Paparan Terbaru Dikti Soal Pengajuan Jabatan Fungsional Dosen

Saya baru saja mendapatkan file berjudul Jabatan Karir Dosen, Sesuai dengan PermenPAN dan RB No. 17 Tahun 2-13 Jo. No. 46 Tahun 2013 oleh Biro Kepegawaian kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Nah, paparan tersebut menjawab beberapa pertanyaan yang menggelayuti pikiran banyak rekan-rekan Dosen.

Berikut beberapa hal saya uraikan disini. Oh ya, untuk hitung-hitungan Kum yang njlimet dan penjelasan detail monggo dibaca di paparan aslinya ya. Ini hanya beberapa butir saja:

1. Apakah Dosen S2 bisa mengajukan ke Lektor Kepala (LK)? (Ini hottest question soalnya)

Ya, bisa. Namun ada syarat tambahan yang mesti dipenuhi dan itu tidak gampang, yaitu memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional atau internasional bereputasi sebagai penulis pertama bagi yang memiliki kualifikasi akademik magister. Sedangkan Dosen berpendidikan Doktor cukup memiliki tulisan di Jurnal Nasional Terakreditasi.

2. Berapa lama masa tunggu di satu jabatan fungsional (Jafung) sebelum mengajukan ke jabatan fungsional selanjutnya?

Masa iddah  tunggu normal sebelum mengajukan ke Jafung selanjutnya adalah dua tahun, namun tentu saja dengan memenuhi persyaratan khusus dan mencapai jumlah angka kredit yang dipersyaratkan.

3. Bagaimana dengan loncat jabatan?

Screenshot 2017-11-02 20.40.37

4. Apakah kelebihan kum bisa diperhitungkan untuk kenaikan Jafung selanjutnya?

Ya, tapi hanya untuk kum penelitian saja sebesar 80% dan tidak berlaku untuk pengangkatan pertama. Selain itu harus mencapai dulu jumlah angka kredit yg dibutuhkan. Baru kelebihan bisa dipakai.

5. Apakah Dosen Tugas Belajar boleh mengajukan kenaikan Jafung?

Ya, boleh banget. Dinyatakan : “Dosen yang sedang dalam masa tugas belajar dapat diproses kenaikan Jabatan akademik/pangkat apabila memenuhi angka kredit dan syarat-syarat lainnya sebelum dosen tersebut memasuki masa belajar walaupun masa kerja dalam jabatan akademik/pangkat terakhir baru terpenuhi pada saat ybs sedang dalam masa belajar.” 

6. Apakah KUM yang didapatkan selama tugas belajar  dihitung?

Ya dihitung, tapi sebatas hanya untuk jurnal internasional dan jurnal terakreditasi saja.

Kesimpulan:

Secepatnya sekolah Doktor dan buat tulisan di Jurnal Internasional Bereputasi sebagai penulis pertama, maka segala jalan nampaknya menjadi lebih mudah ;). Oh ya, kalau daftar Jurnal Terakreditasi Dikti bisa didapatkan di sini. 

Berikut paparan lengkap:

 

Iklan

37 thoughts on “Paparan Terbaru Dikti Soal Pengajuan Jabatan Fungsional Dosen

  1. Tonny

    Pak Abdul, kata teman anggota senat untan, publikasi selama sekolah dihitung. Betul ya?kalo gak gimana mo loncat jabatan dengan syarat publikasi internasional?

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      Soal publikasi selama sekolah masih ada dua pendapat: bisa dihitung atau tergabung dalam ijazah. Semoga bisa dihitung ya. Soal loncat jabatan, kalo dari AA ke LK bisa asal: 4 tahun jadi AA, punya 2 publikasi di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis utama, memenuhi angka kredit, bergelar Doktor dan disetujui Senat. Silahkan diajukan sesuai mekanisme di Senat Untan-nya, nanti Tim PAK akan menilai apakah bisa dilanjutkan atau tidak. Nah karena ke LK maka keputusan akhir tetap di Tim PAK Dikti.

