Bagi aku yang memutuskan menjadi abdi negara (baca: dosen PNS), merawat harapan itu penting. Kalau tidak bisa putus asa.

Yups, berasal dari keluarga PNS Pendidik, sudah pasti kesederhanaan jadi nilai yang ditanamkan kuat-kuat. Bagaimanapun aku mencatat dalam ingatan, betapa dulu Apa sebagai guru MAN Cihideung dan Mamah sebagai guru SMPN 2 Pandeglang banting tulang bekerja di sekolah dan di kebon mencari nafkah yang halal untuk membiayai ke- delapan anak-anaknya untuk jadi sarjana. Untuk mencari tambahan Apa pernah gabung di MLM C*I dan buka warung kecil-kecilan, beternak ayam bangkok, diluar menanam singkong, jagung atau kacang di Kebon. Semua yang halal diupayakan agar kami, anak-anaknya bisa sekolah.

Nyaris tak ada kemewahan yang teringat di masa kecil. Kerja keras di Kebon sepulang sekolah: nyangkul, menyiangi rumput, memerik kelapa di pohon atau membersihkan kandang ayam menjadi rutinitas. Aku masih ingat pernah menatap nanar teman-teman SD sebayaku yang bermain sepeda (waktu itu musim sepeda merek Fed**al) sementara aku memunguti tai kambing dari kandang tetangga untuk jadi pupuk kandang buat tanaman jagung. Berani minta? Tentu saja tidak, karena uangnya lebih baik dikirim untuk sekolah kakak-kakak-ku — yang enam orang — baik di pesantren maupun di kampus. Yups, aku anak ke-7 dari delapan bersaudara.

Bahkan masa-masa indah anak kecil tahun 1990-an  seperti nonton Doraemon, McGyver, Knight Rider, Airwolf atau Layar Emas R**I akulakukan sembunyi-sembunyi di rumah tetangga. Maklum TV kami waktu itu hitam-putih dan hanya bisa menangkap siaran TVRI.

Ha ha, jadi nostalgila.

Jadi ketika besar dan jadi Dosen, nilai-nilai tadi juga membentukku. Aku paling nggak bisa untuk berada di wilayah abu-abu atau hitam. Aku juga akan berteriak keras jika ada yang mengambil hak-ku.

Pengalaman berurusan dengan proyek pemerintah yang mengharuskan banyak berkompromi membuatku sadar, bahwa aku gak cocok di dunia itu, lamun ceuk urang Pandeglang mah, “teu kahatean”. Berbisnis-pun ternyata tidak bisa. Aku pernah membuka kios Brownies Kukus di depan sebuah Mall. Hasilnya gatot, gagal total. Bangkrut hanya dalam tiga hari 😉

Akhirnya ya sudah diniatkan jadi dosen yang bener saja. Aku mempelajari aturan main perdukunan perdosenan, mencari tahu sosok-sosok akademisi cemerlang yang meraih Profesor di usia muda. Bahkan ada masa-masa, print out Pedoman Operasional Pengajuan Angka Kredit Dosen Kenaikan Jafung Ke Lektor Kepala dan Guru Besar tahun 2009 tersimpan sampai kumal berbulan-bulan di ranselku. Dibaca berkali-kali di bis Jakarta-Serang memastikan semua yang aku kerjakan paralel dengan karirku.

Ya, aku percaya tak ada pilihan hidup yang menyengsarakan. Asal dijalani dengan sepenuh jiwa, kerja keras dan jujur, kesejahteraan bisa didapatkan.

Aku menyimpulkan bahwa kesejahteraan dosen tergantung dari jabatan fungsionalnya, semakin tinggi itu ditempuh, akan semakin sejahtera. Menariknya, capaian jabatan fungsional tergantung dari seberapa produktif kita melaksanakan tugas sebagai dosen, terutama mengajar dan meneliti. Semakin produktif kita meneliti dan mempublikasikan hasilnya di seminar atau jurnal, karir dosen juga semakin cepat.

Aturan-aturan penting juga mesti dipahami, seperti misalnya dosen boleh naik jabatan fungsional sebelum waktunya (kurang dari tiga tahun) jika punya tulisan di jurnal terakreditasi. Istriku bilang aku terobsesi, aku bilang ini pilihan hidup yang mesti dipahami betul aturan mainnya.

