan aturan terbaru. Lagipula karena website http://www.dosenindonesia.net tidak bisa diakses, fiuh. Semoga bermanfaat.

Iklan

26 tanggapan untuk “Paparan Terbaru Dikti Soal Pengajuan Jabatan Fungsional Dosen

  1. Pak Abdul, kata teman anggota senat untan, publikasi selama sekolah dihitung. Betul ya?kalo gak gimana mo loncat jabatan dengan syarat publikasi internasional?

    1. Soal publikasi selama sekolah masih ada dua pendapat: bisa dihitung atau tergabung dalam ijazah. Semoga bisa dihitung ya. Soal loncat jabatan, kalo dari AA ke LK bisa asal: 4 tahun jadi AA, punya 2 publikasi di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis utama, memenuhi angka kredit, bergelar Doktor dan disetujui Senat. Silahkan diajukan sesuai mekanisme di Senat Untan-nya, nanti Tim PAK akan menilai apakah bisa dilanjutkan atau tidak. Nah karena ke LK maka keputusan akhir tetap di Tim PAK Dikti.

  2. Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Salam Hormat,
    Saya Eko Budi Setiawan, dengan NIDN : 0420058601. Berikut saya sampaikan mengenai “sedikit” permasalahan yang baru saja Saya alami ketika mengurus Jabatan Akademik Dosen Asisten Ahli ke Kopertis.

    Sebagai informasi, pendidikan S1 Saya yaitu Teknik Informatika dan lulus pada tahun 2008. Sedangkan pendidikan S2 yaitu Magister Informatika dan selesai pada tahun 2013. Tanggal lulus yang tertera di ijazah S2, adalah 18 maret 2013.

    Saya sudah mulai menjadi Dosen semenjak tahun 2009, lengkap dengan bukti berupa SK, Surat Tugas Mengajar, BAP, dan dokumen lain yang memang wajib dilampirkan ketika mengajukan Jabatan Akademik Dosen Asisten Ahli.

    Setelah lulus dari program Magister bulan maret 2013, Saya langsung mengurus jabatan akademik dosen dengan mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan. Alhamdulillah kampus tempat saya mengajar sangat kooperatif dalam membantu para Dosennya dalam mengurus jabatan akademik dosen.

    Sekitar awal bulan November 2013, seluruh berkas-berkas yang diperlukan telah dikirim ke Kopertis lengkap dengan berkas pengesahan dari pimpinan/senat Universitas. Tanggal penilaian yang Saya inputkan mulai dari 1 September 2009 s/d 18 Maret 2013 dengan nilai total KUM = 351. Asumsi saya adalah penilaian berakhir sampai tanggal lulus S2 di Ijazah, sehingga berkas-berkas setelah bulan Maret 2013 memang akan saya kumpulkan untuk pengajuan ke Lektor nanti.

    Hari ini, Rabu 31 Desember 2013 saya mendapat kabar bahwa berkas pengajuan Jabatan Akademik Dosen saya dikembalikan oleh pihak Kopertis dengan alasan data yang dikirimkan belum mencapai satu tahun semenjak lulus S2. Saya memang menginputkan data penilaian PAK hanya sampai tanggal lulus S2 saja yaitu sampai 18 Maret 2013.

    Pertanyaannya adalah, apakah untuk pengajuan Jabatan Akademik Asisten Ahli prosedurnya memang harus menunggu dulu sampai 1 tahun setelah lulus S2? Saat ini saya sedang mencari tentang adanya ketentuan tersebut.

    Saya anggap hal ini mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang saya peroleh dalam hal pengajuan jabatan akademik dosen. Kalaupun memang benar ketentuannya seperti itu, bagi saya tidak akan menjadi masalah yang berarti karena Saya hanya perlu menunggu waktu untuk mengumpulkan kembali sekitar 3 bulan lagi, dengan melengkapi dokumen-dokumen tambahan selama 2 semester lagi tentunya 🙂

    Hal ini saya sampaikan agar supaya menjadi informasi untuk rekan-rekan Dosen semuanya, khususnya untuk yang juga sama sedang mengurus jabatan akademik dosen ke Asisten Ahli.

    Terimakasih atas perhatiannya,
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  3. Maaf kalau pertanyaan saya newbie n panjang sekali… ^^;
    Mungkin tidak ya kalau langsung loncat jabatan pada pengangkatan pertama menjadi Lektor atau bahkan Lektor kepala (apakah harus melalui Asisten Ahli dahulu)? Apakah kalau punya banyak publikasi ketika studi S2 akan hangus semua karena belum bekerja sebagai dosen? Bagaimana dengan nasib rekan2 yg langsung lanjut S2-S3, apakah publikasinya juga akan sia-sia tidak diakui kalau belum ada status dosen atau bahkan PNS? (saya dengar kalau belum prajab pun tidak diakui?)
    Terima kasih 🙂

    1. Pengangkatan pertama dosen bergelar doktor ya di Lektor IIIC. Nah, disana cuma dibutuhkan karya minimal saja (10 krdit), karena tertutup oleh ijazah yang nilainya 200. Nah bagaimana karya2 sebelumnya? hangus dan tidak bisa dipakai lagi :(. Ketika kemudian berkarya lagi (ngajar, buku, jurnal, dsb), baru dihitung sebagai angka kredit. Begitu Pak penjelasannya. Oh ya, ada perkecualian kalo jadi Presiden bisa langsung jadi Guru Besar 😉

      1. Hari ini saya baru mendengar, tetapi belum saya verifikasi benar atau tidaknya: untuk kenaikan jabatan ke Guru Besar, seseorang harus sampai ke IVC dulu. Artinya, kembali seperti peraturan lama dulu. Benarkah pak Abdul Hamid? Apakah Bapak mendengar tentang hal ini ya? Kalau benar, berarti ini kemunduran

      2. Wah adakah aturan tertulis yang bisa dirujuk? saya khawatir itu penafsiran pihak2 tertentu saja. Menurut segala aturan terbaru (Permendikbud 92 2014 atau slide draft pedoman terbaru) tidak ada ketentuan tersebut.

