Anak-anak Muda yang Hebat

Saya sudah tak muda. Sekarang sudah 32 dan jika selesai sekolah sesuai target dua tahun lagi, akan jadi doktor di usia 34. Sungguh tidak istimewa. Pun jika nanti sesuai rencana mendapatkan jabatan fungsional guru besar tiga tahun sesudah S3, hanya akan menjadi Profesor di usia 37.

Hmm, akan banyak anak-anak muda yang menyalip dengan cepat. Akhir-akhir ini saya banyak bertemu dengan anak-anak muda di usia belum kepala tiga sedang sekolah doktor atau bahkan sudah jadi doktor di dalam dan luar negeri.

Yups, gelar doktor memang bukan segalanya, tapi ini penanda lahirnya sebuah generasi di dunia lain akademik. Ya, generasi yang membuat keputusan lebih cepat di usia muda. generasi yang ketika memutuskan jadi akademisi menyelesaikan urusan dirinya sendiri dengan sekolah s3 segera, tidak menunda-nunda. Sebagian mereka belum memiliki pekerjaan tetap di indonesia dan akan mulai mencari pekerjaan setelah lulus.

Generasi ini dalam dua, tiga dan empat tahun lagi akan pulang ke Indonesia dan (sebagian) akan memasuki pasar kerja di dunia pendidikan tinggi.

Pertanyaan yang mesti mucul justru apakah dunia pendidikan tinggi kita siap memberi ruang kepada mereka? Mereka anak-anak muda yang berbahasa inggris bagus, pengalaman publikasi internasional, jejaring ilmuwan di luar negeri (minimal supervisornya 🙂 ) dan biasanya memiliki ide dan ambisi banyak.

Jika selama ini banyak perguruan tinggi di Indonesia berkoar-koar menjadi World Class University, inilah saat yang tepat untuk mewujudkannya dengan merekrut dan memberi ruang bagi mereka. Hambatan terbesar bagi masuknya mereka ke kampus, terutama kampus negeri adalah kultur birokrasi yang terlanjur kental.

Bayangkan, di sebuah kampus negeri, seorang kawan ditolak mendaftar karena dianggap ijazah S2 dan S1-nya tak linier. Petugas administrasi menolak karena S1-nya Ilmu administrasi negara dan S2-nya Administrasi publik. Kacau kan?

Termasuk juga dalam hal ini penyakit nepotisme. Saya pernah mendapatkan cerita, seorang calon dosen gagal menjadi dosen di sebuah PTN karena nama-nya diganti oleh tim seleksi dengan cara di tip-ex dan diganti dengan orang lain yang membayar sejumlah uang sebelum dikirim ke Jakarta.

Jika kultur ini tak berubah. Sulit memang dunia pendidikan tinggi kita berbenah.

Saya sendiri berhusnudzhon jika aturan tentang dunia dosen yang semakin sulit (setidaknya menurut teman2 di group facebook dosen indonesia) adalah upaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui alih generasi.

Kasarnya, selamat datang akademisi muda yang memiliki publikasi internasional dan berpendidikan doktor. Selamat tinggal untuk generasi lama yang tak mau/ mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor dan tak mau/mampu melakukan publikasi internasional.

Namun tentu saja tak lantas ketika anak-anak muda ini masuk kemudian dunia pendidikan tinggi berubah menjadi baik. Saya sendiri akan membayangkan konflik antar generasi akan terjadi. Bayangkan, senior yang terbiasa dengan kultur pendidikan tinggi yang selama ini ada, mungkin juga belum doktor  musti memimpin anak muda berpendidikan doktor yang kadangkala membawa nilai yang sama sekali berbeda dan bersikap egaliter yang mungkin bisa dianggap kurang sopan. Konflik bisa berangkat dari generasi lama yang kaku dan bisa jadi juga dari generasi muda yang belagu.

Saya juga membayangkan anak-anak muda ini menjadi bingung setengah mati ketika musti menyiapkan segala macam laporan riset yang urusan “kuitansi”-nya jauh lebih dominan daripada urusan konten. Belum lagi pungutan-pungutan dana penelitian oleh lembaga penelitian yang dilaporkan masih terjadi di beberapa kampus.

Nah, yang belum kelihatan memang “manajemen perubahan” dalam kerangka institusional-nya di Indonesia. Dikti misalnya bertahun-tahun bahkan tak becus mengurusi penyaluran beasiswa dalam dan luar negeri.

Perguruan tinggi di Indonesia juga masih gagap menerapkan konsep BLU yang celakanya juga membuat kampus masih menjadi seperti jawatan layaknya rumah sakit dan bukan lembaga pengembang ilmu pengetahuan.

Yups, inilah tantangan kita.

Selamat datang anak-anak muda yang hebat.

Terkait: Anak-anak Muda Hebat di dunia Profesional dan Bisnis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s