Ya, Anies adalah salah seorang sosok muda yang cemerlang dan inspiratif. Ia menjadi Rektor Universitas Paramadina di usia muda dan berhasil membawa kampus tersebut mencapai berbagai kemajuan sehingga tak di-cap Rektor administratif oleh Rhenald kasali.  Anies juga diakui sebagai “100 Public Intellectuals in the World” pada bulan Mei 2008 oleh majalah Foreign Policy.  Anies juga pendiri gerakan Indonesia mengajar yang berhasil mengirim ribuan anak muda pintar dan berintegritas ke berbagai sudut Indonesia untuk mengajar anak-anak disana.

Integritas nampaknya diwarisi secara genetik dari kakeknya, AR Baswedan, salah seorang tokoh pergerakan dan ayahnya Rasyid baswedan, dosen di UII Yogyakarta. Karena itulah di usia belia Anies sudah berkenalan dengan berbagai pemikiran dari Ayah dan kakeknya. Ketika kuliah di UGM Anies menjadi Ketua Senat mahasiswa UGM dan kemudian menempuh pendidikan S2 dan S3 di Amerika Serikat (Ph.D di Northern Illinois University,  dan Master Public Policy dari  University of Maryland School of Public Policy, College Park).

Anies adalah masa depan Indonesia.

Saya sendiri senang ketika Anies menyatakan “turun tangan”menjadi calon Presiden. Saya sepakat dengan buah pemikirannya bahwa “orang-orang bersih”mesti turun tangan mengelola negara. Dan pengelolaan negara memang musti melalui jalur politik.

Namun sayang jika orang sekaliber Anies kemudian hanya menjadi barang promosi di ajang pencarian bakat semacam Konvensi Partai Demokrat. Tahu maksudnya kan? Sosok bersih semacam Anies menjadi pemikat bagi kelas menengah untuk ikut mendukung Anies yang berarti juga melegitimasi Konvensi Partai Demokrat. Sampai sekarang kita juga tidak tahu mekanisme konvensi dan bagaimana keputusan akhir akan dibuat. Yang pasti di partai semacam demokrat peran “owner” amat menentukan hasil akhir,  karena yang lain cuma ngontrak toh 😉

Di sisi inilah Anies mesti berkaca pada peristiwa dimana Cak Nur yang batal mengikuti  Konvensi Partai Golkar tahun 2004 karena persoalan “gizi”. Cak Nur nampaknya paham bahwa bertarung di Konvensi sebuah partai politik semacam Golkar tanpa “gizi” amatlah mustahil. Sebagai suksesor Cak Nur di Paramadina, semoga Anies membaca ulang peristiwa ini dan memahami situasi batin Cak Nur kala itu.

Skenario terburuk yang saya prediksi dan bayangkan adalah ketika di hasil akhir Pramono Edie –ipar owner-nya partai –memenangkan konvensi dan menjadikan Anies Baswedan sebagai calon wakil presiden. Alasannya sederhana, melanjutkan kontrol terhadap partai dan (syukur-syukur republik) serta menjadikan Anies sebagai vote getter bagi kelas menengah untuk memecah suara dukungan capres yang lain.

Bagaimana menurut anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s