      Balas
  2. Eko Budi Setiawan

    Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Salam Hormat,
    Saya Eko Budi Setiawan, dengan NIDN : 0420058601. Berikut saya sampaikan mengenai “sedikit” permasalahan yang baru saja Saya alami ketika mengurus Jabatan Akademik Dosen Asisten Ahli ke Kopertis.

    Sebagai informasi, pendidikan S1 Saya yaitu Teknik Informatika dan lulus pada tahun 2008. Sedangkan pendidikan S2 yaitu Magister Informatika dan selesai pada tahun 2013. Tanggal lulus yang tertera di ijazah S2, adalah 18 maret 2013.

    Saya sudah mulai menjadi Dosen semenjak tahun 2009, lengkap dengan bukti berupa SK, Surat Tugas Mengajar, BAP, dan dokumen lain yang memang wajib dilampirkan ketika mengajukan Jabatan Akademik Dosen Asisten Ahli.

    Setelah lulus dari program Magister bulan maret 2013, Saya langsung mengurus jabatan akademik dosen dengan mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan. Alhamdulillah kampus tempat saya mengajar sangat kooperatif dalam membantu para Dosennya dalam mengurus jabatan akademik dosen.

    Sekitar awal bulan November 2013, seluruh berkas-berkas yang diperlukan telah dikirim ke Kopertis lengkap dengan berkas pengesahan dari pimpinan/senat Universitas. Tanggal penilaian yang Saya inputkan mulai dari 1 September 2009 s/d 18 Maret 2013 dengan nilai total KUM = 351. Asumsi saya adalah penilaian berakhir sampai tanggal lulus S2 di Ijazah, sehingga berkas-berkas setelah bulan Maret 2013 memang akan saya kumpulkan untuk pengajuan ke Lektor nanti.

    Hari ini, Rabu 31 Desember 2013 saya mendapat kabar bahwa berkas pengajuan Jabatan Akademik Dosen saya dikembalikan oleh pihak Kopertis dengan alasan data yang dikirimkan belum mencapai satu tahun semenjak lulus S2. Saya memang menginputkan data penilaian PAK hanya sampai tanggal lulus S2 saja yaitu sampai 18 Maret 2013.

    Pertanyaannya adalah, apakah untuk pengajuan Jabatan Akademik Asisten Ahli prosedurnya memang harus menunggu dulu sampai 1 tahun setelah lulus S2? Saat ini saya sedang mencari tentang adanya ketentuan tersebut.

    Saya anggap hal ini mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang saya peroleh dalam hal pengajuan jabatan akademik dosen. Kalaupun memang benar ketentuannya seperti itu, bagi saya tidak akan menjadi masalah yang berarti karena Saya hanya perlu menunggu waktu untuk mengumpulkan kembali sekitar 3 bulan lagi, dengan melengkapi dokumen-dokumen tambahan selama 2 semester lagi tentunya 🙂

    Hal ini saya sampaikan agar supaya menjadi informasi untuk rekan-rekan Dosen semuanya, khususnya untuk yang juga sama sedang mengurus jabatan akademik dosen ke Asisten Ahli.

    Terimakasih atas perhatiannya,
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

    Balas
    1. indah

      Saya juga mengalami hal yang sama dengan bapak budi, yg sy mau tanyakan apakah tgl yang digunakan tgl keluarnya ijazah atau tgl kelulusan, mohon bantuannya pak untuk dishare peraturan tentang ini. Terima kasih

      Balas
  3. Syarhy

    Maaf kalau pertanyaan saya newbie n panjang sekali… ^^;
    Mungkin tidak ya kalau langsung loncat jabatan pada pengangkatan pertama menjadi Lektor atau bahkan Lektor kepala (apakah harus melalui Asisten Ahli dahulu)? Apakah kalau punya banyak publikasi ketika studi S2 akan hangus semua karena belum bekerja sebagai dosen? Bagaimana dengan nasib rekan2 yg langsung lanjut S2-S3, apakah publikasinya juga akan sia-sia tidak diakui kalau belum ada status dosen atau bahkan PNS? (saya dengar kalau belum prajab pun tidak diakui?)
    Terima kasih 🙂

