Gampang Jadi Profesor?

Status di facebook seorang kawan yang bukan akademisi begitu menohok

“Ga sangka pa xxx bs Ĵªϑί Prof Dr. Trnyata mudah yah mncari gelar akademik bg yg minat mah …”

Saya tercenung, benarkah?

Saya lantas teringat perbincangan beberapa waktu lalu dengan seorang kawan yang pintar. Pintar dalam arti sebenarnya secara akademik. Dia alumni kampus terbaik di Aussie dan segera melanjutkan ke Belanda, dosen muda salah satu PTN di pulau jawa dan memiliki jaringan nasional dan internasional yang kuat. Ia mengeluhkan banyaknya dosen-dosen yang balapan mengejar jabatan fungsional. Ia menganggap bahwa tinggi-tinggi-an jabatan fungsional bukan sesuatu yang dibanggakan dan ia malas dengan tetek bengek administratifnya.

Saya mengalami kegalauan juga. Bagaimanapun saya memilih menjadi dosen bukan sebagai pekerjaan saja, tetapi sebagai jalan hidup. Artinya menjadi Profesor suatu saat nanti, bukan sesuatu yang dikejar-kejar dengan menghalalkan segala cara. Tapi keniscayaan saja, sebagaimana kalau masuk militer ya jadi Jenderal, atau kerja di perusahaan ya jadi Direktur.

Lha bagaimana menyikapi orang yang sebetulnya kita anggap secara akademik belum/ tidak pantas menjadi Profesor lantas tau-tau sudah Profesor? Saya pikir biarkanlah. Kecuali kita dalam posisi sebagai tim penilai yang menemukan kecurangan dalam pengajuan kredit, misalnya, karena disana terletak tanggung jawab profesional.

Saya sendiri menganggap bahwa orang berhak mengejar cita-cita dalam hidupnya. Kita juga mengejar cita-cita terbaik kita tanpa perlu mengganggu orang lain. Tentu saja tanpa curang, tanpa menyuruh/ membayar orang menulis karya ilmiah yang kita klaim sebagai karya kita, tanpa membuat jurnal rakitan, tanpa membuat sertifikat-sertifikat palsu, dsb

Atau saran saya sekali lagi ke dosen-dosen muda jika melihat fenomena tadi, lebih baik berkaca ke Profesor beneran yang berhasil menjadi Profesor di usia relatif muda, terukur melalui karya ilmiah dan memang mewarnai dunia ilmu pengetahuan. Sila baca di tulisan saya: Mari Menjadi Guru Besar.

Oh ya, nampaknya sistem juga berbenah terus kok, untuk memastikan  bahwa orang yang betul-betul berkualitaslah yang bisa jadi  Profesor di Indonesia. Kabarnya, mulai bulan Agustus 2013 ini syarat jadi Profesor harus menulis di jurnal internasional, sebelumnya hanya menulis di jurnal terakreditasi saja, mulai berlaku.

Kemudian, kewajiban khusus juga bertambah: mesti menulis buku, jurnal internasional dan menyebarkan gagasan yang dievaluasi selama 5 tahun. Jika tidak lolos evaluasi — katakanlah tidak menulis jurnal internasional — tunjangan kehormatan profesor bisa dicabut. Evaluasi pertama akan dilakasanakan pada 2018.

Jadi, selamat berkarya buat para Profesor 🙂

Iklan

3 comments

  1. cepat atau lambat itu relatif, yang jelas mesti bisa diukur dengan track record akademik dan publikasi yang memadai, juga tentu saja kinerja setelah jadi Profesor. Jadi Profesor itu proses “memulai”, bukan “akhir cita-cita”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s