Pun soal remunerasi, aku meluangkan waktu mempelajari dan menuliskan analisis serta membaginya di blog ini. Aku percaya dan ingin menularkan bahwa menjadi pendidik bukan alasan untuk tidak sejahtera.

Kepada seorang kawan yang malas-malasan mengurus jabatan fungsional aku bahkan pernah bilang “Walaupun naiknya kecil, cuma nambah sekitar tiga ratus ribu, itu halaaaaal banget, bisa untuk beli susu buat anak”.

Sambil terus berupaya memahami aturan main, aku juga betul-betul bekerja keras, terutama di bidang penelitian. Beruntung sekali, jejaring internasional membuatku berkesempatan melakukan riset, seminar internasional dan publikasi dalam beberapa tahun terakhir. Begitu juga di tingkat nasional, sebuah pertemuan tak sengaja dengan redaktur sebuah jurnal terakreditasi di sebuah konferensi nasional,  membuatku bisa publikasi disana walaupun tetap dalam proses penulisan dan revisi yang cukup panjang.

Alhasil 1.5 tahun menjadi lektor aku sudah bisa mengajukan ke lektor kepala dan sekarang SK-nya sudah ditangan sejak tiga bulan lalu, walaupun diajukan setahun sebelumnya. Persis sebelum munculnya PerMenPAN 17 2013 yang mengharuskan lektor kepala berijasah Doktor.

Pun urusan sekolah, aku sadar bahwa menjadi Doktor adalah keharusan dari pekerjaan sebagai dosen. Karena itu berburu beasiswa juga hal yang melelahkan dan bertahun-tahun aku lakukan sampai akhirnya bisa berangkat ke Jepun untuk sekolah S3 di Doshisha University.

Jadi kalau sesuai rencana selesai sekolah 2015 dan tiga tahun kemudian bisa mengajukan menjadi Profesor. Ambisius? Nggak juga, biasa aja kok,  semua terukur dan sesuai aturan.

Tentu saja semua mesti dikejar dengan cara kerja keras, jujur dan bermartabat. Masih ada batu besar, seperti publikasi di jurnal internasional yang tentu saja tidak gampang. Ada sih satu baru terbit tahun ini di Marseille, tapi belum tentu bisa dihitung sebagai kredit kan karena berstatus tugas belajar? jadi nggak ngoyo. Yang penting nulis lagi dan lagi karena syarat jadi Profesor punya publikasi di jurnal internasional.

Sebagai catatan, bahkan aku sudah membuat list target di jurnal mana saja aku mesti publikasi, tentunya sesuai bidangku tapi mengakomodir aturan “aneh”dari dikti: terindeks scopus atau thomson reuters atau microsoft academic research.

Begitu juga rencana menulis beberapa buku membutuhkan usaha keras. Semoga bisa, mumpung disini bisa ketemu referensi yang bagus-bagus.

Lha tujuan akhirnya kok Profesor?

Tentu saja itu bukan tujuan akhir, tapi terminal penting. Bagiku menjadi Profesor penting karena tunjangannya mencukupi bahkan masih bisa beli buku. Aku juga bisa fokus nulis, meneliti dan mengajar tanpa mesti tergoda harus mengamen kesana-kemari hanya untuk cari biaya sekolah anak atau jadi juru bicara gubernur demi rupiah ;).

Aku berprinsip, mengejar karir setinggi dan secepat mungkin tidaklah hina, yang hina adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Aku marah kalau dengar orang yang dibikinkan tulisan di Jurnal akreditasi bisa jadi Profesor atau memalsukan jurnal untuk naik ke lektor kepala, hadoooooh.

Maka mari lakukan dengan bekerja keras, jujur dan bermartabat.

Sesungguhnya tulisan ini bagian dari merawat harapan kok, karena sampai sekarang juga beasiswa Dikti belum cair juga, sudah telat hampir dua bulan, hiks.

Caraku merawat harapan adalah dengan merawat cita-cita, karena ini bisa membuatku tersenyum sambil memandangi beras yang tinggal tersisa sedikit.

Kyoto, 26 November 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s