      3. penjelasan bapak adalah info yang selama ini saya cari. kebetulan saya sdh selesai doktor dan baru akan mengurus jabatan fungsional. apakah ada peraturan menteri atau pemerintah yang menyatakan bisa langsung ke lektor?
        tksh

  4. Assalamualaikum wrwb, Pak Abdul Hamid yang baik, sebagai seorang dosen baru saya mau bertanya dari jabatan Asisten Ahli untuk kejabatan lektor baik 3C atau 3d apakah kita harus menunggu dua tahun, apakah tidak boleh hanya 1,5 tahun, sedangkan kita sudah menyiapkan segala kebutuhan dalam bentuk tridharma perguruan tingginya, terima kasih atas jawabannya.

    Salam,
    Masrizal

  5. pak abdul, ijin bertanya tentang hal sbb:
    6. Apakah KUM yang didapatkan selama tugas belajar dihitung?

    Ya dihitung, tapi sebatas hanya untuk jurnal internasional dan jurnal terakreditasi saja.

    ketika kita sewaktu tugas belajar menulis makalah untuk jurnal, namun tertulis kita dengan alamat dari sekolah tsb, bukan dari institusi; apakah masih bisa digunakan sebagai kum? terima kasih

      1. terima kasih penjelasannya pak abdul. kata kuncinya adalah “melekat kepada dosen”. semoga saya bisa meyakinkan pihak institusi tempat saya mengajar ya :). nanti saya kabari lagi updatenya. salam dari bandung :).

  6. pak saya sebagai dosen banyak membimbing berbagai hibah baik PKM maupun PMW yg didanai dikti ! untuk pengurusan angka kredit masuk ke mana dan nilainya berapa ya ???

  7. Pak Abdul Hamid, mohon bertanya. Apa ya yang dimaksud dengan Jurnal Internasional bereputasi? Penafsiran umum yang saya dengar, terindeks SCOPUS atau ISI-THOMPSON. Benarkah? Jika tidak terindeks di keduanya (terindeks yang lain), apa kemudian dianggap tidak bereputasi? Dimana ketentuan itu di aturan Dikti ya? Terimakasih sebelumnya pak

      1. Terimakasih informasinya Pak Abdul Hamid, sangat berguna. Namun, saya masih ragu dengan interpretasi saya sendiri terhadap beberapa hal. Mohon berkenan share bagaimana interpretasi pak Abddul Hamid tentang hal ini. Di hal 26 butir 9, dinyatakan bahwa disamping terindeks Web of Science dan/atau Scopus, jurnal int bereputasi juga juga harus memiliki impact factor (ISI atau SJR). Itu yang dinilai 40. Kalau tidak mempunyai impact factor, meskipun terindeks, dinyatakan dalam butir 10, dinilai 30. Namun, tidak dinyatakan, apakah jurnal demikian (belum memiliki IF dan dinilai maksimal 30), apakah terkategori bereputasi atau jurnal internasional saja seperti pada butir 8? Keraguan ini (sedikit) terjawab oleh butir 11 yang menyatakan bahwa WS, Scopus dan MSA adalah database bereputasi. Jelasnya, dalam interpretasi saya, jurnal internasional dapat digolongkan begini: (1) Jurnal internasional saja (memenuhi syarat butir 8 hal 26), (2) Jurnal internasional bereputasi nilai 40 (memenuhi persyaratan butir 8 plus terindeks WS, Scopus dan MSA serta mempunyai IF), dan (3) Jurnal internasional bereputasi nilai 30 (memenuhi persyaratan butir 8 plus terindeks WS, Scopus dan MSA tetapi tidak memiliki IF). Benarkah interpretasi saya ini, bagaimana pendapat pak Abdul Hamid atau interpretasi pak Abdul Hamid, sekedar pembandingan interpretasi pak. Terimakasih, salam.

  8. Mohon info dan penjelasannya (jika ada aturannya juga) yang mengatur apakah dosen yang telah lama tidak mengajukan angka kredit bisa dapat teguran? adakah batas waktunya?

  9. Alhamdulillah sangat membantu sekali informasi dari Bpk Abdul Hamid.saya Dosen baru 1 tahun mengajar jadi skrg hanya bisa menonton dulu untuk bisa mengajukan jafung Amin.

  10. Pak, saya mau tanya….Untuk kenaikan loncat jabatan dari asisten ahli, setiap naik pangkat harus mengumpulkan 30% dari nilai angka kredit yang dibutuhkan….Setelah IV/a didapat dan ingin naik ke jabatan fungsional selanjutnya, nilai 30% yang telah dikumpulkan akan hangus atau bisa digunakan untuk kebutuhan selanjutnya? terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s