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      Pengangkatan pertama dosen bergelar doktor ya di Lektor IIIC. Nah, disana cuma dibutuhkan karya minimal saja (10 krdit), karena tertutup oleh ijazah yang nilainya 200. Nah bagaimana karya2 sebelumnya? hangus dan tidak bisa dipakai lagi :(. Ketika kemudian berkarya lagi (ngajar, buku, jurnal, dsb), baru dihitung sebagai angka kredit. Begitu Pak penjelasannya. Oh ya, ada perkecualian kalo jadi Presiden bisa langsung jadi Guru Besar 😉

      Balas
      1. Wiwid

        Hari ini saya baru mendengar, tetapi belum saya verifikasi benar atau tidaknya: untuk kenaikan jabatan ke Guru Besar, seseorang harus sampai ke IVC dulu. Artinya, kembali seperti peraturan lama dulu. Benarkah pak Abdul Hamid? Apakah Bapak mendengar tentang hal ini ya? Kalau benar, berarti ini kemunduran

      2. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

        Wah adakah aturan tertulis yang bisa dirujuk? saya khawatir itu penafsiran pihak2 tertentu saja. Menurut segala aturan terbaru (Permendikbud 92 2014 atau slide draft pedoman terbaru) tidak ada ketentuan tersebut.

      3. suyatno

        penjelasan bapak adalah info yang selama ini saya cari. kebetulan saya sdh selesai doktor dan baru akan mengurus jabatan fungsional. apakah ada peraturan menteri atau pemerintah yang menyatakan bisa langsung ke lektor?
        tksh

  4. Masrizal

    Assalamualaikum wrwb, Pak Abdul Hamid yang baik, sebagai seorang dosen baru saya mau bertanya dari jabatan Asisten Ahli untuk kejabatan lektor baik 3C atau 3d apakah kita harus menunggu dua tahun, apakah tidak boleh hanya 1,5 tahun, sedangkan kita sudah menyiapkan segala kebutuhan dalam bentuk tridharma perguruan tingginya, terima kasih atas jawabannya.

    Salam,
    Masrizal

    Balas
  5. pbasari

    pak abdul, ijin bertanya tentang hal sbb:
    6. Apakah KUM yang didapatkan selama tugas belajar dihitung?

    Ya dihitung, tapi sebatas hanya untuk jurnal internasional dan jurnal terakreditasi saja.

    ketika kita sewaktu tugas belajar menulis makalah untuk jurnal, namun tertulis kita dengan alamat dari sekolah tsb, bukan dari institusi; apakah masih bisa digunakan sebagai kum? terima kasih

    Balas
      1. pbasari

        terima kasih penjelasannya pak abdul. kata kuncinya adalah “melekat kepada dosen”. semoga saya bisa meyakinkan pihak institusi tempat saya mengajar ya :). nanti saya kabari lagi updatenya. salam dari bandung :).

  6. bambang Supriyatno

    pak saya sebagai dosen banyak membimbing berbagai hibah baik PKM maupun PMW yg didanai dikti ! untuk pengurusan angka kredit masuk ke mana dan nilainya berapa ya ???

    Balas
  7. Wiwid

    Pak Abdul Hamid, mohon bertanya. Apa ya yang dimaksud dengan Jurnal Internasional bereputasi? Penafsiran umum yang saya dengar, terindeks SCOPUS atau ISI-THOMPSON. Benarkah? Jika tidak terindeks di keduanya (terindeks yang lain), apa kemudian dianggap tidak bereputasi? Dimana ketentuan itu di aturan Dikti ya? Terimakasih sebelumnya pak

