Dulu saya berpikir bahwa Jokowi cukup jadi Gubernur Jakarta dulu, tahun 2012-2017. Setelah itu, jika berhasil bolehlah maju jadi calon Presiden.

Saya juga waktu itu masih berpikir bahwa masih ada calon yang oke, seorang Jenderal yang memakai arloji di tangan kanan. Sejujurnya dulu saya ngefans berat, maka sampai saat ini saya masih arloji di tangan kanan. Kabarnya itu tanda menghargai waktu.

Namun diskusi belakangan ini membuat saya berpikir ulang. Ada beberapa hal.

Pertama, dari semua calon selain Jokowi, nyaris semua adalah bagian dari masa lalu. Pun si Jenderal yang saya sebut di awal. Ada beberapa hal yang terungkap dalam beberapa diskusi yang membuat saya tidak lagi berharap Indonesia dipimpin dia. Selainnya adalah pemilik perusahaan penyebab bencana di Sidoarjo, mantan Panglima yang terus-terusan gagal jadi Presiden, Megawati yang sudah sepuh dan calon dari partai berkuasa yang belum jelas. Calon-calon yang baru muncul sudah kedodoran sejak awal, baik kapasitas maupun kekuatan politiknya.

Kedua, Idealnya Jokowi memang menyelesaikan satu kali masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bahasa orang-orang, membuktikan diri atau membereskan Jakarta. Hal tersebut pernah dilakukan Gubernur Seoul atau Walikota Teheran yang kemudian jadi Presiden di negaranya.

Sayangnya, berkaitan dengan hal pertama diatas, nyaris tak ada calon lain yang cukup bisa diharapkan selain Jokowi di tahun 2014. Artinya momentum-nya memang 2014 jika Indonesia mau melaju cepat. Tangan dingin Jokowi mulai membuahkan hasil di Jakarta, kerjanya selama kurang dari setahun, nampaknya sudah jauh lebih banyak dari apa yang dikerjakan pendahulunya selama lima tahun. Tentu saja sebagai pemilih Jokowi di Jakarta saya juga tak boleh egois dengan mengatakan bahwa Jokowi tak boleh meninggalkan Jakarta.

Jika tangan Jokowi bisa menyentuh Tanah Abang, Ciliwung, dan Waduk Pluit, maka saudara-saudara kita di belahan timur Indonesia juga berharap “dibereskan” oleh tangan dingin Jokowi. Begitu juga dengan berbagai masalah yang di pemerintahan sekarang tak kunjung selesai seperti lumpur di Sidoarjo, Sampang atau jalan pantura.

Ketiga, saya pikir sudah saatnya memang Indonesia bangun menjadi negara yang kuat dan sejahtera. Karena posisi saya di luar negeri, berkali-kali saya mendengar Indonesia sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya mengagumkan, calon kekuatan besar dunia selain China, dan lain-lain. Begitu juga pemerintah yang menyebut-nyebut bonus demografi sebagai salah satu alasan bangkitnya Indonesia.

Tingginya pertumbuhan ekonomi misalnya ditandai oleh tingginya konsumsi, masuknya barang-barang mewah, naiknya secara drastis jumlah kelas menengah yang mengantri gadget terbaru sampai beratus meter, dan tingginya angka wisatawan Indonesia yang berpakansi ke luar negeri. 

Namun di sisi lain, media yang saya akses tak hentinya memberitakan soal korupsi, kemiskinan absolut, pengangguran, pasien miskin yang gak bisa berobat, anak sekolah yang tak bisa menebus ijazah, kerusakan infrastruktur dan anak-anak sekolah yang naik jembatan indiana jones untuk ke sekolah.

jadi apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia?

Yups, ketiadaan kapasitas kepemimpinan. Lack of leadership. Ketidakmampuan mensinergikan segenap potensi pertumbuhan tersebut untuk kesejahteraan masyarakat. Ketidakmampuan menggunakan “power”dan “authority” untuk betul-betul menjamin bahwa sebuah kebijakan terimplementasi dengan benar. 

Bahkan hal kecil saja, soal menjaga harga daging sapi agar mampu terbeli warga yang mau lebaran tak mampu diselesaikan. Saya ndak ngerti kenapa Presiden segitu tak mampunya memastikan anggota kabinetnya bekerja dengan baik dan benar. Aya naon?

Jadi saatnya memang Indonesia punya pemimpin yang bagus sekaliber Jokowi. Ini bukan cuma sekedar agar Indonesia bertahan, tapi rasanya di tangan Jokowi lebih mudah melihat berbagai persoalan diselesaikan. Juga lebih mudah membayangkan bahwa pertumbuhan ekonomi juga berarti meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Jokowi 2014

  1. Jokowi memang bagus, tapi sayang tidak punya program percepatan peningkatan kesejahteraan Aparatur Sipil Negara (termasuk dosen). Program ini justru menjadi milik Prabowo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s