    Balas
      1. Wiwid

        Terimakasih informasinya Pak Abdul Hamid, sangat berguna. Namun, saya masih ragu dengan interpretasi saya sendiri terhadap beberapa hal. Mohon berkenan share bagaimana interpretasi pak Abddul Hamid tentang hal ini. Di hal 26 butir 9, dinyatakan bahwa disamping terindeks Web of Science dan/atau Scopus, jurnal int bereputasi juga juga harus memiliki impact factor (ISI atau SJR). Itu yang dinilai 40. Kalau tidak mempunyai impact factor, meskipun terindeks, dinyatakan dalam butir 10, dinilai 30. Namun, tidak dinyatakan, apakah jurnal demikian (belum memiliki IF dan dinilai maksimal 30), apakah terkategori bereputasi atau jurnal internasional saja seperti pada butir 8? Keraguan ini (sedikit) terjawab oleh butir 11 yang menyatakan bahwa WS, Scopus dan MSA adalah database bereputasi. Jelasnya, dalam interpretasi saya, jurnal internasional dapat digolongkan begini: (1) Jurnal internasional saja (memenuhi syarat butir 8 hal 26), (2) Jurnal internasional bereputasi nilai 40 (memenuhi persyaratan butir 8 plus terindeks WS, Scopus dan MSA serta mempunyai IF), dan (3) Jurnal internasional bereputasi nilai 30 (memenuhi persyaratan butir 8 plus terindeks WS, Scopus dan MSA tetapi tidak memiliki IF). Benarkah interpretasi saya ini, bagaimana pendapat pak Abdul Hamid atau interpretasi pak Abdul Hamid, sekedar pembandingan interpretasi pak. Terimakasih, salam.

  8. kepegawaian

    Mohon info dan penjelasannya (jika ada aturannya juga) yang mengatur apakah dosen yang telah lama tidak mengajukan angka kredit bisa dapat teguran? adakah batas waktunya?

    Balas
  9. abi

    Alhamdulillah sangat membantu sekali informasi dari Bpk Abdul Hamid.saya Dosen baru 1 tahun mengajar jadi skrg hanya bisa menonton dulu untuk bisa mengajukan jafung Amin.

    Balas
  10. rita

    Pak, saya mau tanya….Untuk kenaikan loncat jabatan dari asisten ahli, setiap naik pangkat harus mengumpulkan 30% dari nilai angka kredit yang dibutuhkan….Setelah IV/a didapat dan ingin naik ke jabatan fungsional selanjutnya, nilai 30% yang telah dikumpulkan akan hangus atau bisa digunakan untuk kebutuhan selanjutnya? terimakasih

    Balas
  11. Rahmi

    Saya sedang mengajukan jabatan fungsional asisten ahli, akan tetapi saya tidak punya artikel sebagai nama pertama di jurnal nasional (walaupun sebenarnya 100% artikel itu saya yang tulis, karena ketidakpahaman saya maka nama pertama adalah dosen pembimbing S2). Namun saya punya artikel yang dipublish di jurnal internasional sebagai nama kedua.
    Pertanyaannya apakah bisa saya mengajukan jabfung asisten ahli dengan kondisi seperti di atas ?

    Balas
  12. muhammad asril

    Assalamualaikum pak hamid.
    Saya dosen baru di PTN. Saya memiliki 2 jurnal int’l terindeks scopus (1 sbg penulis pertama, 1 lg sebagai penulis kedua) yang saya publish ketika pendidikan S2. Apakah itu bisa dipakai untuk pengajuan Asisten Ahli. Ketika pengurusan Asisten Ahli kum yg dipakai terpenuhi misalnya hanya 1 jurnal saja. Dan masih ada 1 jurnal tersisa. Apakah 1 jurnal tersisa tsb bisa digunakan untuk pengajuan jabfung Lektor nantinya? Atau hangus? Terima kasih pak

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      (1) Kelebihan angka kredit yang diperoleh pada kenaikan jabatan dan/atau kenaikan pangkat terakhir yang dapat dipergunakan untuk kenaikan jabatan dan/atau pangkat berikutnya hanya dari unsur penelitian.
      (2) Kelebihan angka kredit pada unsur penelitian yang diperoleh pada kenaikan jabatan dan/atau kenaikan pangkat terakhir dapat dipergunakan untuk kenaikan jabatan dan/atau pangkat berikutnya jika kebutuhan minimal angka kredit unsur penelitian pada saat diusulkan sudah terpenuhi.
      (3) Kelebihan angka kredit pada unsur penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dipergunakan paling banyak 80% (delapan puluh persen) dari kebutuhan minimal unsur penelitian untuk kenaikan jabatan akademik/pangkat berikutnya.
      (4) Kelebihan angka kredit sebagaimana disebut pada ayat (3) tidak berlaku untuk pengangkatan pertama dalam jabatan akademik dosen.
      (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelebihan angka kredit diatur dalam Pedoman Operasional Penetapan Angka Kredit yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

      Balas
  13. Abdul Munir

    Bagaimana hitungan jabatan akademis dan kredit yang dihitung, jika seorang PNS non dosen pangkat IVa ijazah doktor lalu beralih fungsi menjadi PNS dosen? mohon pencerahan Pak Abdul Hamid, terimakasih.

    Balas
  14. Budi Sutrisno

    Pak, apakah benar seluruh hasil tri dharma yg dilakukan sblm tmt asisten ahli itu hangus dan tidak dapat digunakan/dihitung untuk mengajukan ke lektor 2 tahun kedepannya?

    Balas
  15. galunggung1981

    Pak, apakah benar seluruh hasil tri dharma yg dilakukan sblm tmt asisten ahli itu hangus dan tidak dapat digunakan/dihitung untuk mengajukan ke lektor 2 tahun kedepannya? Jika benar, alangkah sedih sekali karena hasil tri dharma sy ckp banyak..

    Balas
  16. Dini

    Assalamualaikum
    Pak, saya mohon pencerahan tentang kum B melaksanakan perkuliahan, untuk lektor adalah 1-11 tiap semesternya ataukah harus 11?
    Nah kalau akan mengajukan dari 200 ke 550 (15 semester termasuk tugas belajar 8 semester), kum B yang berhasil dikumpulkan adalah 140 (yang diperlukan 120), kum melaksanakan perkuliahan dari sebelum dan setelah tugas belajar adalah 70, tiap semesternya kira2 kum nya 70/15= 4,6 atau 70/7=10. Apakah kum tersebut kurang? Apakah harus 11×15 semester atau 11×7 semester?
    Terimakasih banyak

    Balas
    1. www.abdul-hamid.com Penulis Tulisan

      Mbak Dini. Kum 11 melaksanakan pengajaran adalah angka maksimal, jadi dihitung hanya 11 SKS pertama mata kuliah yg diampu. Nah, selama tugas belajar tentu saja kum mengajar tidak akan dihitung, jadi hanya 7 semester. Tapi kum pengajaran hanya sebagian dari kum melaksanakan pendidikan, ada membuat buku ajar, melaksanakan tugas tambahan, membimbing tugas akhir, menguji tugas akhir, dan lain-lain

      Balas
      1. Dini

        Terimakasih banyak Pak, iya kum pengajaran tersebut hanya sebagian dari kum B melaksanakan pendidikan. Nah kum pengajaran yang telah saya kumpulkan adalah 73 jika disatukan dengan kum yang lainnya spt membimbing,menjadi penguji dll totalnya adalah 143.
        Pak saya tolong betulkan saya kalau pemahaman saya salah.
        Untuk naik ke 200 (S2) ke 550 (S3) diperlukan kum melaksanakan pendidikan adalah 40% x 300 =120 kum. Jadi kum 143 telah mencukupi untuk keperluan tersebut, betul kan ya?
        Nah pertanyaannya apakah kum 73 tadi telah mencukupi atau masih kurang? jika dilihat dari peraturan bahwa 11 itu maksimal, berarti kum 73 itu 73/7=10 itu masih dalam batas dan mencukupi untuk diajukan. Betulkah pemahaman saya Pak??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.